Apa yang Harus Dilakukan Jika Anak Anda Berbicara Tentang Bunuh Diri?

Ilustrasi: kedekatan emosional orang tua dan anak (usatoday) Ilustrasi: kedekatan emosional orang tua dan anak (usatoday)

Berbicara mengenai bunuh diri masih dianggap hal yang tabu di Indonesia, padahal angka bunuh diri di Indonesia menurut WHO (World Health Organization) sangat tinggi, yakni mencapai 3.700 orang di tahun 2016 dan diperkirakan meningkat tiap tahunnya.[1] Dengan anggapan yang tabu, tak sedikit orang yang bisa mengatasi jika ada orang terdekatnya berbicara tentang bunuh diri, apalagi anaknya. Lalu, apa yang harus dilakukan jika anak Anda mulai berbicara tentang bunuh diri?

Dilansir dari HuffPost, menurut Centers for Disease Control and Prevention, bunuh diri adalah penyebab kematian nomor dua untuk anak usia 10-14 tahun. Salah satu faktor bunuh diri pada anak dan remaja adalah pandemi. Proporsi kunjungan remaja ke ruang gawat darurat untuk kesehatan mental naik 31% di tahun 2019 hingga 2020. Untuk remaja perempuan usia 12-17 tahun, kunjungan UGD untuk dugaan upaya bunuh diri naik 50,6% dari Februari dan Maret 2019 ke periode yang sama di 2021 .

Lakukan Ini Jika Anak Bercerita Ingin Bunuh Diri

Menjadi Pendengar yang Baik untuk Anak

Tidak ada orang tua yang siap mendengar kata-kata, ‘Seandainya aku mati,’ atau ‘Aku tidak ingin hidup lagi’ dari buah hatinya. Ketika seorang anak mengatakan sesuatu yang sangat mengejutkan, mungkin tergoda untuk percaya bahwa mereka tidak benar-benar mengerti apa yang mereka katakan, atau mereka tidak mungkin serius. Namun, jika anak Anda mengungkapkan pikiran untuk bunuh diri, hal terpenting yang dapat Anda lakukan adalah mendengarkan dan menanggapinya dengan serius.

Baca juga:  Bagaimana Cara agar Foto Anak Tidak Tersebar di Media Sosial?

Jika anak Anda datang kepada Anda dengan pikiran untuk bunuh diri, para ahli menyarankan Anda berhenti sejenak dan mengambil napas dalam-dalam. Setelah diri Anda tenang, dengarkan semua cerita anak dan jangan memarahi serta menyalahkan mereka atas pemikiran itu. Jadilah pendengar yang baik supaya anak Anda bisa menyampaikan emosinya dan menenangkan dirinya sendiri.

“Penting untuk mengambil jeda,” kata Ann-Louise Lockhart, seorang psikolog anak di Texas. “Sebagai orang tua, kami tidak ingin menutup jalur komunikasi dengan bereaksi terlalu keras atau meremehkan mereka.”

Ilustrasi: komunikasi orang tua dan anak (sumber: nytimes)

Ilustrasi: komunikasi orang tua dan anak (sumber: nytimes)

Perhatikan Emosi Sendiri Sebelum Menanggapi Cerita Anak

“Perhatikan emosi Anda sendiri sebelum menanggapi cerita anak,” kata Shairi Turner, seorang dokter anak di Crisis Text Line. “Ingatlah bahwa anak Anda membuat keputusan untuk datang kepada Anda dengan informasi ini karena Anda adalah orang terpercaya. Juga, ingat mereka berbicara dengan Anda karena merasa aman.”

Baca juga:  Tips Membantu Anak dalam Pembelajaran Jarak Jauh

Dibutuhkan keberanian yang tinggi bagi anak untuk menceritakan keadaannya saat itu. Menanggapi mereka dengan emosi yang memuncak hanya akan menambah kondisi mental anak semakin parah. Dikhawatirkan, mereka tidak akan lagi bercerita tentang kondisinya dan langsung melakukan bunuh diri.

“Jauhi juga frasa seperti, ‘Jangan katakan itu!’ atau ‘Mengapa kamu mengatakan itu?,” kata Lockhart. “Anda tidak ingin mereka merasa dihakimi atau malu karena datang kepada Anda dengan pikiran-pikiran ini. Cobalah untuk meminimalkan kekhawatiran mereka. Apa yang mungkin tampak kecil bagi Anda bisa terasa luar biasa bagi anak.”

Ajukan Pertanyaan untuk Menilai Tingkat Risiko Bunuh Diri

Cobalah untuk mencari tahu apakah mereka mengatakan ini sebagai reaksi terhadap sesuatu yang baru saja terjadi atau apakah mereka telah memiliki pemikiran ini selama beberapa waktu. Mungkin saja mereka memiliki apa yang disebut sebagai ‘morbid thoughts.’ Ini adalah pemikiran tidak sehat tentang kematian tanpa keinginan untuk mati.

Baca juga:  5 Seleb Indonesia yang Kuliah di Luar Negeri Demi Pendidikan

Turner menyarankan untuk menggunakan pertanyaan terbuka, seperti ‘bisakah kamu memberitahu saya tentang kondisimu saat ini?’ Atau ‘seberapa besar tekanan yang kamu rasakan saat ini?’ Itu akan membantu Anda mengetahui seberapa besar keinginan bunuh diri mereka. Ini juga akan membantu Anda mengetahui apa arti kematian menurut mereka.

Selain itu, sangat penting untuk bertanya kepada anak Anda apakah mereka memiliki rencana untuk melukai diri mereka sendiri. Jika mereka melakukannya, Anda harus segera menghubungi dokter anak atau penyedia kesehatan mental anak.

“Sering kali, anak-anak takut atau khawatir tentang reaksi orang tua atau bahwa ini akan menjadi situasi yang tak tertahankan bagi orang tua,” kata Turner. “Biarkan mereka tahu bahwa pikiran ini bisa muncul tiba-tiba dan Anda tidak akan terkejut. Sebaliknya, beri tahu mereka bahwa Anda ingin mendengar tentang apa yang ada dalam pikiran mereka sehingga anak tidak harus menghadapi pikiran-pikiran ini sendirian.”

[1] Pratiwi, Eklesia Hosana Randi. 2020. Pandangan Masyarakat terhadap Bunuh Diri Melalui Peran Agama di Indonesia. Jurnal Cakrawala Universitas Surabaya, Vol. 9(2): 167-184.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*