Mengapa Rivanol Dilarang untuk Membersihkan Luka?
Antiseptik adalah senyawa kimia yang digunakan untuk membunuh atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme pada jaringan hidup seperti permukaan kulit.[1] Salah satu produk antiseptik yang dapat ditemukan di apotek adalah rivanol. Meski kandungannya dapat menghambat kuman, rupanya rivanol dilarang dipakai langsung untuk membersihkan luka. Mengapa demikian?
Proses Penyembuhan Luka
Luka dapat terjadi akibat adanya trauma, luka lecet, luka robek, ataupun karena infeksi sekunder. Proses penyembuhan luka diawali dengan proses inflamasi atau peradangan. Pada tahap ini, trombosit menggumpal di area luka untuk menghentikan perdarahan. Setelah itu, pembuluh darah akan melebar untuk mengalirkan darah ke daerah yang terluka, sehingga akan terasa hangat, bengkak, dan kemerahan.
Setelah bengkak, Anda mungkin akan mengalami proses pembentukan jaringan parut. Selama prosesnya, produksi kolagen di area luka akan meningkat. Keberadaan kolagen mendorong tepi luka untuk menyusut dan menutup. Selanjutnya, pembuluh darah kecil atau kapiler terbentuk pada luka untuk memberi asupan darah pada kulit yang baru terbentuk.
Tahap terakhir merupakan tahap penguatan. Pada tahap ini, luka sudah tertutup tapi proses penyembuhan masih berlanjut. Di dalamnya terjadi penguatan jaringan sehingga seringkali luka terasa gatal, meregang, atau mengerut. Proses pematangan jaringan bisa memakan waktu berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Inilah alasan mengapa semakin lama usia bekas luka, semakin memudar pula tampilannya.
Pada kondisi tertentu, ada beberapa hal yang menyebabkan luka sulit pulih, di antaranya aliran darah tidak lancar dan infeksi. Infeksi dapat menyebabkan luka semakin lebar atau membesar, sehingga membutuhkan waktu lebih lama untuk sembuh. Infeksi ini dapat terjadi bila luka tidak dirawat dengan baik.
Kegunaan Rivanol
Rivanol merupakan cairan yang berfungsi sebagai antiseptik dan mengandung komposisi aktif Ethacridine lactate. Produk ini memiliki berbagai kegunaan, baik di dalam maupun di luar pengaturan medis. Di kedua pengaturan, rivanol diterapkan pada kulit atau selaput lendir.
Rivanol sering digunakan di rumah sakit dan lembaga medis lainnya, khususnya saat operasi. Para ahli bedah umumnya menggosok tangan, lengan mereka, bahkan meja operasi dengan rivanol. Hal ini dilakukan untuk mengurangi risiko infeksi selama operasi dan prosedur medis lainnya. Tak hanya itu, rivanol dapat diterapkan pada uretra, kandung kemih, atau vagina untuk membersihkan area tersebut sebelum memasukkan kateter.
Di rumah, rivanol sering digunakan untuk mengompres bengkak pada luka. Bengkak terjadi karena infeksi, ciri-cirinya kulit sekitar luka berwarna merah, terasa hangat, dan muncul nanah. Meski begitu, sebaiknya Anda tidak menggunakan antiseptik atau rivanol lebih dari seminggu. Pasalnya, luka bisa saja lebih lama sembuh karena adanya kandungan alkohol dalam produk tersebut.
Kesalahan Penggunaan Rivanol
Sebelum diobati, luka memang harus dibersihkan terlebih dahulu. Luka sebaiknya dibersihkan menggunakan air steril atau bisa dengan air bersih di rumah selama 30 sampai 40 menit. Anda tidak disarankan langsung membersihkan luka menggunakan antiseptik seperti rivanol, apalagi untuk luka gigitan hewan.
Menurut Spesialis Bedah Plastik Rumah Sakit Umum Bunda Jakarta, dr. Vera Ikasari, SpBP, antiseptik atau Povidone-iodine memiliki sifat mengiritasi luka. Artinya, bila itu tetap dilakukan, dapat merusak jaringan dan membuat luka lebih lama sembuh, bahkan sangat susah untuk disembuhkan. “Kalau luka gores atau lecet, bolehlah. Tapi, kalau lukanya lebih dalam, tidak boleh pakai antiseptik,” tegas dr. Vera, dilansir Liputan 6.
Selain itu, cara mengompres luka terbuka juga tidak boleh sembarangan. Sesuai instruksi pemakaiannya, rivanol hanya boleh dituang secukupnya pada kapas atau kasa untuk mengompres luka, termasuk luka bernanah. Perlu diingat, mengompres luka menggunakan kasa steril hanya untuk pertolongan pertama.
Harga Rivanol
Di apotek, produk rivanol hadir dalam berbagai merk dengan harga bervariasi. Rivanol merk OneMed misalnya, sekarang dijual dengan harga mulai Rp4 ribuan per botol kemasan 100 ml, sedangkan untuk kemasan 300 ml, ditawarkan seharga Rp10 ribuan. Sementara itu, merk lain seperti Seino Rivanol 285 ml ditawarkan dengan harga mulai Rp13 ribuan per botol. Perlu diingat, harga tersebut bisa berbeda-beda di setiap tempat, tergantung lokasi pembelian.
Anda tidak disarankan memakai rivanol melebihi dosis yang telah ditentukan. Bahaya penggunaan atau efek samping yang dapat muncul pada penggunaan rivanol berlebihan, di antaranya gatal-gatal, edema, dan juga ruam. Jika luka cukup serius, Anda dianjurkan untuk segera bergegas ke rumah sakit terdekat. Luka infeksi perlu mendapatkan penanganan yang tepat, sehingga dokter dapat memberikan salep atau obat minum sesuai keadaan luka Anda.
[1] Kurniawati, Darini. 2022. Pengembangan Produk Sabun Cair Herbal Antiseptik. Jakarta: Penerbit NEM, hlm. 4.


Leave a comment