Tips Atasi Baby Blues, Postpartum Depression, dan Postpartum Anxiety

Ibu dan bayi (sumber: redbookmag.com) Ibu dan bayi (sumber: red

Ada banyak gangguan kejiwaan yang bisa dialami wanita setelah melahirkan, di antaranya baby blues, postpartum, depresion, dan postpartum anxiety. Dari ketiga gangguan tersebut, yang paling umum adalah postpartum anxiety, tetapi tak jarang orang menganggapnya sebagai baby blues atau postpartum depression, karena gejalanya hampir mirip. Hal ini juga membuat orang kesulitan untuk menemukan cara yang tepat dalam mengatasinya. Untuk itu, pastikan Anda mengetahui perbedaan gejalanya untuk mengetahui cara mengatasinya.

Gejala Baby Blues, Postpartum Depression, dan Postpartum Anxiety

Sebelum membahas mengenai gangguan postpartum, Anda harus mengetahui apa itu postpartum. Postpartum merupakan periode waktu atau masa ketika organ reproduksi wanita kembali pada keadaan tidak hamil setelah melahirkan, yang membutuhkan waktu sekitar enam minggu. Masa ini dibagi menjadi tiga periode, yakni puerperium dini, intermedial purpureum, dan remote purpureum. Pada periode postpartum, para ibu akan mengalami perubahan baik secara fisiologis maupun psikologis.[1]

Perubahan yang terjadi pada wanita saat postpartum ini yang menyebabkan munculnya gangguan emosi seperti baby blues, depresi pascapersalinan (postpartum depression), dan kecemasan pascapersalinan (postpartum anxiety). Semua ini adalah gangguan kejiwaan yang umum dan bisa diatasi jika Anda mengetahui gejalanya.

Baca juga:  Menjadi Penjilat? Bisa Jadi itu Bentuk People Pleaser Trauma

Dilansir dari Harvard Health Publishing, baby blues adalah reaksi yang sangat umum terhadap penurunan kadar hormon setelah melahirkan dan bisa membuat ibu merasa sedih, menangis, dan mudah lelah. Gejala gangguan setelah melahirkan ini terbilang ringan dan hanya berlangsung selama beberapa minggu. Namun, jika tidak segera hilang dan menetap, gangguan ini akan berkembang menjadi postpartum depression atau postpartum anxiety.

Ibu dan bayi (unsplash: Hollie Santos)

Ibu dan bayi (unsplash: Hollie Santos)

Masih dari sumber yang sama, wanita dengan depresi postpartum umumnya mengalami gejala kecemasan, meskipun tidak semua ibu dengan kecemasan akan mengalami depresi. Gejala gangguan ini adalah sulit tidur, tidak bisa bersantai, dan mudah marah. Sekilas, gejalanya mirip dengan postpartum anxiety. Jadi, penting bagi dokter untuk menetapkan diagnosis yang tepat apakah pasien mengidap postpartum depression atau anxiety. Hal ini karena, wanita dengan kecemasan pascapersalinan mungkin tidak merespon dengan baik pengobatan tertentu untuk depresi, seperti psikoterapi interpersonal atau obat-obatan seperti bupropion.

Mirip dengan depresi pascapersalinan, kecemasan pascapersalinan dapat melonjak karena perubahan hormonal pada periode postpartum. Selain itu, kecemasan bisa meningkat sebagai respon terhadap stres setelah melahirkan yang biasanya disebabkan masalah kesehatan bayi, keuangan, riwayat keguguran, dan riwayat anxiety disorder. Jika Anda memiliki riwayat kecemasan sebelum atau selama kehamilan, gejala kecemasan pascapersalinan juga dapat kembali setelah melahirkan. Kecemasan dan kesedihan sebagai gejalanya biasanya muncul setelah disapih dari menyusui karena perubahan hormonal.

Baca juga:  Manfaat Produk Sariayu Putih Langsat Krem Penghalus Wajah & Varian Lainnya

Gangguan setelah melahirkan tidak bisa dibiarkan begitu saja. Anda bisa mengalami serangan panik atau gejala gangguan obsesif-kompulsif (OCD) pada periode postpartum akibat gangguan seperti baby blues, postpartum depression, dan postpartum anxiety tidak segera diatasi. Berbeda dengan tiga gangguan kejiwaan tersebut, OCD memiliki gejala yang lebih parah, seperti jantung yang berdebar, sesak napas, pusing, emosional, dan negatif thinking berlebihan. Lalu, bagaimana cara mengatasi gangguan postpartum di atas?

Tips Atasi Gangguan Postpartum

Ilustrasi: ibu menyusui (sumber: healthline.com)

Ilustrasi: ibu menyusui (sumber: healthline.com)

  • Terapi perilaku kognitif (CBT) adalah perawatan yang sangat baik untuk gangguan postpartum, termasuk postpartum anxiety dan OCD. Bagi beberapa wanita, obat-obatan dapat membantu dan lebih efektif bila dikombinasikan dengan terapi. Selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI) umumnya merupakan obat lini pertama untuk gangguan kecemasan, sedangkan benzodiazepin adalah obat anti-kecemasan yang bekerja cepat yang sering digunakan sambil menunggu SSRI bekerja.
  • Menyusui memberikan banyak manfaat bagi bayi, termasuk nutrisi yang sempurna, membantu membangun sistem kekebalan bayi, dapat membantu mencegah obesitas saat dewasa, dan memberikan kenyamanan dan keamanan. Menyusui juga memberikan manfaat bagi ibu, antara lain melepaskan prolaktin dan oksitosin (hormon cinta dan pelukan), yang membantu ikatan ibu dengan bayinya dan memberikan rasa relaksasi, sehingga gejala gangguan postpartum dapat sedikit teratasi.
  • Cobalah untuk memaksimalkan tidur meskipun bayi membuat Anda terbangun di malam hari. Tidur adalah hal yang paling penting dengan durasi minimal tiga hingga empat jam setiap hari. Ini akan membuat sebagian saraf dan tubuh Anda berhenti bekerja, sehingga Anda tubuh Anda akan selalu fresh. Diketahui, kebanyakan wanita dengan riwayat gangguan postpartum memiliki kondisi fisik yang lesu.
Baca juga:  Benarkah Operasi Plastik Bisa Membantu Seseorang Berhenti Merokok?

Lakukan cara di atas untuk mengatasi gejala gangguan postpartum yang Anda alami. Selain itu, Anda bisa meminta bantuan kepada keluarga dan pasangan untuk merawat bayi, sehingga Anda tidak terlalu kerepotan dan merasa stres atau cemas berlebihan.

[1] Kirana, Yuke. 2015. Hubungan Tingkat Kecemasan Post Partum dengan Kejadian Post Partum Blues di Rumah Sakit Dustira Cimahi. Jurnal Ilmu Keperawatan AKPER Dustira Cimahi, Vol. 3(1): 25-37.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*