Calon Mama Wajib Tahu, Ini Efek Samping Pengawet Sulfit untuk Ibu Hamil

Ilustrasi: ibu hamil mengonsumsi produk makanan (sumber: nine.com) Ilustrasi: ibu hamil mengonsumsi produk makanan (sumber: nine.com)

Selama hamil, para wanita sudah seharusnya menjaga kesehatan dan memperhatikan apa yang ia konsumsi. Beberapa produk makanan atau makanan yang dikonsumsi mungkin mengandung bahan pengawet kimia seperti sulfit. Namun, adakah efek samping yang berbahaya dari konsumsi produk yang mengandung pengawet sulfit untuk ibu hamil?

Tentang Pengawet Makanan

Pengawet makanan digunakan oleh produsen makanan agar produksi produk mereka dapat bertahan lama dan tidak mudah busuk. Pengawet makanan juga dapat meningkatkan kualitas produk makanan tersebut. Karena, pengawet makanan mencegah pertumbuhan mikroorganisme pembusuk, sehingga dapat memperpanjang masa simpan.

Tidak semua pengawet aman digunakan, banyak bahan pengawet yang membahayakan tubuh, karena dapat menyebabkan gangguan kesehatan jangka pendek seperti infeksi saluran pernapasan dan diare ataupun gangguan kesehatan jangka panjang macam kerusakan jantung dan ginjal. Cara aman dan sehat untuk mengawetkan makanan secara alami dengan bahan pengawet yang alami seperti garam dan gula. Tentunya ini membuat pola hidup sehat tidak terganggu.

Bahan pengawet makanan dapat digolongkan menjadi dua jenis, pertama, pengawet sintetis merupakan hasil sintesis secara kimia, tetapi mempunyai sifat lebih stabil, pekat, dan lebih sedikit penggunaannya. Kelemahannya, pengawet sintetis ditengarai memiliki efek samping yang bisa menimbulkan efek negatif bagi kesehatan, seperti memicu pertumbuhan sel kanker akibat adanya senyawa karsinogenik. Contoh pengawet sintetis antara lain natrium benzoat, kalium sulfit, dan nitrit.

Baca juga:  Hal yang Perlu Diwaspadai Seputar Efek Samping Filler Kantung Mata

Kedua, pengawet alami jauh lebih baik karena dampak buruknya terhadap kesehatan lebih kecil, dibandingkan dengan pengawet sintetis. Pengawet alami mudah diperoleh dari bahan makanan segar seperti bawang putih, gula, garam, dan asam. Selain itu, ada juga jenis pengawet alternatif yang diperoleh dari bahan pangan alami seperti bawang putih, garam dapur, gula pasir, asam jawa, dan kluwak.[1]

Metode pengawetan makanan yang alami ataupun sintetis akan memengaruhi kualitas gizi yang terkandung dalam bahan makanan, terutama vitamin dan mineral, karena termasuk zat gizi yang mudah rusak jika diawetkan dalam waktu lama. Oleh sebab itu, sebagian besar pengawet makanan sintetis membahayakan tubuh, tetapi tidak untuk pengawet makanan alami.[2]

Serbuk sulfit (sumber: level7chemical.com)

Serbuk sulfit (sumber: level7chemical.com)

Apa Itu Pengawet Sulfit?

Dilansir dari Hellosehat, sulfit adalah bahan pengawet kimia yang biasa digunakan dalam produk makanan dan minuman kemasan, seperti anggur dan bir. Pengawet ini ditambahkan pada produk olahan supaya bisa disimpan lebih lama. Bahkan, beberapa obat juga menggunakan sulfit supaya warnanya tidak cepat memudar.

Baca juga:  Manfaat Jeruk Nipis untuk Jerawat dan Cara Menggunakannya

Dulunya, sulfit juga dipakai dalam buah dan sayuran segar. Tetapi, karena terjadi beberapa kasus alergi parah akibat sulfit menyebabkan bahan pengawet satu ini dilarang digunakan pada buah dan sayuran segar. Walau demikian, sulfit sampai sekarang masih terus digunakan untuk mengawetkan bahan makanan lain, seperti kentang, udang, dan juga kismis.

Selain itu, pengawet sulfit juga kerap digunakan pada makanan yang difermentasi, seperti keju parmesan, jamur, sari buah apel, buah zaitun, minuman kemasan, sosis, burger, saus tomat olahan, hingga buah-buahan kering. Sedangkan, buah, sayuran segar, daging, ikan, produk susu, dan jenis makanan segar lainnya biasanya dianggap bebas sulfit.

Efek Samping Pengawet Sulfit untuk Ibu Hamil

Menurut dr Nadia NurotulFuadah dari Alodokter, selama dikonsumsi dalam batas yang wajar sebenarnya pengawet sulfit tidak berbahaya bagi ibu hamil. “Hanya saja, beberapa orang yang sensitif bisa mengalami alergi terhadap pengawet ini, sehingga bila dikonsumsi berlebihan, bisa membuat kulit menjadi gatal-gatal, bengkak, kemerahan, bruntusan, sesak napas, mual, dan muncul banyak lagi keluhan lainnya,” kata dr. Nadia.

Baca juga:  Tips Menjaga Kesehatan Di Usia 20 & 30-an

Sensitivitas berlebih terhadap pengawet sulfit juga dapat memicu diare, muntah-muntah, dan kekambuhan asma. “Jika kondisi seperti ini terjadi saat hamil, tentu janin dalam kandungan Anda bisa turut kekurangan oksigen, dan perkembangannya bisa terganggu. Beberapa penelitian yang dilakukan pada mencit pun, membuktikan bahwa konsumsi pengawet sulfit berlebihan selama hamil berisiko menyebabkan cacat janin (teratogen), meski belum ada uji klinis yang cukup terkait efeknya pada manusia,” imbuhnya.

Oleh sebab itu, dr Nadia menyarankan para ibu hamil untuk membatasi asupan makanan atau minuman dengan pengawet sulfit atau berbagai turunannya, seperti sulfur dioksida, natrium sulfit, natrium bisulfit, kalium bisulfit, kalium metabisulfit, dan juga natrium metabisulfit.

[1]Ariani, RP. 2018. Preservasi Makanan Lokal. Depok: Rajawali Pers, hlm 14.

[2]Ibid., hlm 16.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*