Dampak Negatif Sering Bermain Gadget, Konsumsi Minuman Manis pada Remaja Meningkat
Masa remaja adalah masa yang sulit untuk menghindari hal-hal yang menyenangkan terhadap dunia hiburan. Apalagi, saat ini teknologi sudah semakin canggih, banyak remaja yang memanfaatkannya sebagai salah satu hobi yang mereka sukai. Mereka tidak hanya mengandalkan teknologi sebagai media belajar saja, tetapi juga hiburan. Salah satunya dengan menonton layar gadget atau TV hingga terpaku cukup lama sambil menghabiskan minuman manis.
Banyak penelitian bermunculan mengenai perilaku remaja tersebut, yang menyebutkan seorang remaja yang suka menonton akan lebih sering mengonsumsi makanan atau minuman manis dan lebih sering mengonsumsi minuman bersoda. Memang, minum minuman manis sembari menyaksikan hiburan di layar TV atau gadget menjadi lebih nikmat dan menghibur, dibanding sekadar menonton saja.
Banyak juga remaja berpendapat bahwa minuman manis dapat meningkatkan kesenangan mereka terhadap tontonan di layar TV atau gadget. Apalagi, saat ini sudah banyak dijumpai beragam minuman manis di toko. Anda bahkan bisa mendapatkan minuman manis dengan mudah tanpa harus membelinya. Seperti membuat es teh dengan gula yang banyak dan tambahan es batu.
Anda juga bisa memesan minuman secara online melalui aplikasi jasa pesan antar makanan. Ini semakin mempermudah seorang remaja untuk mendapatkan minuman atau makanan yang mereka inginkan. Dibanding jaman dulu, ketika orang ingin membeli sesuatu harus keluar dari rumah, sekarang Anda tidak perlu keluar rumah untuk membeli minuman atau makanan kesukaan Anda.
Dengan kecanggihan ini pula, tingkat remaja yang sering mengonsumsi minuman atau makanan manis semakin meningkat. Peningkatan ini semakin bertambah tiap tahunnya, apalagi jika remaja tersebut suka menonton film. Cuaca yang ekstrem juga menjadi salah satu alasan peningkatan konsumsi makanan dan minuman manis pada remaja.
Remaja sendiri memiliki tingkat ambisi yang melebihi orang dewasa, tidak hanya dalam hal pemikiran, tetapi juga keinginan. Di cuaca yang ekstrem dan panas, tentu tidak heran jika banyak remaja yang berambisi untuk membeli minuman manis. Sekarang pun minuman manis juga semakin populer di kalangan remaja.
Tidak hanya berbentuk sirup dan es saja, ada juga aneka minuman manis yang terbuat dari jus buah, campuran teh dan susu, hingga menu minuman manis inovatif menggunakan jeli dan bulir tapioka. Semua ini tentu terlihat sangat menggiurkan jika musim ekstrem dengan cuaca panas. Minuman manis dengan varian unik dan berbeda juga memiliki rasa yang segar dan nikmat,
Namun, Anda juga harus tahu batasan konsumsi minuman manis. Mengonsumsi minuman manis berlebihan tidak baik untuk remaja dengan usia mulai 15 tahun. Ini juga dapat meningkatkan beragam risiko penyakit di kemudian hari. Efeknya memang tidak terasa saat Anda mengonsumsi minuman manis, tetapi baru akan terasa saat Anda sudah menginjak usia paruh baya, yaitu sekitar 50 tahun.
Efek Minuman Manis pada Kesehatan Remaja
Menurut sebuah penelitian, remaja yang sering terpaku pada layar, baik itu televisi atau perangkat elektronik, tidak hanya memiliki kebiasaan berolahraga yang kurang saja, tetapi mereka juga lebih cenderung suka mengonsumsi minuman manis. Minuman tersebut tidak hanya berupa sirup atau teh, tetapi juga minuman bersoda, berkafein, bahkan beralkohol. Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia saja, tetapi juga di luar negeri.
Para peneliti menganalisis data dari 32.400 siswa lebih di AS di kelas 8 dan 10. Mereka menemukan bahwa lebih dari 27% siswa memiliki asupan gula yang melebihi rekomendasi ahli gizi maupun dokter dan 21% siswa kelebihan asupan kafein yang bersumber dari soda maupun minuman energi.
Laki-laki mengonsumsi lebih banyak soda dan minuman berenergi daripada perempuan, dan siswa kelas 8 mengonsumsi lebih banyak minuman jika dibandingkan siswa kelas 10. Secara keseluruhan, ada penurunan konsumsi soda dan minuman energi antara tahun 2013 hingga tahun 2016, tetapi penggunaan perangkat elektronik yang lebih besar, terutama TV, dikaitkan dengan konsumsi keduanya yang bisa menjadi lebih tinggi.
“Ada kecenderungan penurunan konsumsi minuman energi dan soda antara tahun 2013 hingga tahun 2016,” kata ketua tim studi tersebut. Katherine Morrison, seorang profesor pediatri di Universitas McMaster di Hamilton, Kanada. “Hal ini merupakan data terbaru kami, tetapi penggunaan perangkat elektronik yang lebih besar, terutama TV, terkait dengan lebih banyak konsumsi gula dan kafein di kalangan remaja.”
Tambahan waktu menonton TV selama 1 jam per hari dikaitkan dengan risiko 32% lebih tinggi untuk melebihi rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia untuk gula, dan dengan peningkatan risiko 28% melebihi rekomendasi kafein dari WHO. Setiap jam sehari berbicara di ponsel atau menggunakan media sosial juga dikaitkan dengan peningkatan risiko melebihi rekomendasi tambahan gula dan kafein, menurut penelitian. “Mengatasi konsumsi gula dan kafein yang lebih tinggi melalui konseling atau promosi kesehatan sangatlah membantu para remaja tersebut dalam mengatasi kebiasaan buruk mereka,” kata Morrison dalam rilis berita di Universitas McMaster di Hamilton.
Minuman yang manis dengan kandungan gula dan gula buatan dikaitkan dengan obesitas, diabetes, gigi berlubang, dan kurang tidur. Terlalu banyak kafein dikaitkan dengan sakit kepala, tekanan darah tinggi, mual, muntah, diare, nyeri dada, dan kurang tidur. Untuk itu, dengan adanya penelitian tersebut, diharapkan banyak remaja yang sadar dengan kebiasaan buruk mereka terhadap mengonsumsi minuman manis dan berhenti melakukannya.



Leave a comment