Sering Alami Gangguan Tidur? Waspada Penyakit Jantung

Ilustrasi: penyakit jantung (sumber: health) Ilustrasi: penyakit jantung (sumber: health)

Penyakit jantung, terutama jantung koroner diperkirakan 30% menjadi penyebab kematian di seluruh dunia, setelah stroke dan hipertensi.[1] Ada banyak hal yang menjadi penyebabnya dan salah satunya adalah gangguan tidur. Nah, bagi Anda yang sering insomnia, terbangun di tengah malam, hingga begadang, sebaiknya Anda waspada karena bisa meningkatkan risiko terhadap penyakit jantung.

Bahaya Gangguan Tidur

Bukti yang berkembang dan dipaparkan jurnalis Harvard Health Publishing menunjukkan, kurang tidur terkait dengan sejumlah masalah kesehatan, termasuk risiko tekanan darah tinggi, diabetes, obesitas, dan penyakit jantung. Di sisi lain, penelitian terbaru mengungkapkan, orang dewasa berusia paruh baya yang memiliki kombinasi masalah tidur, memiliki risiko tiga kali lipat terkena penyakit jantung.

Kombinasi masalah tidur, contohnya Anda sulit tidur dan setelah tertidur akan bangun di tengah malam tanpa sebab. Tak hanya itu, bagi orang dewasa yang kuantitas tidurnya tidak cukup, yakni kurang dari enam jam semalam juga berisiko tiga kali lipat terkena penyakit jantung.

“Temuan baru ini menyoroti pentingnya tidur yang cukup,” kata spesialis tidur Dr. Lawrence Epstein, asisten profesor kedokteran di Harvard Medical School. “Banyak hal yang dapat menyebabkan kurang tidur. Beberapa orang tidak menyisihkan cukup waktu untuk tidur. Yang lain memiliki kebiasaan yang mengganggu waktu tidur. Dan beberapa orang memiliki kondisi medis yang mengganggu kualitas atau kuantitas tidurnya.”

Baca juga:  Selain Wortel, 10 Makanan Ini Bermanfaat Untuk Menjaga Kesehatan Mata

Risiko Penyakit Jantung Terkait Gangguan Tidur

Para peneliti mengambil data kebiasaan tidur 7.483 orang dewasa dengan usia rata-rata 53 tahun di United States Study Midlife yang memiliki riwayat penyakit jantung. Sebagian peserta (663 orang) menggunakan perangkat di pergelangan tangan yang merekam aktivitas tidur mereka (aktigrafi). Sedikit lebih dari setengah peserta adalah perempuan.

Para peneliti memilih untuk fokus pada orang-orang paruh baya, karena saat itulah orang dewasa biasanya mengalami pengalaman hidup yang beragam dan penuh tekanan, baik dalam pekerjaan maupun kehidupan keluarga mereka. Saat itu juga arteri jantung mulai tersumbat, terjadi aterosklerosis (tanda awal penyakit jantung), serta masalah tidur terkait usia mulai muncul.

Ilustrasi: gangguan tidur (sumber: henryford)

Ilustrasi: gangguan tidur (sumber: henryford)

Lalu, bagaimana para peneliti menilai masalah tidur mereka? Kesehatan tidur diukur dengan menggunakan gabungan dari beberapa aspek tidur seperti berikut.

Baca juga:  Pilihan Bedak MakeOver yang Recommended untuk Kulit Berminyak

Aspek Tidur

  • Apakah peserta tidur lebih lama pada hari kerja versus hari tidak bekerja?
  • Apakah peserta mengalami kesulitan tidur, terbangun di malam hari atau dini hari, dan tidak bisa kembali tidur, merasa mengantuk di siang hari?
  • Seberapa sering mereka tidur siang selama lebih dari lima menit?
  • Berapa lama mereka tertidur pada waktu tidur?
  • Berapa jam mereka biasanya tidur setiap malam?

Untuk menilai masalah yang berhubungan dengan jantung, para peneliti bertanya kepada peserta, ‘Apakah Anda pernah memiliki masalah jantung yang dicurigai atau dikonfirmasi oleh dokter?’ dan ‘Pernahkah Anda merasakan nyeri hebat di bagian depan dada yang berlangsung setengah jam atau lebih?’

Hasil Penelitian

Jawaban ‘ya’ untuk kedua pertanyaan tersebut memicu pertanyaan lanjutan tentang sejumlah diagnosis. Itu mencakup masalah seperti angina (nyeri dada karena kurangnya aliran darah ke otot jantung), serangan jantung, penyakit katup jantung, detak jantung yang tidak teratur atau cepat, dan gagal jantung.

Para peneliti mengontrol faktor-faktor yang mungkin mempengaruhi hasil, termasuk riwayat keluarga penyakit jantung, merokok, aktivitas fisik, jenis kelamin, dan ras. Mereka menemukan, setiap peningkatan tambahan dalam masalah tidur yang dilaporkan sendiri dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit jantung sebesar 54% dibandingkan dengan orang dengan pola tidur normal. Namun, peningkatan risiko jauh lebih tinggi, 141% di antara orang-orang yang memberikan data actigraphy perangkat yang dikenakan di pergelangan tangan, yang dianggap lebih akurat.

Baca juga:  Update Jenis Bedak untuk Cacar Air yang Dijual Bebas di Pasaran

Jika Anda sulit tidur, ada banyak cara untuk mengatasi masalah umum ini, mulai dari penyesuaian sederhana, mengontrol rutinitas harian, hingga terapi perilaku kognitif khusus yang menargetkan masalah tidur. Ini patut dicoba, karena mendapatkan tidur malam yang nyenyak membantu dalam banyak hal.

“Mengobati gangguan tidur dapat membuat Anda merasa lebih waspada di siang hari, meningkatkan kualitas hidup Anda, dan mengurangi risiko kesehatan yang terkait dengan kurang tidur,” kata Dr. Epstein.

[1] Zahrawardani, Diana, Kuntio Sri Herlambang, Hema Dewi Anggraheny. 2013. Analisis Faktor Risiko Kejadian Penyakit Jantung Koroner di RSUP Dr Kariadi Semarang. Jurnal Kedokteran Muhammadiyah Universitas Muhammadiyah Semarang, Vol. 1(2): 13-20.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*