Ini Kalimat Toxic yang Bikin Hubungan Terancam Red Flag
Memulai sebuah hubungan tidaklah mudah, begitu pun dengan mempertahankannya. Kendati demikian, banyak pasangan yang putus di tengah jalan dan saling mengibarkan red flag karena hal yang sepele. Salah satunya tanpa sadar mengucapkan kalimat yang toxic. Mungkin ini terdengar biasa bagi yang mengucapkan, tetapi tidak bagi yang mendengarnya, terutama mereka yang sangat sensitif.
Kalimat Toxic Menyebabkan Red Flag
Merasa nyaman dengan pasangan mungkin akan membuat beberapa orang merasa mudah untuk berbicara tanpa berpikir. Awalnya, kebiasaan seperti ini tidak terlalu dipermasalahkan, tetapi jika diteruskan bisa membuat hubungan menjadi renggang. Mengatakan hal-hal yang ternyata toxic, terkadang juga bisa berisiko pertengkaran besar dan berakhir red flag.
Dilansir dari Kompas, istilah red flag atau bendera merah menandakan alasan untuk berhenti. Seorang psikolog klinis spesialis hubungan, Dr. Wendy Walsh, PhD, menjelaskan, dalam sebuah hubungan, red flag merupakan tanda bahwa pasangan tersebut memiliki hubungan yang tidak sehat atau terjebak dalam toxic relationship. Ini akan membuat hubungan mereka berbahaya secara emosional dan berakhir putus. Diketahui, salah satu pemicu red flag paling sering adalah mengatakan hal yang toxic tanpa disadari kepada pasangan.
Dilansir dari HuffPost, mungkin secara tidak sadar, Anda mengatakan sesuatu yang biasa, tetapi pasangan Anda malah menanggapinya dengan emosi. Nah, ini perlu dipertanyakan, apakah hal yang Anda ucapkan termasuk ke dalam kategori toxic phrase atau bukan. Hal ini sangat penting, karena setiap orang memiliki tingkat sensitivitas yang berbeda untuk menanggapi sebuah kalimat.
Seorang terapis pernikahan dan keluarga di Arkansas, Becky Whetstone, mengatakan, setiap pasangan sangat ingin memiliki cara berkomunikasi dengan baik, tetapi tidak semua orang mampu menyusun kata dengan baik. Selain itu, setiap orang memiliki kemampuan menerima informasi yang berbeda jika kata-kata yang diucapkan kurang tepat. Misalnya, mereka pikir mereka telah mengatakan X, tetapi pasangannya malah berpikir bahwa dirinya mendengar Y. Selain itu, tanpa disadari, susunan kata dan frasa yang kurang tepat bisa disalahartikan sebagai omongan yang toxic.
Contoh Kalimat Toxic
Kalimat, seperti ‘ini bukan masalah besar’ atau ‘kamu pasti bisa mengatasinya,’ mungkin maksudnya baik dan Anda pasti sudah sering mendengarkannya. Namun, seorang terapis pernikahan dan keluarga di Miami, Amanda Baquero, menjelaskan, kalimat seperti itu tidak cocok jika diucapkan kepada seseorang yang sedang menghadapi situasi penuh emosi. Hal ini dinilai konyol, karena bersifat toxic positivity.
Toxic positivity adalah sebuah ketidakefektifan atas penyamarataan yang berlebihan dari keadaan bahagia dan optimistis dalam sebuah hubungan, dengan tujuan untuk menyangkal dan meniadakan penderitaan serta emosi seseorang.[1] Inilah yang membuat bendera red flag terancam dikibarkan dalam sebuah hubungan. Tak hanya itu, melakukan toxic positivity terhadap pasangan sendiri berarti Anda memaksa pasangan Anda untuk meniadakan emosinya dalam menyikapi hal yang negatif.
Jika Anda ingin mendukung pasangan Anda dan ingin membuat mereka lebih semangat, Anda perlu memahami perasaan mereka terlebih dahulu. Selain itu, ganti kalimat yang bersifat toxic tersebut dengan ‘kedengarannya itu sulit’ atau menawarkan bantuan, seperti ‘ayo kita atasi masalah ini bersama.’
Selain itu, jangan menyamakan pasangan Anda dengan siapa pun, termasuk saudara dan orang tuanya. Contoh kalimat yang umum diucapkan seseorang pada pasangannya adalah ‘’kamu mirip ayahmu’ atau ‘kamu secantik ibumu.’ Mungkin ini dimaksudkan untuk memuji, tetapi bagaimana jika itu terdengar seperti cemooh?
Tidak semua orang mendapatkan keluarga yang sempurna dan Anda pastinya harus mempertimbangkan hal itu sebelum mengucapkannya pada pasangan Anda. Selain itu, tidak semua orang suka dipuji dengan cara menyamakan mereka dengan orang lain. Terkadang, pasangan Anda ingin terlihat paling berbeda dan memiliki ciri khas di mata Anda. Hal ini membuat mereka berpikir bahwa Anda adalah orang spesial yang paling mengenal dirinya. Menyamakan pasangan Anda dengan orang lain hanya akan membuat pasangan Anda berpikir bahwa Anda tidak mengenalnya dengan baik.
Nah, sebagai gantinya, jika Anda ingin memuji pasangan Anda, carilah sesuatu yang berbeda dan hanya dimilikinya. Sebagai contoh, katakan, ‘masakanmu memang yang terbaik.’ Selain itu, cobalah untuk mengucapkan kalimat sesuai dengan intonasi dan nadanya. Kalimat yang memiliki sifat positif bisa berarti sindiran jika pengucapannya tidak jelas. Sementara itu, kalimat yang bersifat negatif, bisa disalahartikan sebagai bahan bercandaan, dan hal seperti ini terkadang bisa mempermainkan emosi seseorang.
[1] Jati, Paula, dkk. 2021. Pemahaman Generasi Z Mengenai Pengaruh Toxic Positivity Terhadap Hubungan Sosial Individu. Jurnal Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Vol. 1(1): 1-17.


Leave a comment