Sederet Tes Bakat yang Dapat Digunakan untuk Anak Berkebutuhan Khusus

Anak berkebutuhan khusus (sumber: healthshots.com) Anak berkebutuhan khusus (sumber: healthshots.com)

Mengetahui bakat dan minat pada anak yang normal pada dasarnya bukanlah hal yang sulit, karena sudah tersedia banyak alat tes di luar sana untuk mengukurnya. Lantas, bagaimana dengan ABK atau anak berkebutuhan khusus? Secara umum, jenis asesmen atau pengukuran untuk mengetahui bakat dan minat pada anak berkebutuhan khusus ada dua, yakni asesmen dengan teknik non tes dan asesmen teknik tes. Berikut uraiannya.

Asesmen Bakat untuk Anak Berkebutuhan Khusus

Asesmen Teknik Non-Tes

Berbagai bentuk asesmen teknik non-tes yang selama ini sering digunakan antara lain, pedoman wawancara, pedoman observasi, angket, Daftar Cek Masalah (DCM), sosiometri, Alat Ungkap Masalah Umum (AUM-U), Alat Ungkap Masalah Belajar (AUM-PTSDL, Inventori Tugas Perkembangan (ITP), dan lain sebagainya.[1]

Umumnya, assessment dengan pendekatan kualitatif seperti wawancara dan observasi lebih banyak digunakan oleh para konselor di sekolah inklusi karena beberapa anak yang mengalami ADHD, autisme, dan semacamnya sulit untuk fokus mengerjakan suatu hal, terlebih jika mereka harus menjalani tes bakat & minat layaknya anak normal. Dengan pendekatan wawancara dan observasi, guru atau konselor biasanya dapat mengetahui seperti apa kebiasaan anak, bakat maupun minat anak berkebutuhan khusus, baik dari orang tuanya maupun dari pengamatan langsung di lapangan.

Baca juga:  Kalimat Toxic yang Tidak Boleh Diucapkan kepada Anak

Snijders-Oomen Non Verbal Intelligence Scale (SON)

Meskipun pada kondisi tertentu memang sulit untuk melaksanakan tes bakat pada ABK, tetap ada beberapa tes yang mungkin dapat diterapkan pada ABK tertentu, misalnya saja SON-tests. SON diciptakan sebagai tes intelegensi untuk anak-anak dan orang dewasa dari usia 2,5 tahun sampai 40 tahun. Tes non-verbal ini dapat diadministrasikan tanpa harus menggunakan bahasa tertulis atau lisan. Tes memberikan skor kecerdasan yang menunjukkan bagaimana kinerja seseorang dibandingkan dengan orang lain dari usia yang sama.

Tes SON bisa diberikan pada anak-anak difabel rungu atau speech handicapped, anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD), anak dengan gangguan belajar, anak yang memiliki bahasa ibu tidak sesuai dengan bahasa yang digunakan pada alat tes, serta anak yang mengalami kesulitan untuk dites karena mengalami kecemasan, selective mutism, dan sebagainya.

Anak berkebutuhan khusus (sumber: time)
Anak berkebutuhan khusus (sumber: time)

AJT Cognitive Assessment

AJT Cognitive Assessment (CogTest) merupakan tes kecerdasan yang dikembangkan oleh Indonesia. Dilansir dari Psikologi Unpad, tes kecerdasan ini dibuat berdasarkan pada teori CHC (Cattel-Horn-Carrol) dengan riset yang berkembang selama 100 tahun. Hasil dari tes ini bisa melihat kemampuan yang dimiliki setiap orang, baik secara umum (melihat G factor); secara khusus (melihat broad ability); dan secara spesifik (melalui narrow ability).

Baca juga:  Tanpa Curling Iron, Berikut Cara Membuat Rambut Ikal Bagian Bawah Secara Alami

AJT Cogtest diadministrasikan secara individual dengan waktu pelaksanaan antara 1 hingga 2 jam. Sebagian besar tes berbentuk verbal, namun ada beberapa tes yang menggunakan visual dan audio. AJT khusus diberikan pada rentang umur 5-18 tahun dan dapat digunakan untuk anak berkebutuhan khusus (ABK), dengan syarat anak tersebut mampu menjalin interaksi dan komunikasi yang memadai.

Asesmen untuk ABK di Luar Negeri

Tak hanya di Indonesia, asesmen atau pengukuran bakat dan minat pada ABK di luar negeri pun literaturnya masih tergolong minim. Dilansir dari Institute4learning, ada beberapa jenis tes untuk mengukur kemampuan atau bakat ABK, di antaranya seperti Behavioral and Emotional Rating Scale, Second Edition (BERS-2) oleh Michael H. Epstein yang dirancang untuk mengukur kemampuan dan kompetensi pribadi anak-anak usia 5-18 tahun, serta terdiri dari versi yang harus diisi oleh anak, orang tua, dan guru.

Kemudian, ada Clifton Youth Strengths Explorer (untuk usia 10-14 tahun) yang dikembangkan oleh organisasi Gallup Poll, yang juga mengembangkan StrengthsFinder untuk orang dewasa. Menilai 10 kemungkinan tema bakat siswa, termasuk (Penemu, Berprestasi, Pemikir Masa Depan, dan Penyelenggara). Ini adalah pengukuran online yang terdiri dari 76 item perbandingan berpasangan yang membutuhkan sekitar 15 menit untuk menyelesaikannya.

Baca juga:  Ketahui Gejala RSV, Penyebab Infeksi Paru-Paru Anak

Berikutnya, Torrence Tests of Creative Thinking (TTCT). Asesmen ini telah ada selama 6 dekade (dikembangkan oleh pakar kreativitas Dr. E. Paul Torrence), dan pada awalnya dirancang untuk menilai kreativitas pada anak-anak sekolah dasar. Ada dua bentuk utama-figural (berorientasi gambar) dan verbal (berorientasi kata)-yang menguji kapasitas seperti kelancaran, orisinalitas, fleksibilitas, dan kekayaan citra. Cocok untuk TK sampai dewasa.

Untuk mengetahui secara lebih komprehensif bakat dan minat anak berkebutuhan khusus, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu pada psikolog yang memang telah berpengalaman.


[1] Lisinus, R & Pastiria S. 2020. Pembinaan Anak Berkebutuhan Khusus (Sebuah Perspektif Bimbingan dan Konseling). Muhammad I, editor. Jakarta: Yayasan Kita Menulis, hlm 38.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*