Kenali Bahaya dan Tanda Toxic Positivity di Kantor

Ilustrasi: suasana kerja di kantor Ilustrasi: suasana kerja di kantor

Anda pernah mengalami hambatan karir? Namun, orang-orang di sekitar Anda mengatakan bahwa Anda baik-baik saja dan mengatakan setidaknya Anda memiliki pekerjaan dibanding orang lain yang masih menganggur? Bisa jadi, ini adalah salah satu toxic positivity yang mengharuskan Anda bersikap positif, padahal Anda sedang terbebani dan ingin keluar dari beban tersebut. Keluar dari lingkaran setan seperti ini memang terasa sulit, tetapi akan mudah jika Anda mengetahui tanda-tanda bahwa Anda sedang terjebak dalam toxic yang positif.

Bahaya Toxic Positivity di Kantor

Sebagian besar orang mungkin lebih mengenal toxic relationship dibanding toxic positivity. Toxic relationship adalah hubungan yang tidak sehat untuk diri sendiri dan orang lain.[1] Sementara itu, toxic positivity didefinisikan sebagai ucapan positif yang dilontarkan oleh seseorang dengan dampak negatif berupa pemaksaan perilaku positif terhadap korban.

Dilansir dari HuffPost, toxic positivity sering dijumpai di lingkungan kantor dan biasanya orang-orang menjadikannya sebagai salah satu cara untuk terlihat baik di depan orang lain. Toxic positivity di kantor dilakukan dalam berbagai hal, misalnya menghibur teman untuk memaksakan sifat positif kepada mereka atau mencari muka pada atasan.

Baca juga:  Hindari Stres dan Depresi dengan Bersikap Narsis

Toxic positivity paling sering diucapkan dengan cara yang manis dan bersemangat tanpa ada tujuan di baliknya. Beberapa orang juga sering bermaksud menghibur temannya, tetapi terlihat agak kosong atau tidak autentik. Sebagai contoh, ketika ada salah satu teman mereka yang baru saja kehilangan keluarganya dan bersedih, ada teman yang mengatakan, tidak hanya Anda yang kehilangan keluarga dan tetaplah semangat. Kata-kata seperti ini memang terlihat menghibur, tetapi tidak benar-benar menghibur orang yang sedang sedih. Mereka justru akan membohongi diri sendiri dengan bersikap semangat, padahal hati mereka sedang hancur.

Jika toxic positivity ini berkembang di tempat kerja atau kantor, ini bisa menciptakan budaya fake satu sama lain. Tidak ada karyawan yang membuka diri satu sama lain. Mereka juga akan kesulitan dan enggan untuk berbagi perasaan saat sedang membutuhkan. Kondisi seperti ini tak jarang akan membuat orang merasa depresi dan stres selama di kantor, bahkan mereka harus rela menjaga citra yang positif selama bekerja.

Sayangnya, tidak banyak orang yang sadar dengan adanya toxic di lingkungan kantor. Beberapa orang bahkan tidak sadar bahwa dirinya sedang terjebak dalam lingkungan yang toxic. Untuk itu, Anda perlu waspada dengan cara mengetahui tanda-tanda toxic positivity sebagai berikut.

Baca juga:  Kerap Membuat Orang Tua Khawatir, Persaingan antar Saudara Itu Normal
Ilustrasi: suasana kerja di kantor

Ilustrasi: suasana kerja di kantor

Tanda Toxic Positivity di Kantor

  • Orang memberitahu Anda untuk bersikap positif tentang masalah yang rumit. Ketika Anda curhat mengenai masalah yang rumit, seperti baru saja dipecat atau mendapatkan hukuman dari atasan, rekan kerja cuma berkata “cobalah lebih bersikap positif”, maka Anda sudah terjebak dalam toxic positivity. Hal ini karena Anda akan merasa lebih sedih dan tidak terhibur sama sekali. Selain itu, Anda terpaksa mengubah pribadi Anda menjadi lebih baik di kantor untuk membenarkan kalimat tersebut.
  • Tanda bahwa Anda sedang terjebak dalam toxic positivity adalah ketika Anda bingung dengan sikap atasan Anda yang sering berubah-ubah dan berbohong dalam mengambil keputusan. Sebagai contoh, jika hari ini Anda mendapatkan tugas A untuk besok, sedangkan besoknya tugas tersebut berganti menjadi B dengan berbagai macam alasan yang tidak masuk akal, dan atasan Anda berkata bahwa semua baik-baik saja, maka Anda harus siap menghadapi toxic positivity.
  • Dilansir dari IDN TIMES, dalam bentuk ekstrem, toxic positivity memiliki bentuk menghakimi perasaan seseorang. Tanda bahwa Anda sedang dalam toxic positivity di kantor adalah rekan kerja yang tidak mau menerima Anda dalam keadaan buruk. Sebagai contoh, saat Anda curhat tentang masalah yang membuat Anda merasa kecewa, marah, dan sedih, teman Anda malah berkata “tidak seharusnya Anda kecewa atau sedih”.
Baca juga:  Apakah Telur Cumi Bisa Dimakan? Apa Kegunaannya?

Jika Anda sedang menjadi korban toxic positivity, ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan dan salah satunya adalah mengoreksi diri sendiri dengan cara yang lebih tepat. Dilansir dari magazine.job, kenali diri Anda dengan mengetahui emosi yang biasanya muncul saat Anda bekerja, entah itu marah, bahagia, sedih, atau kecewa. Terima semua emosi tersebut dan jangan menyangkalnya saat muncul di pikiran Anda. Setelah itu, cari jalan keluarnya tanpa melibatkan rekan kerja Anda. Sehingga, Anda bisa bekerja lagi tanpa harus menerima toxic positivity dari rekan kerja Anda.

[1] Julianto, Very, dkk. 2020. Hubungan antara Harapan dan Harga Diri terhadap Kebahagiaan pada Orang yang Mengalami Toxic Relationship dengan Kesehatan Psikologis. Jurnal Psikologi Integratif UIN Sunan Kalijaga, Vol. 8(1): 103-115.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*