Serbuan Iklan Obat di Media, Apakah Memang Ampuh atau Berlebihan?

Ilustrasi: tayangan iklan obat di televisi Ilustrasi: tayangan iklan obat di televisi

Peredaran obat harus diawasi karena selain dapat menyembuhkan sakit, juga dapat menimbulkan sakit, bahkan kematian, apabila salah penggunaannya. Tidak cuma peredarannya, iklan obat pun sering menimbulkan keraguan sebagian ahli medis. Tak sedikit yang merasa skeptis tentang apakah obat yang dipromosikan lebih baik daripada perawatan lain atau malah sebaliknya.

Iklan obat langsung ke konsumen meningkat hampir 5 kali lipat dari tahun 1997 hingga 2016, dengan 663 ribu iklan televisi dilaporkan pada tahun 2016. Iklan televisi menyumbang sekitar dua pertiga dari total belanja iklan langsung ke konsumen.[1] Kurang dari sepertiga dari obat yang paling umum ditampilkan dalam iklan televisi dinilai memiliki nilai terapeutik yang tinggi, didefinisikan sebagai memberikan setidaknya peningkatan moderat dalam hasil klinis dibandingkan dengan terapi yang ada.

Sebuah studi baru di JAMA Network Open mempertimbangkan hal tersebut karena banyak obat yang diiklankan tidak lebih baik dari obat yang lebih tua (generik). Studi tersebut menilai 73 obat yang paling banyak diiklankan di AS antara tahun 2015 hingga 2021. Setiap obat telah dinilai oleh setidaknya satu lembaga kesehatan independen. Para peneliti menghitung berapa banyak dari obat ini yang menerima peringkat nilai terapeutik yang tinggi, yang menunjukkan bahwa suatu obat setidaknya memiliki keuntungan sedang dibandingkan dengan perawatan yang tersedia sebelumnya.

Baca juga:  Tiga Rutinitas Sehari-hari Agar Awet Muda

Hanya sekitar satu dari empat obat yang banyak diiklankan ini memiliki nilai terapeutik yang tinggi. Selama enam tahun penelitian, perusahaan farmasi menghabiskan sekitar USD 15,9 miliar untuk mempromosikan obat-obatan di TV yang tidak menunjukkan keuntungan besar dibandingkan obat-obatan yang lebih murah.

Hanya AS dan Selandia Baru yang mengizinkan pemasaran obat langsung ke konsumen. Bahkan, American Medical Association merekomendasikan larangan iklan obat pada tahun 2015. Berikut tiga potensi bahaya iklan obat yang mungkin akan dirasakan.

Potensi Bahaya Iklan Obat

  • Menaikkan biaya perawatan kesehatan yang sudah sangat besar. Iklan obat berpotensi meningkatkan permintaan untuk perawatan yang tidak perlu dan mempromosikan obat-obatan yang jauh lebih mahal daripada obat yang lebih tua atau obat generik.
  • Diklaim menciptakan penyakit yang harus diobati. Pengalaman sehari-hari, seperti kelelahan atau mata kering sesekali, dapat dibingkai dalam iklan obat sebagai kondisi medis yang membutuhkan perawatan segera. Namun seringkali, gejala-gejala seperti itu hanyalah pengalaman kecil dan sementara. Contoh lain adalah “T rendah” (mengacu pada testosteron darah rendah). Meskipun itu bukan penyakit yang dikenali dengan sendirinya, iklan untuk itu kemungkinan besar berkontribusi pada peningkatan resep obat yang mengandung testosteron.
  • Mempromosikan obat baru sebelum cukup diketahui tentang keamanan jangka panjang. Obat pereda nyeri rofecoxib (Vioxx) adalah salah satu contohnya. Obat anti inflamasi ini seharusnya lebih aman daripada obat-obatan yang lebih tua. Namun, obat itu ditarik dari pasar ketika ada bukti produk tersebut dapat meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke.
Baca juga:  Bagaimana Cara Berbicara dengan Orang yang Kecanduan Gadget?

Ada beberapa pertanyaan yang patut ditanyakan kepada dokter jika Anda ingin tahu tentang iklan obat. Anda bisa menanyakan obat tersebut direkomendasikan untuk kondisi tubuh atau tidak. Anda pun perlu menanyakan mengenai harga obat jika dibandingkan dengan pengobatan yang dijalani saat ini.

Kebijakan Larangan Iklan Obat

American Medical Association (AMA) dan advokat kesehatan masyarakat telah menyerukan pembatasan iklan obat langsung ke konsumen, memperingatkan bahwa hal itu meningkatkan permintaan akan obat yang lebih baru dan lebih mahal dengan mengorbankan alternatif yang lebih murah. Pembuat kebijakan dan regulator dapat mempertimbangkan untuk membatasi iklan langsung ke konsumen untuk obat-obatan dengan nilai terapeutik atau kesehatan publik yang tinggi.

Sebelumnya, AMA telah berhasil menetapkan pelarangan iklan rokok pada tahun 1971 dan iklan narkoba pada 2002. Namun untuk pelarangan iklan obat, memang belum ditetapkan karena masih menghadapi kendala mengingat lobi yang kuat dari perusahaan farmasi dan kekhawatiran tentang pelanggaran kebebasan berbicara mereka.

Baca juga:  Tips Agar Masker Tidak Bikin Telinga Sakit dan Nyaman Dipakai Seharian

Bersikap skeptis terhadap informasi dalam iklan obat dan mengandalkan sumber informasi medis yang lebih andal menjadi pilihan yang tepat yang dapat diambil masyarakat. Sebagian warga AS bahkan telah mencoba cara dengan mematikan TV, mempercepat podcast, dan tutup pop-up jika iklan narkoba muncul.

[1] Schwartz, L. M, Woloshin S. 2019. Pemasaran Medis di Amerika Serikat, 1997-2016.  JAMA, Vol. 321(1): 80-96.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*