Masalah Umum Ibu Saat Memberi MPASI

Ilustrasi: memberi asupan MPASI (sumber: smababy.co.uk) Ilustrasi: memberi asupan MPASI (sumber: smababy.co.uk)

MPASI (Makanan Pendamping ASI) merupakan makanan dan minuman yang harus diberikan kepada anak usia 6 hingga 24 bulan untuk memenuhi kebutuhan gizinya.[1] Sayangnya, tidak mudah memberi MPASI kepada anak-anak dan kerap kali para ibu direpotkan dengan berbagai masalah, seperti picky eater, muntah, alergi, dan kolik pada bayi.

Dilansir dari WebMD, ada beberapa permasalahan yang umum saat orang tua mulai memberikan MPASI pada anaknya. Permasalahan ini timbul akibat anak yang belum terbiasa makan makanan lain selain ASI. Lalu, apa saja masalah-masalah yang kerap melanda para ibu tersebut?

Masalah Saat Memberi MPASI

  • Bayi menghindari makanan baru. Anak-anak yang belajar makan produk MPASI, biasanya akan menolak atau menghindari makanan baru. Untuk itu, Anda harus mulai memberikan MPASI dalam porsi kecil. Biarkan bayi mempelajari bentuk, rasa, tekstur, aroma, dan warna MPASI mereka sebelum melahapnya.
  • Makanan berceceran di lantai. Bayi yang mulai belajar makan dan disuapi, terkadang penasaran untuk belajar makan sendiri. Di usia sembilan bulan, biasanya anak mulai merebut sendok di tangan Anda dan mencoba menyendokkan MPASI ke mulut mereka. Namun, otot tangan dan saraf motorik si kecil yang masih lemah membuat makanan berceceran di lantai dan baju mereka. Sehingga, Anda hanya harus mengepel lantai dan mengganti baju si kecil. Namun, cobalah untuk bersabar dan membiarkan mereka belajar, karena ini adalah proses bagi bayi untuk lebih mengenal makanannya.
  • Muntah-muntah atau refluks. Bayi juga bisa mengalami refluks, yaitu saat makanan yang ditelan kembali ke kerongkongan. Biasanya, ini tidak hanya membuat bayi muntah, tetapi juga menangis dan trauma dengan MPASI. Untuk mencegah dan mengatasinya, berilah makanan dalam jumlah lebih sedikit dan bertekstur sangat lembut. Selain itu, usahakan anak makan dengan posisi duduk dan leher tegak. Biasanya, refluks akan berhenti saat si kecil berusia 12 hingga 14 bulan.
  • Picky eater atau memilih-milih makanan. Sangat normal bagi bayi yang baru belajar makan untuk memilih-milih makanannya. Biasanya ini terjadi hingga berbulan-bulan dan kerap membuat ibu cemas, karena anaknya tidak bisa makan dengan baik. Untuk mengatasinya, Anda harus membiasakan anak-anak makan jenis MPASI yang sama selama 3 hingga 5 hari. Setelah mereka terbiasa dengan makanannya, Anda baru bisa menggantinya dengan jenis lain.
  • Alergi dan intoleransi makanan. Dalam slide show yang ditunjukkan WebMD, setidaknya sekitar 8% anak mengidap alergi makanan. Gejala alergi yang umum pada bayi, antara lain ruam, diare, muntah, dan sakit perut mendadak. Untuk itu, Anda harus berkonsultasi dengan dokter saat si kecil mengalami gejala tersebut.
  • Kolik dan nafsu makan menurun. Permasalahan umum yang sering membuat para ibu sakit kepala adalah ketika bayinya kolik. Gangguan pencernaan ini diketahui mampu menurunkan nafsu makan, dengan gejala rewel, muntah, diare, demam, dan penurunan berat badan. Untuk mengatasinya, Anda harus segera membawa anak Anda ke dokter spesialis anak.
  • Kecanduan makanan instan. Sama seperti orang dewasa yang kecanduan makanan instan, bayi juga bisa mengalaminya. Sebaiknya Anda tidak memberikan makanan instan pada bayi Anda setiap hari, apalagi makanan bayi yang mengandung pewarna dan MSG. Kecanduan makanan instan konon dapat menyebabkan bayi menjadi picky eater dan tidak mau makan MPASI buatan sendiri.
  • Dehidrasi atau kehausan. Bagi Anda yang baru memiliki momongan dan ingin memberikan MPASI, pastikan Anda memberikan makanan yang lembek dengan kandungan air yang cukup. Selain itu, MPASI bukan makanan pengganti ASI, tetapi pendamping ASI. Sehingga, meskipun Anda sudah membuatkan bayi Anda MPASI, Anda juga harus tetap menyediakan ASI dalam jumlah normal.
  • Menggigit sendok. Biasanya, bayi yang belajar makan dan sudah tumbuh gigi akan menggigit sendok dan sedotan. Hal ini terbilang cukup berbahaya, apalagi jika sendok yang Anda pakai terbuat dari logam. Selain itu, kebiasaan bayi seperti ini diketahui bisa menurunkan nafsu makan mereka dan membuat waktu makan menjadi lebih lambat. Sebagai solusi, Anda bisa mulai memilih MPASI yang bertekstur agak kasar dan memberi mereka snack bayi.
Baca juga:  Bukan Hanya untuk Memasak, Ini Sederet Kegunaan Tepung Jagung yang Perlu Anda Ketahui

Anda juga perlu memilih MPASI yang tepat untuk buah hati. Sistem pencernaan bayi yang belum berkembang tidak dapat menangani berbagai jenis makanan yang dikonsumsi orang dewasa. Sebagai contoh, Anda tidak bisa memberikan madu asli kepada bayi seperti seperti ketika Anda ingin makan wafel. Madu diklaim bisa menyebabkan botulisme yang berakibat fatal bagi kesehatan anak.

[1] Lestiarini, Santi & Yuly Sulistyorini. 2020. Perilaku Ibu pada Pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) di Kelurahan Pegirian. Jurnal Promkes Universitas Airlangga, Vol. 8(1): 1-11.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*