Pembalut di Amerika Ternyata Dianggap Barang Mewah, Kenapa?

Pembalut wanita (sumber: stlukeshealth.org) Pembalut wanita (sumber: stlukeshealth.org)

Menstruasi adalah proses alamiah yang terjadi pada perempuan dengan siklus normal setiap 22-35 hari dengan lama 2-7 hari.[1] Saat haid, sangat penting bagi wanita untuk menjaga kebersihan organ intim dan menggunakan produk saniter menstruasi yang tepat. Sayangnya, tidak semua kalangan mampu membeli produk saniter haid yang dibutuhkan. Bahkan, beberapa orang menganggapnya sebagai barang mewah, khususnya di AS (Amerika Serikat.

Alasan Saniter Menstruasi Dianggap Barang Mewah

Di Indonesia, mungkin saniter menstruasi dianggap sebagai kebutuhan wanita yang memiliki nilai jual murah. Hampir semua kalangan bisa membelinya, apalagi dalam Tribunnews sudah disebutkan ada pembalut yang harganya sekitar Rp30 ribu per pack dan ini bisa dipakai untuk stok selama sebulan. Namun, ternyata masih ada negara yang menganggap produk saniter menstruasi seperti pembalut adalah barang mewah dan salah satunya di AS.

Dilaporkan dalam Harvard Health Publishing, hampir 22 juta wanita di AS tidak mampu membeli produk saniter menstruasi karena masalah ekonomi atau kemiskinan. Sebuah penelitian di Obstetrics & Gynecology menunjukkan, sekitar 64% wanita pernah kesulitan membeli produk kebersihan menstruasi seperti pembalut. Selain itu, tampon dan cup menstruasi juga tidak bisa mereka beli.

Baca juga:  Jangan Langsung Dibuang, Kulit Semangka Punya Banyak Manfaat

Dilaporkan pula, ada 21% wanita tidak bisa membeli produk saniter menstruasi setiap bulan. Mereka yang berisiko tinggi tidak mampu membeli produk kebersihan menstruasi umumnya adalah tunawisma atau narapidana yang baru lepas dari sel.

Menstruasi adalah fakta dasar mengenai wanita. Produk kebersihan menstruasi sejatinya adalah kebutuhan dan bukan kemewahan. Sayangnya, kupon makan dan subsidi yang diberikan WIC (women, infants, and children) di AS untuk membantu kondisi perekonomian masyarakat yang tidak mampu, tidak mencakup produk menstruasi.

Ada pasien yang memberi tahu seorang dokter bernama Huma Farid bahwa dirinya menggunakan kertas toilet atau handuk kertas sebagai produk saniter menstruasi karena tidak mampu membeli produk saniter menstruasi seperti tampon. Padahal, wanita yang sedang mengalami periode menstruasi berat sangat membutuhkan produk kebersihan menstruasi.

Pembalut wanita (sumber: dawn.com)
Pembalut wanita (sumber: dawn.com)

Membeli pembalut menjadi tantangan sendiri bagi sebagian warga kurang mampu di AS, sehingga menjadikan handuk dan kertas tisu sebagai alternatifnya. Mungkin, jika itu dipakai sekali atau dua kali, tidak menyebabkan gangguan kesehatan. Namun, bagi orang yang memiliki periode haid berat dan harus menggunakan produk dalam jangka waktu lama serta menggantinya berulang kali, bisa berisiko iritasi vulva dan nyeri pada vagina. Mereka juga mungkin berisiko lebih besar untuk mengalami toxic shock syndrome, yakni infeksi genital yang mengancam jiwa.

Baca juga:  Fenomena Baju Kaftan, Apakah Masih Jadi Tren?

Tips Agar Wanita Bisa Membeli Produk Saniter Menstruasi

Untuk menjaga kesehatan alat reproduksi, memang diperlukan pengorbanan ekstra. Beberapa orang di AS yang tidak bisa membeli produk menstruasi dari kupon WIC mencoba untuk mendapatkan sumber anggaran lainnya. Selain itu, beberapa wanita menabung selama beberapa hari untuk membeli saniter haid sebelum periodenya tiba. Inilah pentingnya mengetahui masa periode menstruasi.

Tips lainnya adalah menghilangkan pajak atas produk-produk menstruasi dan ini bisa dilakukan pemerintah atau produsen produk saniter haid. Sebaiknya, negara menganggap produk kebersihan menstruasi sama seperti makanan yang dibutuhkan setiap orang, sehingga tidak dikenai pajak.

Sudah banyak negara yang menghilangkan pajak saniter menstruasi dan salah satunya adalah Inggris. Dilansir dari Kompas, Inggris adalah salah satu negara yang menghapus pajak tampon sebagai produk sanitasi wanita. Langkah ini dipuji secara luas oleh para pendukung hak-hak perempuan bersamaan dengan keluarnya Inggris dari Uni Eropa.

Baca juga:  Review dan Cara Memakai Kondisioner Pantene Tanpa Bilas

Mantan Menteri Keuangan Rishi Sunak berkomitmen untuk mengakhiri pajak pada tampon, disusul pembalut dalam anggarannya mulai berlaku setelah Inggris meninggalkan orbit ekonomi Uni Eropa.

“Produk saniter itu penting, jadi sudah sewajarnya kami tidak mengenakan PPN,” kata Sunak. “Kami telah meluncurkan produk saniter gratis di sekolah, perguruan tinggi, dan rumah sakit dan komitmen ini membawa kami selangkah lebih dekat untuk membuatnya tersedia dan terjangkau bagi semua wanita.” Sebelumnya, berdasarkan Undang-Undang Uni Eropa, pembalut dianggap sebagai barang mewah dan pembeli harus membayar pajak pertambahan nilai (PPN). Negara anggota Uni Eropa tidak bisa menurunkan tarif PPN pada produk menstruasi di bawah 5% karena dianggap sebagai barang mewah.


[1] Amalia, Putri & Yola Amrullah. 2019. Tingkat Pengetahuan Remaja Putri tentang Menstruasi. Jurnal Kebidanan STIKes Prima Indonesia, Col. 5(3): 287-291.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*