Cenderung Drop, Ini Cara Tingkatkan Mental Pasien Kanker Payudara

Ilustrasi: kanker payudara (sumber: indiatimes.com) Ilustrasi: kanker payudara (sumber: indiatimes.com)

Ada kondisi yang dapat menyebabkan wanita dewasa belum menikah dan memilih melajang, antara lain beban keuangan, emosional, dan fisik.[1] Khusus untuk fisik, bukan hanya karena penampilan yang mungkin dirasa tidak menarik, tetapi juga kondisi kesehatan yang membuat bentuk tubuh menjadi kurang ideal, seperti kanker payudara. Menjadi lajang akibat kanker payudara memang terbilang miris, tetapi tidak bagi orang-orang yang memiliki kondisi mental kuat.

Emosi pada Pasien Kanker Payudara

Dilansir dari WebMD, seorang wanita bernama Megan Claire Chase membagikan pengalamannya menjadi lajang akibat kanker payudara yang dialaminya. Sebelum mengetahui dirinya mengidap kanker payudara, Chase hanyalah seorang wanita lajang yang menunda kencan selama beberapa tahun. Ketika perempuan ini mulai siap untuk berkencan, itu adalah hari ketika ia mendapatkan diagnosis kankernya. Hal ini tentunya membuat wanita tersebut menjadi sedih.

Mencoba tes kanker payudara lagi, wanita muda tersebut merasa sedikit lega, karena secara resmi hasil tes menyatakan tidak ada bukti penyakit. Hal ini membuat Chase memiliki sedikit harapan untuk mulai berkencan lagi dan bersenang-senang. Sayangnya, semua tidak semudah itu, karena meskipun hasil tes tidak membuktikan adanya penyakit, gejala kanker tidak bisa diprediksi kapan datangnya.

Baca juga:  Amankah Penggunaan Obat Scabimite untuk Atasi Scabies pada Bayi?

Mengidap kanker payudara di kemudian hari, Chase kembali bersedih. Pikirannya sudah tidak lagi dipenuhi dengan keinginan untuk berkencan, tetapi tentang perawatan, operasi, transfusi darah, dan komplikasi pasca-perawatan. Hal ini tentunya membuat kualitas hidup wanita tersebut mulai menurun.

Tak hanya sedih, ketika Chase mencoba untuk berkencan setahun setelah didiagnosis kanker, perempuan ini merasa usianya menjadi 500 tahun. Bisa dibilang, kencan bukanlah hal yang tepat untuk menghibur diri dan menurutnya, semua hal yang dilakukan selama kencan saat mengidap kanker terasa hambar.

Sebelum menjadi pasien kanker payudara, Chase adalah orang yang ceria, ramah, dan banyak bicara, tetapi kini semua berbalik 180 derajat. Wanita ini menjadi canggung saat berbicara dengan orang lain, terutama kepada pria yang mengajaknya kencan. Wanita ini juga mengaku, ia tidak tahu lagi caranya untuk memulai sebuah pembicaraan dengan hal-hal sepele atau basa-basi. Tak hanya itu, perasaannya selalu cemas memikirkan kematian, gejala yang kambuh, dan metastasis.

Ilustrasi: perawatan kanker

Ilustrasi: perawatan kanker

Tips Hadapi Kanker Payudara

Perasaan bersalah juga menyelimuti pikiran Chase ketika mengunggah fotonya di situs kencan. Wanita ini merasa menjadi penipu, karena foto yang diunggah adalah foto lama dengan rambut tebal, lembut, sebahunya. Padahal, saat ini rambutnya tidak seindah dulu dan lebih terlihat berantakan.

Baca juga:  Konflik yang Sering Terjadi dalam Rumah Tangga Baru

Tak hanya itu, dengan kanker payudara yang dideritanya, wanita ini juga lebih kurus dan tidak berisi. Selain masalah berat badan, ada beberapa hal yang membuat Chase selalu merasa tidak nyaman saat berkencan, antara lain infertilitas, tidak memiliki gairah seks, bekas luka radiasi di leher kiri, neuropati perifer, mudah lelah, masalah kognitif, dan fibromyalgia.

Lelah dengan kencan yang selalu gagal, Chase menghapus profil kencannya tepat di tahun ketiga setelah didiagnosis kanker payudara. Hingga merasa nyaman dengan kondisi tubuhnya saat melakukan perawatan pasca-kanker, perempuan ini masih belum bisa menemukan kenyamanan jika harus berkencan, meskipun ini bertujuan untuk bersenang-senang.

Dengan kondisi kesehatan dan fisiknya saat itu, perempuan ini lebih memprioritaskan untuk memikirkan rasa sakit fisik yang bisa muncul sewaktu-waktu, cara mengendalikan emosi dengan baik, dan cara menguatkan mentalnya. Pemikirannya membuahkan hasil dan Chase mengetahui cara untuk keluar dari rasa takut dan cemasnya adalah bersosialisasi dengan orang banyak.

Baca juga:  Kaya akan Manfaat, Begini Cara Mengkonsumsi Buah Dewandaru

Melalui media sosial, Chase menemukan banyak dukungan dari orang lain dan memiliki koneksi dalam komunitas kanker untuk orang dewasa, anak, dan orang tua. Beberapa komunitas kanker yang terkoneksi dengan wanita ini, antara lain Elephants and Tea, Lacuna Loft, dan Stupid Cancer. Banyak hal yang didapatkan perempuan ini selain dukungan sosial, yakni persahabatan yang tulus dan bermakna.

Hal lain yang dilakukan Chase untuk meningkatkan kondisi mentalnya selama mengidap kanker payudara adalah melakukan aktivitas yang disukai, seperti pergi ke galeri seni di akhir pekan. Wanita ini menjelaskan, jika Anda melakukan banyak hal yang positif seperti ini, sesuatu yang ajaib akan Anda rasakan. Perempuan ini merasa dikelilingi banyak orang dengan hasrat dan minat sama dan yang menyebabkan mentalnya lebih kuat daripada sebelumnya. Tak hanya itu, dengan dikelilingi banyak orang, Chase merasa tidak sendirian dalam menghadapi kanker payudara.

[1] Tandiono, Indira Mustika & Jaka Santosa Sudagijono. 2016. Gambaran Subjective Well-Being pada Wanita Usia Dewasa Madya yang Hidup Melajang. Jurnal Experientia Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, Vol. 4(2): 49-64.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*