Menarik, Ini Fakta di Balik Intoleransi Laktosa yang Jarang Diketahui

Ilustrasi: sakit perut karena intoleransi laktosa (sumber: knowtreatment.com) Ilustrasi: sakit perut karena intoleransi laktosa (sumber: knowtreatment.com)

Apakah Anda sering mual, sakit perut, dan diare setelah minum susu hewani? Jika iya, bisa jadi Anda mengalami intoleransi Laktosa. Hal ini tidak hanya terjadi pada orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Namun, tidak semua gejala itu menunjukkan bahwa seseorang mengalami intoleransi laktosa, tetapi bisa jadi juga keracunan. Untuk itu, Anda harus mengetahui fakta di balik intoleransi laktosa.

Apa Itu Intoleransi Laktosa?

Dilansir dari Web MD, laktosa adalah gula alami yang ditemukan dalam susu dan produk turunannya. Setelah Anda makan atau minum sesuatu yang mengandung laktosa, enzim laktase di usus memecahnya supaya mudah diserap. Namun, orang-orang dengan intoleransi laktosa tidak menghasilkan cukup enzim ini, sehingga laktosa yang tidak tercerna akan mengendap di usus besar dan terfermentasi oleh bakteri pada usus besar.

Gejala intoleransi laktosa adalah mual, sakit perut, kembung, sering flatus, dan perianal rash. Lalu, mual dan muntah merupakan salah satu gejala yang paling sering terjadi pada anak dengan gejala klinis umum rasa tidak nyaman di perut atau abdomen.

Namun, untuk membuktikan apakah gejala yang Anda rasakan adalah intoleransi laktosa atau bukan, Anda harus menjalani serangkaian tes kesehatan. Ada pemeriksaan penunjang kasus intoleransi laktosa, antara lain tes napas hidrogen, tes toleransi laktosa, dan tes tingkat gen LCT C>T-13910, seperti berikut.

Baca juga:  Cara Membuat Keju Mozarella Meleleh, Cepat & Sederhana!

Pemeriksaan Penunjang Intoleransi Laktosa

  • Tes Napas Hidrogen (TNH). Dasar metode ini adalah mengukur kadar gas hidrogen hasil fermentasi laktosa flora kolon yang dikeluarkan dari udara napas. Makin banyak hidrogen yang terukur, berarti makin banyak laktosa yang difermentasikan dan membuktikan makin banyak laktosa yang tidak diabsorpsi usus (intoleransi laktosa).
  • Tes Toleransi Laktosa (TTL). Pemeriksaan TTL dilakukan dengan metode pengambilan darah melalui vena. Pihak medis akan menganalisis glukosa darah menggunakan Hemocue 201 yang telah dikalibrasi. Peningkatan glukosa plasma lebih dari 1,4 mmol/L menandakan pasien mengalami intoleransi laktosa.
  • Tes Gen LCTC>T-13910. Ini dilakukan dengan biopsi usus halus untuk mengukur aktivitas LCT (Lactase-phlorizin hydrolase) atau biasa disebut enzim laktosa yang memecah laktosa menjadi monosakarida glukosa dan galaktosa yang mudah diserap. Pada pasien intoleransi laktosa memiliki penanda gen abnormal C/C-13910 pada tes gen LCTC>T-13910.
Ilustrasi: intoleransi laktosa (sumber: kreiderfarms.com0

Ilustrasi: intoleransi laktosa (sumber: kreiderfarms.com0

Setelah Anda terbukti sebagai orang yang intoleransi laktosa, Anda harus menjaga asupan makan Anda. Selain itu, pelajari fakta berikut supaya Anda terhindar dari gejala intoleransi laktosa.

Baca juga:  Superbug, Bakteri Yang Dikenal Resisten Terhadap Antibiotik

Fakta di Balik Intoleransi Laktosa[1]

  • Intoleransi laktosa bukanlah alergi susu. Alergi makanan, seperti alergi susu adalah kondisi autoimun. Orang dengan alergi susu tidak boleh mengonsumsi susu atau produk yang mengandung susu. Reaksi bisa parah dan mengancam jiwa. Jika Anda memiliki intoleransi laktosa, itu berarti tubuh Anda kesulitan mencerna laktosa, tetapi itu tidak mengancam jiwa.
  • Semua orang bisa mengalami intoleransi laktosa. Tingkat alami laktase menurun seiring bertambahnya usia, sehingga intoleransi laktosa dapat muncul seiring bertambahnya usia. Ada juga yang memilikinya akibat genetik dari lahir.
  • Intoleransi laktosa dapat didiagnosis. Singkirkan semua produk susu selama beberapa minggu untuk melihat apakah gejala intoleransi laktosa Anda membaik. Untuk jawaban yang lebih pasti, bicarakan dengan dokter Anda, karena gejalanya hampir mirip dengan penyakit celiac.
  • Kalsium tetap penting untuk penderita intoleransi laktosa. Jika Anda mengurangi (atau sangat mengurangi) semua produk susu, pastikan Anda mendapatkan sumber kalsium dari produk pangan lain, seperti susu kedelai, tahu, kangkung, almond, brokoli, dan sereal yang diperkaya kalsium. Penting bagi anak-anak yang menghindari susu untuk mendapatkan kalsium dari sumber lain saat mereka tumbuh dan membangun massa tulang.
  • Penderita intoleransi laktosa masih boleh mengonsumsi produk susu. Untuk mengetahui kadar susu dan produk turunan yang bisa dikonsumsi penderita intoleransi laktosa, Anda harus melakukan uji coba. Makan produk dari susu dalam porsi sangat kecil hingga besar atau hingga Anda mulai merasakan gejala intoleransi laktosa. Selain itu, lebih baik jika Anda tidak langsung minum susu murni, tetapi mulailah dari produk turunannya, seperti keju dan yoghurt.
Baca juga:  Sabun Antibakteri Disebut Berbahaya, Perlu Beralih Pada Probiotik?

Pelajari fakta di atas dengan seksama, sehingga Anda bisa mengetahui apakah Anda benar-benar intoleransi laktosa atau alergi. Apalagi, saat ini banyak produk susu beredar yang sudah dicampur dengan berbagai bahan pangan, seperti kacang dan minyak nabati. Beberapa orang tampaknya lebih cenderung alergi bahan tambahannya dibandingkan intoleransi laktosa.

[1] Febyan, dkk. 2016. Berbagai Pemeriksaan Penunjang Terkini untuk Diagnosis Intoleransi Laktosa. J.Kedokt Meditek Ukrida, Vol. 22(60): 48-58.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*