Awas, Pemanis Buatan Sebabkan Obesitas pada Wanita

Ilustrasi: menuangkan pemanis buatan pada minuman (sumber: healthline.com) Ilustrasi: menuangkan pemanis buatan pada minuman (sumber: healthline.com)

Tak sedikit orang yang menggunakan pemanis buatan sebagai alternatif gula pasir di rumah, karena percaya bahwa gula murni bisa menyebabkan risiko diabetes. Namun, tahukah Anda jika pemanis buatan bisa menjadi lebih berbahaya daripada gula tebu? Tak hanya berisiko mengembangkan sejumlah penyakit, pemanis buatan diklaim bisa menyebabkan obesitas.

Bahaya Pemanis Buatan

Sebelumnya, pemanis dapat dikelompokkan menjadi dua, yakni pemanis alami dan buatan atau sintetis. Pemanis alami didapatkan dari tanaman atau hewan, seperti tebu, ketela, umbi, buah-buahan, madu, dan jagung. Sementara itu, pemanis sintetis berasal dari bahan kimia sebagai bahan tambahan yang dapat memberikan rasa manis pada makanan atau minuman, tetapi tidak memiliki nilai gizi. Contoh pemanis buatan yang umum pada bahan makanan dan minuman antara lain sakarin, siklamat, aspartam, dulsin, sorbitol sintetis, dan nitro-propoxy-anilin.[1]

Banyak aspek yang dipakai sebagai dasar pertimbangan dalam menentukan jenis pemanis buatan untuk produk makanan dan minuman, seperti kalori, tingkat kemanisan, toksisitas, dan pengaruh atau efek terhadap metabolisme manusia. Selain itu, pemanis buatan yang ditambahkan ke dalam produk juga harus sesuai standar atau batasan jumlah maksimum penggunaan.

Sayangnya, penggunaan pemanis buatan oleh sejumlah oknum pedagang makanan dan minuman tidak memperhatikan hal tersebut. Selain itu, masih banyak orang awam yang kebingungan dengan dosis yang tepat untuk memakainya. Beberapa orang malah berpikir bahwa pemanis buatan bisa menggantikan gula pasir di rumah sebagai gula diet. Hal inilah yang menyebabkan timbulnya berbagai efek samping.

Baca juga:  Wajah Jadi Aneh Gara-gara Filler, Tren Pemakaian Hyaluronidase Mulai Populer

Jika terlalu banyak mengonsumsi pemanis buatan tanpa diimbangi gizi yang seimbang, metabolisme tubuh bisa terganggu. Selain itu, pemanis sintetis bisa menyebabkan kanker kandung kemih, migraine, meningkatkan risiko kanker pankreas, serangan jantung, alergi, diare, hipertensi, impotensi, iritasi, insomnia, kehilangan daya ingat, dan keterbelakangan mental pada anak.[2] Penggunaan pemanis buatan terlalu sering dalam jumlah banyak juga bisa meningkatkan risiko obesitas.

Ilustrasi: pemanis buatan dalam kemasan (sumber: verywellhealth.com)

Ilustrasi: pemanis buatan dalam kemasan (sumber: verywellhealth.com)

Pemanis Buatan Menyebabkan Obesitas

Masalah umum yang terjadi akibat mengonsumsi pemanis buatan secara berlebihan adalah obesitas. Dilansir dari WebMD, jika Anda beralih ke gula sintetis yang terbuat dari sukrosa sebagai strategi penurunan berat badan, sebuah studi justru mengungkapkan bahwa pemanis ini bisa menyebabkan nafsu makan meningkat, khususnya pada wanita, sebagai faktor obesitas.

Gula sintetis sukrosa tersedia dalam banyak bentuk, termasuk bubuk. Tidak hanya ada dalam gula diet, tetapi juga terkandung dalam permen, minuman diet, soda zero kalori, sirup, dan saus. Dalam penelitian ini, disebutkan perempuan yang minum produk dengan komposisi gula sintetis, lebih cepat lapar dibandingkan mereka yang minum produk berbahan gula asli.

Baca juga:  Waspada Tanda-Tanda Gaslighting dan Cara Mengatasinya

Seorang profesor dari Universitas Keck School of Medicine, Kathleen Page, mengatakan, hasil studi juga menunjukkan bahwa wanita dengan obesitas lebih sensitif terhadap pemanis buatan. Hal ini karena mereka sudah terlalu sering mengonsumsinya. Pemanis sintetis diketahui memiliki sifat yang bisa mengelabui otak agar merasa terus lapar dan cepat lapar. Sebagai solusi, tentunya Anda harus makan dan inilah yang membuat lemak menumpuk dan berat badan naik.

Meskipun banyak orang menggunakan pemanis buatan untuk mencoba menurunkan berat badan, tidak semua bisa mendapatkan manfaatnya, dan Page mencatat bahwa cara ini masih kontroversial. Beberapa studi juga menunjukkan, ada orang yang berhasil diet sehat dengan menggunakan pemanis sintetis dan ada juga yang mengalami kegagalan. Kegagalan dalam menggunakan gula diet diketahui bisa menyebabkan berat badan naik, diabetes tipe 2, dan gangguan metabolisme.

Ilustrasi: timbang badan (sumber: harvard.edu)

Ilustrasi: timbang badan (sumber: harvard.edu)

Sebuah penelitian baru yang diterbitkan secara online pada 28 September 2021 di JAMA (The Journal of the American Medical Association) mungkin bisa Anda jadikan pertimbangan sebelum memakai pemanis sintetis. Penelitian ini menunjukkan efek samping pemanis buatan berdasarkan obesitas dan jenis kelamin, sehingga terbilang lebih akurat dibanding penelitian sebelumnya yang hanya dilakukan pada wanita.

Baca juga:  Penuhi Kebutuhan Nutrisi Bayi dengan Minum Vitamin Prenatal Harian

Studi tersebut menunjukkan, penambahan pemanis buatan jenis non-nutrisi ke dalam makanan akan meningkatkan rasa manis yang dapat merusak respons otak terhadap makanan, dengan konsekuensi negatif untuk perilaku makanan dan metabolisme, terutama pada wanita. Namun, jika Anda merasa hasil penelitian ini kurang tepat, Anda bisa berkonsultasi secara langsung dengan ahli gizi atau dokter.

Sebagai tips bagi Anda yang ingin diet sehat, tetapi tidak ingin merasakan efek samping pemanis buatan, sebaiknya Anda berkonsultasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah glukosa dan kalori yang Anda butuhkan setiap hari. Selain itu, Anda bisa mengganti pemanis buatan dengan pemanis alami yang sehat, meskipun begitu jumlahnya harus sesuai dengan kebutuhan. Memang untuk diet sehat, Anda harus mampu mengurangi rasa ingin makan yang manis-manis.

[1] Utomo, Y., dkk. 2012. Studi Histopatologi Hati Mencit (Mus musculus L.) yang Diinduksi Pemanis Buatan. Jurnal MIPA Unnes, Vol. 35(2): 122-129.

[2] Jamil, Azhar, Yusuf Sabilu, Sabril Munandar. 2017. Gambaran Pengetahuan, Sikap, Tindakan dan Identifikasi Kandungan Pemanis Buatan Siklamat pada Pedagang Jajanan Es di Kecamatan Kadia Kota Kendari Tahun 2017. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Universitas Halu Oleo, Vol. 2(6): 1-11.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*