Awas, Depresi Bisa Sebabkan Disfungsi Eksekutif
Fungsi eksekutif atau bisa disebut dengan executive function merupakan cara individu untuk mengarahkan perilaku dirinya sendiri supaya terarah.[1] Namun, fungsi ini bisa terganggu dengan disfungsi eksekutif. Ada banyak faktor yang menyebabkan gangguan tersebut, dan salah satunya adalah depresi.
Disfungsi Eksekutif Sebenarnya Gejala Depresi
Dilansir dari allure, disfungsi eksekutif melibatkan defisit perencanaan, organisasi, pengaturan diri, perumusan tujuan, pemecahan masalah, dan manajemen waktu. Pasien yang mengalami gangguan ini biasanya akan mengalami kesulitan kognitif dan tidak bisa mengarahkan perilakunya dengan baik.
Masih dari sumber yang sama, depresi hanyalah salah satu masalah kesehatan mental yang dapat menggabungkan disfungsi eksekutif sebagai gejalanya. Seorang psikolog klinis di Invictus Psychological Services bernama Forest talley mengatakan, depresi dan penyakit mental lainnya sering mengakibatkan gangguan kebiasaan harian, termasuk disfungsi eksekutif.
Alasan yang mendasari disfungsi eksekutif dan depresi pada setiap orang bervariasi. Selain itu, gangguan mental seperti ini bisa juga terkait dengan adanya gangguan pada jaringan cortico-striatal, yakni bagian otak yang secara tidak sadar menghitung upaya yang dilakukan (aktivitas) dan hasil yang didapatkan (hasil dari tindakan).
Untuk beberapa orang, disfungsi eksekutif bukan hanya tentang berada dalam kondisi mental yang kurang baik, tetapi juga lelah beraktivitas. Perilaku atau tindakan yang dilakukan berulang kali kerap membuat seseorang bosan dan kesal, apalagi jika tidak ada hasilnya atau hasilnya tidak terlalu dihargai. Kelelahan akibat aktivitas harian seperti ini berisiko gejala depresi, termasuk disfungsi eksekutif.
Seorang psikolog asal New York bernama Holly Schiff menjelaskan, gejala depresi dapat dianalisis dengan cara melihat tingkat neurotransmitter pasien. Jika tingkat neurotransmitternya rendah, diiringi dengan serotonin dan dopamin rendah, maka seseorang dapat dikatakan mengalami depresi. Pasien dengan hasil analisis seperti ini biasanya sulit untuk diberi motivasi dan beberapa di antaranya mengalami gangguan malas bangun dari tempat tidur.
Tak hanya itu, kekurangan dopamin di korteks prefrontal juga membuat penderita depresi tidak memiliki energi untuk membuat keputusan yang baik. Selain itu, ada pasien yang tidak bisa memecahkan masalah, tidak tahu caranya mempertimbangkan pilihan yang harus diambil, hingga tidak bisa mengambil sebuah tindakan.
Apabila ini terus dibiarkan dan depresi yang dialami pasien semakin kronis atau ada pemicu yang membuat orang ini menjadi tertekan, maka energinya akan cepat terkuras. Hal ini yang menyebabkan pasien depresi dengan gejala disfungsi eksekutif mudah lelah dan akhirnya tidak memiliki harapan.
Cara Atasi Disfungsi Eksekutif
Dilansir dari Neurohealth Arlington Heights, disfungsi eksekutif bisa diobati dengan mengoptimalkan jasa terapis atau tutor untuk mengidentifikasi area masalah dan mencari jalan keluar dalam mengatasinya. Tenaga profesional seperti dokter saraf juga diperlukan jika pasien sudah mengalami gangguan parah, seperti kesulitan berbicara, kesulitan membaca, dan kesulitan mendengar.
Pendekatan pengobatan lain yang bisa dilakukan orang dengan disfungsi eksekutif adalah terapi perilaku kognitif (CBT). Secara umum, terapi ini digunakan secara bersamaan untuk mengobati gangguan mental lain yang bersifat parah. Proses CBT secara umum melibatkan alat berupa memori eksternal seperti catatan tempel, simbol, dan kartu. Ini bertujuan untuk membantu individu dengan disfungsi eksekutif bisa kembali fokus pada tujuan.
Motivasi eksternal juga diperlukan, meskipun terbilang gampang-gampang susah, khususnya untuk anak-anak. Memang, disfungsi eksekutif tidak hanya dialami oleh orang dewasa, tetapi juga anak-anak yang masih berada di sekolah dasar. Biasanya, ini dipicu oleh stres yang disebabkan beberapa hal, seperti masalah keluarga, kurang berkomunikasi dengan orang tua, kurang kasih sayang, bullying, dan kegiatan ekstrakurikuler yang berlebihan.
Gejala disfungsi eksekutif pada orang dewasa dan anak tentunya tidak sama. Pada orang dewasa, mungkin gejalanya tidak terlalu terlihat, berbeda dengan anak-anak yang cenderung ekspresif. Selain tidak melakukan kebiasaan dengan baik, beberapa anak akan melakukan aksi mogok makan, lebih banyak diam, dan selalu murung.
Meski demikian, gangguan disfungsi eksekutif pada anak bisa disembuhkan dengan cepat daripada orang tua, dengan catatan segera dilakukan pendekatan berupa terapi atau pengobatan lainnya. Namun, dampak disfungsi eksekutif pada anak diketahui akan lebih kronis jika tidak segera diobati.
Pada anak, disfungsi eksekutif yang tidak segera diobati bisa membuat mereka merasa mudah lelah dan tidak memiliki gairah terhadap berbagai hal di masa mendatang. Selain itu, biasanya anak yang tidak tertolong akan memiliki banyak mental illness. Konon, disfungsi eksekutif bisa berkembang menjadi penyakit mental lain, seperti anxiety disorder.
[1] Fatwikiningsih, Nur. 2016. Rehabilitasi Neuropsikologi dalam Upaya Memperbaiki Defisit Executive Function (Fungsi Eksekutif) Klien Gangguan Mental. Journal An-nafs Universitas Trunojoyo, Vol. 1(2): 320-335.




Leave a comment