Antara Air dan Susu, Mana yang Paling Baik untuk Dehidrasi?
Setelah berolahraga, sebagian besar orang akan merasa dehidrasi. Untuk mengatasinya, ada banyak pilihan asupan, mulai dari air isotonik, minuman berenergi, air mineral, hingga susu. Nah dari semua jenis minuman ini, beberapa orang lebih memilih minum air mineral atau susu. Namun, di antara air mineral dan susu, mana yang lebih baik untuk atasi dehidrasi?
Susu Diklaim Menghidrasi Lebih Baik Daripada Air
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa susu lebih baik daripada air, tetapi buktinya lemah. Secara komposisi, susu diklaim lebih lengkap dibandingkan air mineral. Dalam secangkir susu, mengandung protein, mineral, dan lemak.[1] Sementara air mineral, hanya mengandung ion dan mineral.
Berdasarkan komposisinya, dilansir dari Harvard Health Publishing, sebuah studi tahun 2007 mendaftarkan 11 sukarelawan (lima pria, enam wanita) yang berolahraga sampai mereka mengalami dehidrasi parah. Setiap orang diberi minuman yang berbeda, dan urine mereka diukur selama lima jam berikutnya.
Setelah minum susu, para relawan studi menghasilkan lebih sedikit urine, karena jumlah susu yang diminum bisa disimpan tubuh dengan optimal dan lebih banyak dibandingkan air mineral dan minuman isotonik. Oleh karena itu, susu dianggap memberikan hidrasi yang lebih baik.
Ada juga penelitian di tahun 2016 dengan peserta 72 pria sehat dan terhidrasi dengan baik yang meminum berbagai cairan. Para peserta ini juga diukur produksi urinenya setelah empat jam berikutnya.
Minuman yang digunakan dalam penelitian ini adalah air, susu murni, susu skim, bir, Dioralyte (larutan rehidrasi oral yang digunakan setelah kehilangan cairan akibat diare), teh, kopi, diet cola, cola biasa, jus jeruk, dan Powerade. Para peneliti menemukan bahwa retensi cairan paling baik setelah minum susu atau larutan rehidrasi oral. Sementara hasil untuk minuman lain mirip dengan air.
Kedengarannya seperti susu adalah pemenangnya, bukan? Mungkin. Namun, ada hal lain yang perlu dipertimbangkan. Temuan dari studi ini tidak pasti. Seperti semua penelitian, ada batasan penting yang harus diperhatikan.
Kehebatan Susu dalam Menghidrasi Masih Dipertanyakan
- Peserta setiap penelitian terlalu sedikit dan ini bisa menjadi celah, bahwa tidak semua orang di dunia mendapatkan hasil yang sama. Ini memerlukan bukti lebih lanjut.
- Penelitian tahun 2007 melibatkan dehidrasi yang signifikan dengan berolahraga secara intens di lingkungan yang hangat, yang menyebabkan hilangnya beberapa kilogram cairan. Oleh karena itu, hasilnya mungkin tidak berlaku untuk orang yang melakukan aktivitas atau olahraga sehari-hari yang lebih umum.
- Selain itu, penelitian tahun 2007 dan 2016 menyamakan hidrasi yang lebih baik dengan produksi urine yang lebih sedikit dalam beberapa jam setelah minum berbagai cairan. Ini hanya salah satu cara untuk mendefinisikan hidrasi, dan bukan yang terbaik.
- Keuntungan susu yang dilaporkan dalam penelitian ini mungkin terlalu kecil atau terlalu sementara untuk menjadi masalah. Misalnya, dalam penelitian terhadap 72 orang di tahun 2016, peminum susu menghasilkan sekitar 37 ons urine selama empat jam, sedangkan peminum air menghasilkan 47 ons. Apakah perbedaan 10 ons memiliki dampak kesehatan yang berarti? Jika peserta studi dipantau lebih lama, apakah perbedaan ini akan hilang?
Banyak Klaim Susu Lebih Baik daripada Air
Meskipun memiliki banyak celah dan masih sedikit penelitian yang membuktikan, banyak klaim bahwa susu menghidrasi tubuh lebih baik daripada air mineral. Apalagi sudah banyak papan reklame dan iklan di TV yang membuat banyak orang percaya bahwa susu yang terbaik. Meskipun begitu, banyak juga orang yang masih memilih air mineral daripada susu.
Menimbulkan banyak tanya, secara medis, entah susu atau air mineral, keduanya baik untuk menghidrasi tubuh. Bukan masalah mau pilih yang mana, tetapi bagaimana cara terbaik untuk mengatasi dehidrasi tersebut.
Faktanya adalah, minum saat haus adalah strategi yang tepat bagi sebagian besar orang untuk menghidrasi tubuh. Anda mungkin juga tidak membutuhkan cairan setiap saat atau memantau asupan cairan harian dengan cermat agar tetap sehat. Terlepas dari klaim iklan susu dan studi meragukan yang membenarkannya, gagasan mengganti air dengan susu untuk rehidrasi mungkin tidak meyakinkan semua orang, karena rasa, konsistensi, dan kalori ekstra susu juga perlu dipertimbangkan.
[1] Sigit, Miarsono, dkk. 2021. Perbandingan Kadar Lemak, Protein dan Bahan Kering tanpa Lemak (BKTL) pada Susu Sapi Segar di Kota Kediri dan Kabupaten Kediri. Jurnal Universitas Wijaya Kusuma Surabaya, Vol. 6(1): 31-35.

Leave a comment