Bagaimana Cara Mengatasi Rasa Cemas Selama Pandemi?

Ilustrasi: aktivitas di tengah pandemi (unsplash: Robert Norton) Ilustrasi: aktivitas di tengah pandemi (unsplash: Robert Norton)

Ada banyak hal yang menyebabkan rasa cemas berlebihan muncul, termasuk pandemi. Kecemasan bisa diartikan sebagai reaksi normal terhadap berbagai peristiwa sehari-hari dan sebagai salah satu sistem peringatan dini untuk menghadapi bahaya.[1] Namun, jika rasa cemas saat pandemi terlalu berlebihan, ini bisa menyebabkan gangguan kecemasan atau anxiety disorder yang membahayakan kesehatan mental. Lalu, bagaimana cara mengatasinya?

Pandemi Penyebab Gangguan Rasa Cemas

Dilansir dari Vogue, tak sedikit orang yang merasa cemas saat pandemi. Meski hanya beberapa orang yang mengidap anxiety disorder selama pandemi, gangguan ini tidak hanya menyebabkan seseorang mengalami hambatan dalam kemajuan hidupnya, tetapi juga penurunan kesehatan mental dan fisik.

Kebanyakan orang yang mengalami rasa cemas saat pandemi cenderung tidak bisa berpikir secara optimistis tentang kesehatannya. Berdasarkan Associated Press and NORC, 41% responden mengatakan mereka sangat khawatir dengan kesehatan anggota keluarganya. Rasa cemas berlebihan yang timbul diakibatkan pandemi yang cepat menyebar, apalagi sudah banyak orang di sekitar mereka yang terinfeksi.

Beberapa orang dengan anggota keluarga yang terinfeksi, diketahui memiliki risiko tinggi terhadap gangguan kecemasan. Saat melihat orang-orang terdekat yang berjuang dari kematian akibat infeksi virus, tentunya Anda tidak hanya bisa melihatnya saja. Ada rasa empati dan simpati yang mau tak mau bersarang di pikiran Anda. Jika mental Anda kuat, Anda bisa menerima keadaan tersebut dan jika sedang lemah, maka kecemasan akan menyerang Anda.

Baca juga:  Benar-Benar Multifungsi! Ini Sederet Manfaat Gel Aloe Vera untuk Wajah
Ilustrasi: aktivitas di tengah pandemi (unsplash: Caglar Oskay)

Ilustrasi: aktivitas di tengah pandemi (unsplash: Caglar Oskay)

Berbeda dengan rasa cemas biasa, gangguan kecemasan saat pandemi tidak bisa dihilangkan begitu saja. Butuh proses dan cara khusus untuk membuat suasana hati dan pikiran tertata kembali. Terlebih, saat pandemi, hampir semua faktor penyulut rasa cemas ada di sekitar Anda. Hal ini yang kadang menyebabkan orang mulai goyah dengan pikiran sehatnya.

Tak hanya itu, beberapa orang juga bisa histeris saat mengetahui adanya pandemi susulan atau ada virus yang mulai berkembang dan lebih berbahaya dari sebelumnya. Menurut seorang penulis buku berjudul “Maybe You Should Talk to Someone” bernama Lori Gottlieb, orang-orang yang awalnya santai dengan adanya pandemi, menjadi cemas  karena mengkhawatirkan cara menghadapi pandemi. Secara tidak sadar, mereka mencemaskan kematian yang bisa mengancam nyawa mereka sewaktu-waktu. Kesadaran diri akan kematian yang meningkat tentunya tidak membuat mental menjadi baik-baik saja. Secara perlahan, kesejahteraan jiwa dan mental mulai menurun, sehingga mengalami gejala anxiety disorder.

Baca juga:  Apa Itu Perimenopause? Berapa Lama Dan Bagaimana Gejalanya?

Seorang kontributor Vogue bernama Molly Jong-Fast menceritakan, sebelum mengalami gejala gangguan kecemasan, ia sudah mulai merasakan cemas hebat sebelum adanya pandemi. Rasa cemas yang dirasakan wanita ini kian meningkat ketika mengetahui sahabatnya meninggal akibat kanker otak. Meskipun bukan karena pandemi, Fast tetap saja merasa cemas dan akhirnya menderita gangguan kecemasan. Ini benar-benar memperburuk situasi hidupnya saat itu. Ada beberapa hal yang dilakukan Fast untuk mengetahui cara mengatasi anxiety disorder yang dialaminya saat pandemi, seperti melakukan pemeriksaan secara berulang.

Cara Mengatasi Gangguan Kecemasan

Gangguan kecemasan yang dirasakan penderita anxiety disorder tentunya berbeda dengan mereka yang merasa cemas saat pandemi. Rasa cemas pada penderita gangguan mental ini lebih besar dibandingkan orang cemas pada umumnya. Sehingga, perlu dilakukan treatment khusus untuk mengatasinya.

Ilustrasi: aktivitas di tengah pandemi (unsplash: Matteo Jorjoson)

Ilustrasi: aktivitas di tengah pandemi (unsplash: Matteo Jorjoson)

Perlakuan khusus seperti yang ada di internet, menurut Fast tidaklah efisien, sehingga wanita ini menyarankan pasien anxiety disorder untuk mengunjungi psikiater. Secara umum, psikiater tidak hanya memberikan saran untuk mengatasi gejala cemas yang timbul, tetapi catatan khusus untuk mencegahnya.

Baca juga:  Sejumlah Mitos Seputar Retinol dan Faktanya Menurut Dermatologis

Saran yang biasa diberikan kepada pasien dengan gangguan kecemasan biasanya berkaitan dengan tingkat cemasnya. Untuk orang dengan gejala ringan, biasanya hanya disarankan untuk berolahraga, diet sehat, meditasi, mengelola stres, dan tidak melakukan hal-hal yang memicu stres.

Jika cara tersebut masih belum ampuh, dokter akan memberikan obat khusus seperti obat penenang dan penghilang rasa sakit atau nyeri. Beberapa orang yang mengidap anxiety disorder konon tak jarang merasakan sakit kepala seperti migrain yang datangnya secara tiba-tiba dan dalam waktu yang cukup lama. Tak hanya itu, gejala yang paling sering muncul, di antaranya sesak napas, keringat dingin, dan sakit perut.

[1] Christianto, Laurentius Purbo. 2020. Kecemasan Mahasiswa di Masa Pandemi COVID-19. Jurnal Selaras Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Vol. 3(1): 67-82.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*