Tak Perlu Ragu Membicarakan Masalah Intim saat Cek Kesehatan!

Ilustrasi: cek kesehatan (sumber: markijar.com) Ilustrasi: cek kesehatan (sumber: markijar.com)

Sangat penting untuk mengecek kesehatan setiap 6-12 tahun sekali untuk mengetahui risiko, pencegahan, dan pengobatan penyakit. Rata-rata orang akan melakukan medical check up di rumah sakit, karena RS merupakan salah satu tempat untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.[1] Kendati demikian, masih banyak pasien yang ragu menceritakan masalah intim saat cek kesehatan. Padahal, dari ceritanya, dokter akan mengetahui permasalahan dan solusi atas kondisi kesehatannya.

Tak hanya itu, bagi kebanyakan orang, berjalan ke rumah sakit atau kantor dokter klinik menjadi salah satu hal yang memberatkan dan tak sedikit yang cemas. Ada banyak jenis penyakit yang gejalanya tidak serius di awal, tetapi sangat membahayakan, seperti kanker.

Satu benjolan kecil mirip jerawat di payudara bisa jadi itu adalah gejala kanker payudara. Untuk itu, pasien harus melakukan pemeriksaan secara fisik yang kadang terasa tidak nyaman. Selain itu, dokter akan menanyakan permasalahan intim apa saja untuk mengetahui solusi yang tepat dalam mengatasinya. Ada beberapa masalah pribadi yang dibutuhkan dokter ketika meneliti penyakit pasien, seperti masalah seks, obat-obatan, dan kesehatan mental.

Baca juga:  Bujet Terbatas? Ini 5 Konsep Pernikahan Sederhana Tanpa Resepsi

Masalah Intim yang Didiskusikan Saat Cek Kesehatan

Seks

Dilansir dari Harvard Health Publishing, hampir sebagian besar orang yang membutuhkan medical check up pada fisiknya tidak memberikan riwayat seksual mereka secara sukarela. Bahkan, ibu hamil dan pasien dismenore parah enggan berdiskusi tentang permasalahan seks. Ini membuat para dokter agak pusing memikirkan apa yang harus mereka lakukan dalam menangani pasien.

Bagi Anda yang membutuhkan pertolongan cepat, terutama terkait penyakit dan gangguan reproduksi, sebaiknya tidak ragu menyampaikan pendapat Anda. Umumnya, dokter akan menanyakan ke semua pasien terkait riwayat seksual tanpa memandang usia, jenis kelamin, dan status perkawinan. Itu tidak hanya dilakukan dokter kandungan atau penyakit kulit dan kelamin, tetapi juga psikiater.

“Sebagai seorang psikiater, saya secara rutin mendiskusikan aktivitas seksual dengan pasien saya, karena perubahan suasana hati dan obat apa yang dapat mempengaruhi fungsi seksual,” kata Stephanie Collier dari McLean Hospital. “Misalnya, untuk obat antidepresan yang paling sering diresepkan, inhibitor reuptake serotonin selektif. Obat ini lebih cenderung menurunkan libido daripada mengobati depresi (obat mencapai remisi sekitar 30% pada pasien, tetapi menyebabkan disfungsi seksual pada 60% hingga 70%.”

Ilustrasi: cek kesehatan (sumber: romsons.in)

Ilustrasi: cek kesehatan (sumber: romsons.in)

Penggunaan Obat dan Zat Aditif

Topik rumit lainnya yang kerap dihindari pasien adalah penggunaan obat dan zat aditif, termasuk penggunaan narkoba. Kebanyakan orang mengerti bahwa merokok dan mengonsumsi alkohol berlebihan tidak baik untuk mereka dan ini bukan masalah pendidikan. Faktanya, pasien mungkin menghindari mengungkapkan penggunaannya karena mereka tidak ingin dokter mereka mendidik mereka supaya berubah dari kebiasaan buruk tersebut.

Baca juga:  Rekomendasi Vitamin dan Susu untuk Program Hamil

Orang yang menggunakan obat-obatan tertentu juga sering kali mengalami rasa malu sebagai salah satu emosi negatif terkuat yang bisa kita rasakan, dan sesuatu yang orang berusaha keras untuk hindari. Ingatlah, dokter berperan untuk mengingatkan, bukan menghakimi dan tidak menegur tanpa sebab. Percayalah dengan dokter Anda untuk membantu dokter menemukan solusi dalam mengatasi permasalahan kesehatan Anda.

Jangan ragu untuk menceritakan apakah Anda mengonsumsi obat-obatan tertentu, zat aditif tertentu, maupun kebiasaan minum alkohol dan merokok parah. Ini akan membantu dokter memilih jenis pengobatan yang tepat supaya zat yang masuk ke tubuh Anda tidak bereaksi dengan dengan obat atau zat lain, sehingga tidak menjadi racun.

Kesehatan Mental

Jangan berpikir, psikolog dan psikiater saja yang membutuhkan riwayat kesehatan mental. Hampir semua dokter membutuhkannya, bahkan dokter umum tidak akan segan menanyakan kabar dan kesehatan mental Anda saat proses pemeriksaan.

Baca juga:  Besarnya Biaya Pernikahan & Risiko Terjadinya Perceraian

Kebanyakan pasien, biasanya akan menutupi riwayat kesehatan mental mereka, karena merasa penyakit yang mereka derita tidak ada hubungannya dengan kesehatan mental. Padahal, suasana hati, kecemasan, dan depresi sangat berperan dalam peningkatan risiko penyakit.

Terkadang, suasana hati tertekan dan kecemasan akibat depresi, dapat dikaitkan dengan penyakit medis seperti penyakit jantung, paru-paru, dan tiroid. Tak hanya itu, beberapa gejala penyakit seperti tekanan darah tinggi dan darah rendah juga berkaitan dengan suasana hati serta pikiran.

[1] Santoso, Slamet Sudi & Andriyani. 2017. Analisis Pelaksanaan Medical Check Up (MCU) pada Pegawai Rumah Sakit Islam Jakarta Pondok Kopi Tahun 2016. Jurnal Kedokteran dan Kesehatan UMJ, Vol. 13(2): 171-182.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*