Skrining Mandiri untuk Mengetahui Peningkatan Alzheimer dan Demensia
Alzheimer merupakan penyakit neurodegeneratif yang terjadi secara bertahap dan progresif disebabkan kematian sel neuron.[1] Gejala yang paling umum dari penyakit ini adalah demensia dan ini sangat umum terjadi saat lansia. Nah, untuk mengetahui apakah Anda memiliki risiko tinggi atau termasuk yang rentan terhadap alzheimer maupun demensia, Anda bisa melakukan skrining mandiri dengan menjalani tes sederhana yang berkaitan dengan ingatan.
Dilaporkan dalam Harvard Health Publishing, ada lebih dari 55 juta orang yang hidup dengan alzheimer dan demensia di seluruh dunia. Diperkirakan, jumlah ini akan meningkat menjadi 78 juta pada 2030 dan 139 juta pada tahun 2050. Untuk mendiagnosis penyakit tersebut, biasanya pasien tidak hanya cukup dengan mengandalkan ahli saraf, psikiater, geriatri, dan neuropsikologi, tetapi juga harus melibatkan dokter spesialis lain terkait penurunan kognitif yang terjadi.
Namun, mengunjungi ahli saraf dan spesialis lainnya akan membutuhkan banyak biaya. Tak hanya itu, cukup sulit menemukan dokter yang cocok untuk setiap pasien. Untuk itu, Anda bisa melakukan tes skrining mandiri di rumah sebagai salah satu persiapan untuk mengetahui apakah Anda termasuk orang yang rentan terhadap alzheimer dan demensia atau tidak. Tes sederhana ini akan membantu Anda memprediksi risiko alzheimer dan demensia pada beberapa tahun mendatang.
Tes Alzheimer dan Demensia
Tes sederhana untuk mendiagnosis risiko alzheimer dan demensia sudah ada sejak tahun 2010. Dokter dari divisi neurologi kognitif di The Ohio State University Wexner Medical Center mengembangkan tes kognitif untuk menganalisis kehilangan memori yang dapat dilakukan sendiri oleh individu.
Anda bisa melakukan tes tersebut di rumah dan membawa hasilnya ke pihak medis yang berkaitan jika memang hasilnya mengkhawatirkan. Nantinya, hasil tes tersebut akan membantu pihak medis menentukan apakah Anda memerlukan pemeriksaan tambahan atau rujukan ke spesialis tertentu.
Tes yang dikenal dengan Self-Administered Gerocognitive Examination (SAGE) untuk mendiagnosis kerentanan terkait alzheimer dan demensia ini, diklaim lebih baik dibandingkan tes standar dokter. Ada dua tes neuropsikolog yang umum untuk pasien alzheimer serta demensia, seperti Mini-Mental State Examination (MMSE) dan Montreal Cognitive Assessment (MoCA). Namun, sebelum melakukan skrining mandiri, Anda perlu mengetahui istilah berikut.
Istilah dalam Skrining Mandiri Alzheimer dan Demensia
- Demensia adalah ketika gangguan kognitif menyebabkan gangguan fungsi.
- Gangguan kognitif ringan (MCI) adalah ketika ada gangguan kognitif, tetapi fungsinya normal.
- Penurunan kognitif subjektif adalah ketika ingatan dan fungsi berpikir seseorang terganggu, tetapi kognisi dan fungsinya normal.
- MCI bisa beralih ke demensia sebagai gejala penyakit alzheimer.
- MCI bisa beralih ke jenis demensia lain atau penurunan kognitif subjektif.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan penulis Harvard Health Publishing, ada korelasi yang sangat tinggi antara tes SAGE dan MMSE. Selain itu, mereka menemukan bahwa tes SAGE dapat memprediksi konversi individu dengan MCI yang akan mengembangkan demensia enam bulan lebih awal dari MMSE.
Tips Skrining Mandiri Alzheimer dan Demensia
Meskipun tes ini sangat aman dan mudah, bagi pemula tidak disarankan untuk langsung mencoba sendiri. Setiap orang yang ingin menjalani tes harus melakukan pelatihan terlebih dulu dari penyedia layanan kesehatan primer. Ini sangat penting untuk memahami bagaimana penggunaan tes dan cara membaca hasilnya. Setelah latihan selesai, barulah Anda bisa mengerjakan tesnya sendiri di rumah dengan mengakses laman khusus terkait tes SAGE yang diberikan penyedia layanan kesehatan.
Dalam tes SAGE, Anda juga akan mendapatkan materi tes kognitif selama 10-15 menit di rumah. Hasilnya akan langsung keluar setelah Anda selesai mengisi semua pertanyaan pada skrining SAGE. Jika hasilnya mengkhawatirkan, Anda bisa langsung ke dokter untuk melakukan perawatan sebagai langkah untuk mencegah serta mengatasi gejala alzheimer.
Ketika menjalani tes, Anda disarankan untuk mengerjakannya sendiri. Anda juga tidak diperbolehkan mencontek atau mencari jawaban di laman pencarian seperti Google. Ini sangat penting, karena jawaban pada tes skrining akan menentukan hasilnya. Inilah alasan, mengapa setiap orang mendapatkan hasil yang berbeda.
Selain bermanfaat untuk Anda, tes mandiri alzheimer dan demensia berguna bagi pihak medis. Penggunaan tes yang dikelola sendiri ini akan menjadi kunci dalam mendeteksi peningkatan jumlah individu dengan penyakit Alzheimer dan penyebab demensia lainnya dalam beberapa tahun mendatang.
[1] Arwin, Leonardo & Jihan Nur Pratiwi. 2020. Peran Neuroprotektor Astaxanthin dalam Pencegahan Penyakit Alzheimer. Jurnal Ilmu Keperawatan Jiwa Universitas Lampung, Vol. 3(1): 47-52.


Leave a comment