Gangguan Mood Tingkatkan Risiko Terkena COVID-19

Ilustrasi: perubahan mood (sumber: victeezy) Ilustrasi: perubahan mood (sumber: victeezy)

Gangguan mood bisa dikaitkan dengan beragam penyakit mental. Ada banyak gangguan mental yang gejalanya adalah perubahan mood secara tiba-tiba, seperti stres, depresi, dan skizofrenia. Hal ini tidak hanya mampu mengganggu aktivitas, tetapi juga meningkatkan risiko terinfeksi COVID-19.

Alami Gangguan Mood Rentan COVID-19

Dilansir dari HuffPost, CDC (Centers for Disease Control and Prevention) telah memasukkan gangguan mood atau gangguan suasana hati ke dalam daftar kondisi mendasar yang dapat meningkatkan risiko seseorang menjadi sakit parah jika terinfeksi coronavirus. Tak hanya itu, gejala gangguan mental ini juga diketahui bisa meningkatkan risiko seseorang terinfeksi COVID-19.

Umumnya, gangguan mood dialami oleh orang yang depresi dan mengalami spektrum skizofrenia. Depresi adalah suatu kondisi seseorang merasa sedih, kecewa saat mengalami sebuah perubahan, kehilangan, kegagalan, dan menjadi patologis ketika tidak mampu beradaptasi.[1] Mental disorder ini dapat memengaruhi fungsi fisiologis, kognitif dan perilaku seseorang.

Sementara itu, dilansir dari ALODOKTER, skizofrenia adalah gangguan mental yang terjadi dalam jangka panjang dan menyebabkan penderitanya mengalami halusinasi, delusi atau waham, kekacauan berpikir, perubahan mood secara cepat, dan perubahan perilaku. Gejala ini termasuk gejala dari psikosis, yakni kondisi ketika penderitanya kesulitan membedakan kenyataan dan imajinasinya sendiri.

Baca juga:  Penyebab dan Cara Atasi Jantung Berdebar saat Tidur

Dua gangguan mental tersebut termasuk dalam list CDC yang harus segera diatasi dan pasien yang mengalaminya harus segera mendapatkan vaksin Pfizer untuk mencegah infeksi COVID-19. CDC juga menjelaskan, siapa pun yang berusia 18 tahun atau lebih dengan salah satu kondisi gangguan mental ini, memenuhi syarat untuk mendapatkan suntikan ketiga selama enam bulan setelah mendapatkan vaksin Pfizer kedua. Bisa dibilang, penderita gangguan mental dengan usia 18 tahun ke atas boleh mendapatkan booster atau dosis vaksin Pfizer lebih dari orang dengan kondisi normal.

Ilustrasi: gangguan mental (pexels: Liza Summer)

Ilustrasi: gangguan mental (pexels: Liza Summer)

Mengapa Gangguan Mental Berisiko COVID-19?

Selama berbulan-bulan, para ahli telah meminta CDC untuk memasukkan gangguan kesehatan mental tertentu ke dalam daftar kondisi yang dapat memperparah atau meningkatkan risiko COVID-19. Sebuah studi menemukan, skizofrenia adalah faktor risiko tertinggi kedua untuk kematian terkait COVID-19, dengan faktor risiko terbesar adalah mereka yang berusia lebih tua.

Berdasarkan hipotesis penelitian, secara biologi, ada sesuatu yang membuat orang dengan gangguan skizofrenia lebih rentan terhadap COVID-19. Bisa jad, ini adalah gangguan sistem kekebalan tubuh pasien yang tidak normal. Para peneliti juga mengeksplorasi apakah obat-obatan yang digunakan untuk mengobati kondisi skizofrenia mungkin berperan dalam kerentanan mereka terhadap coronavirus.

Baca juga:  Berkedok Self-Love Ternyata Toxic, Ini Tanda-Tandanya!

Penelitian lain menemukan, orang dengan gangguan mood seperti depresi memiliki risiko yang sama untuk dirawat di rumah sakit dan berisiko terhadap kematian akibat COVID-19 jika dibandingkan dengan mereka yang memiliki masalah kesehatan mendasar, seperti diabetes dan kanker. Orang dengan depresi diketahui bisa mengalami gangguan respons kekebalan, apalagi mereka juga berisiko lebih tinggi mengalami masalah kesehatan fisik lainnya.

Direktur eksekutif Treatment Advocacy Center, Lisa Dailey, mengatakan,menunjuk penyakit mental yang telah dikonfirmasi penelitian dapat membawa risiko kematian yang unik terkait COVID-19 untuk diprioritaskan CDC adalah keharusan ilmiah dan moral. Tindakan ini berpotensi menyelamatkan banyak nyawa.

Ilustrasi: situasi pandemi (sumber: unair)

Ilustrasi: situasi pandemi (sumber: unair)

Terkait hal ini, sekolah, perusahaan, dan pemerintah meminta CDC untuk memberikan panduan tentang cara melindungi orang-orang dalam kelompok berisiko tinggi seperti ini supaya penyakit dapat diatasi dan dicegah. Hal ini sangat penting, tidak hanya bagi instansi terkait, tetapi juga orang-orang yang ingin melindungi dirinya sendiri agar terhindar dari penyakit.

Baca juga:  Cegah Kanker Serviks, Kapan Vaksin HPV Diberikan?

Panduan dari CDC juga merupakan bantuan untuk memastikan bahwa orang dengan gangguan mood dan skizofrenia mendapatkan suntikan booster vaksin COVID-19 jika mereka menginginkannya, karena kekebalan tubuh yang berkurang seiring waktu. Jenis vaksin booster yang bisa diberikan adalah Pfizer, tetapi FDA (Food and Drug Administration) menyarankan untuk memberikan booster vaksin Moderna dan Johnson & Johnson untuk pasien gangguan mental yang berisiko COVID-19.

Pasien dengan gangguan depresi dan skizofrenia yang diikuti gejala mood swing, bisa mendapatkan booster vaksin dengan cara menghubungi instansi medis terkait. Selain itu, pasien juga harus membawa rujukan dari psikiater untuk membuktikan gejala yang dialami. Hal ini sangat penting, karena tidak semua orang memerlukan vaksin tambahan untuk mencegah dan mengatasi coronavirus.

[1] Hadi, Indriono, dkk. 2017. Gangguan Depresi Mayor: Mini Review. Health Information Journal Poltekkes Kemenkes Kendari, Vol. 9(1): 34-49.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*