Dosis Tambahan Vaksin COVID-19 Tidak Disarankan untuk Anak Usia 5-11 Tahun
COVID-19 merupakan penyakit menular yang disebabkan sindrom pernapasan akut corona virus 2 (SARS-CoV-2).[1] Untuk mencegah penyebarannya, masyarakat diwajibkan vaksinasi coronavirus. Tak hanya orang dewasa, tetapi juga anak-anak usia 5-11 tahun. Kendati demikian, beberapa ahli tidak menyarankan dosis tambahan atau booster untuk anak usia 5-11 tahun.
Vaksin Pfizer Sudah Cukup Efektif untuk Anak
Data baru yang dilaporkan dalam HuffPost menunjukkan, vaksin COVID-19 Pfizer jauh kurang efektif selama lonjakan Omicron baru-baru ini di New York dalam mencegah infeksi di antara anak berusia 5 hingga 11 tahun. Rata-rata anak usia 5-11 tahun tersebut telah menerima dosis vaksin coronavirus lebih kecil daripada remaja dan orang dewasa.
Padahal, pertengahan Desember 2021, vaksin Pfizer 68% efektif mencegah infeksi COVID-19 di kalangan anak-anak usia 5-11 tahun. Namun, pada akhir Januari 2022, di tengah lonjakan Omicron, itu hanya 12% efektif untuk mencegah infeksi di antara anak-anak usia 5-11 tahun. Untungnya, vaksin tersebut masih mampu memenuhi fungsi utamanya untuk mencegah lonjakan pasien rawat inap serta kematian akibat virus corona.
Baru-baru ini, muncul bukti bahwa pemberian vaksin COVID-19 tambahan atau booster di kalangan anak usia 5-11 tahun cukup efektif. Ini membuat beberapa orang tua bingung, mengapa anak berusia 5-11 tahun masih belum mendapatkan kejelasan mengenai anjuran booster vaksin COVID-19, padahal itu dinilai efektif.
Meskipun ada bukti bahwa itu efektif, para ahli masih belum menganjurkan penggunaan booster vaksin coronavirus, karena vaksin Pfizer dosis kecil masih tetap efektif untuk mencegah infeksi parah pada anak usia 5-11 tahun. Bahkan, itu dinilai masih memiliki kinerja baik selama lonjakan Omicron.
Efektivitas vaksin terhadap rawat inap turun menjadi 48% selama Omicron, tetapi ada variasi besar dalam interval kepercayaan (standar data penelitian), sehingga sulit untuk menarik kesimpulan yang solid. Banyak hal yang berkaitan dengan fakta bahwa jumlah rawat inap anak-anak secara keseluruhan cukup rendah, sehingga tidak banyak data yang dapat digunakan oleh para peneliti.
“Saya tidak ingin orang tua berkecil hati dengan data ini. Saya tidak patah semangat karenanya,” kata Dr. Ruth Kanthula, spesialis penyakit menular pediatrik di MedStar Health di Maryland. “Omicron adalah virus yang dapat menginfeksi dengan cepat. Namun, kasus rawat inap dan infeksi serius karena Omicron di kalangan anak tidak mengalami lonjakan.”
Dosis Vaksin COVID-19 yang Tepat untuk Anak
Sebelum disuntikkan ke tubuh anak umur 5-11 tahun, para peneliti sudah menghitung dan mempelajari dosis yang tepat. Ini juga alasan, mengapa anak tidak memerlukan booster COVID-19 setelah mendapatkan vaksin pertamanya. Penelitian tersebut berlangsung selama berbulan-bulan dan melibatkan anak-anak berusia 4 tahun ke bawah, yang belum memenuhi syarat vaksin.
Jadi sebelum para peneliti menetapkan dosis 10 mikrogram vaksin Pfizer pada anak-anak usia 5 hingga 11 tahun, mereka meneliti efektivitas dosis yang lebih rendah dan lebih tinggi, termasuk dosis 30 mikrogram yang diberikan kepada orang dewasa. Pada akhirnya, para peneliti pada uji coba awal tersebut menyimpulkan bahwa dosis 10 mikrogram memiliki tingkat efektivitas yang baik di tubuh anak usia 5-11 tahun. Dosis ini memiliki respons imun yang kuat dan efek samping yang relatif kecil untuk anak.
“Mengapa tidak memberi anak usia 5 hingga 11 tahun dosis 30 mikrogram saja? Itu belum tentu efektif untuk anak,” kata Dr. Matthew Harris, direktur medis program vaksin di Northwell Health di New York.
Salah satu tantangan menjadi dokter anak, kata Kanthula, adalah bahwa kondisi kesehatan anak-anak sangat berbeda dengan orang dewasa. Dokter tidak bisa begitu saja mengurangi atau membagi dua dosis vaksin yang diberikan pada anak. Tak hanya itu, ahli medis tidak bisa membandingkan dosis yang sama untuk orang dewasa akan sama efektifnya untuk anak.
“Anak-anak usia 5-11 tahun secara fisiologis berbeda dari orang dewasa,” kata Kanthula. “Anak-anak yang lebih besar secara fisiologis juga berbeda dengan anak-anak yang lebih muda dalam segala hal, mulai dari tinggi, berat badan, detak jantung, sistem kekebalan, hingga pernapasan mereka.”
Kemungkinan, jika anak-anak usia 5-11 tahun memang membutuhkan booster dalam kondisi yang darurat, maka harus dilakukan uji efektivitas dosis booster yang tepat untuk anak. Si kecil tidak bisa mendapatkan booster orang dewasa dan bisa jadi akan mendapatkan dosis tambahan yang sama dengan vaksin sebelumnya.
[1] Siahaan, Matdio. 2019. Dampak Pandemi Covid-19 terhadap Dunia Pendidikan. Jurnal Kajian Ilmiah (JKI) Universitas Bhayangkara, No. 1: 1-3.


Leave a comment