Resep & Cara Masak Siput Laut, Kuliner Sederhana dengan Rasa Istimewa
Siput laut begitu populer dijadikan masakan oleh masyarakat Indonesia yang tinggal di kawasan pesisir, seperti Kepulauan Riau dan sebagainya. Di Kepri, masyarakat sekitar menyebut siput laut dengan istilah siput gonggong. Cara masak siput laut pun kabarnya tidak terlalu sulit dan bisa jadi santapan sehari-hari yang nikmat.
Di Kepulauan Riau siput gonggong telah dimanfaatkan cukup lama, terutamaoleh masyarakat pesisir, yang menjadikannya sumber makanan langsung. Selainitu siput gonggong memberikan manfaat terhadap perekonomian masyarakat pesisir sebagai makanan has dari Kepulauan Riau. Siput gonggong juga memiliki kandungan nilai gizi yang cukup tinggi dan baik bagi kesehatan.
Pengambilan siput gonggong di alam dilakukan dengan cara menyelam dan memungut dengan tangan. Hal ini dapat dilakukan jika kondisi perairan sedang surut dan gelombang cukup mendukung. Jika kondisi air pasang, sulit bagi nelayan untuk mendapatkan siput gonggong, begitupun halnya jika kondisi perairan bergelombang yang menyebabkan tingkat kekeruhan semakin tinggi, sehingga membatasi pandangan saat menyelam untuk mendapatkan siput gonggong.
Waktu pengambilan siput gonggong yang paling efektif adalah pada bulan Februari hingga Juni, selain bulan-bulan tersebut aktivitas penangkapan tidak maksimal karena kondisi perairan yang bergolak dan menyebabkan meningkatnya kekeruhan air yang akan menyulitkan nelayan untuk mencari siput gonggong di alam.
Sebaran siput gonggong umumnya berada pada kedalaman 1 m hingga 6 meter, eksploitasi siput gonggong yang berada pada kedalaman 2 m -4 m hanya dapat dilakukan oleh orang yang benar-benar memiliki kemampuan menyelam yang memadai.[1]
Siput gonggong ini biasanya direbus dan enak dimakan hangat-hangat dengan saus sambal.[2] Selain direbus, siput laut atau siput gonggong juga bisa diolah dengan cara ditumis atau digoreng. Sebagai gambaran, berikut ini resep dan cara masak siput laut yang bisa Anda coba di rumah.
Resep Siput Laut Rica-rica
Bahan Siput Laut Rica-rica
- 1 kg siput laut
- 7 siung bawang merah
- 4 siung bawang putih
- 1 ons cabe rawit
- 5 buah cabai merah besar
- 2 ruas jahe bersih digeprek
- 2 ruas lengkuas bersih digeprek
- 2 batang sereh bersih digeprek
- 2 lembar daun jeruk
- 3 lembar daun salam
- 1 buah tomat potong kotak
- Daun bawang secukupnya
- 2 sdt garam
- Kaldu bubuk secukupnya
- 5 sdm kecap manis (opsional)
Cara Membuat Siput Laut Rica-rica
- Keluarkan siput laut dari cangkangnya, rebus dengan jahe geprek sampai dagingnya lunak (sekitar 30-45 menit dengan kondisi panci tertutup rapat), lalu matikan api. Sisihkan siput dan jahe, air rebusan jangan dibuang.
- Haluskan cabe rawit, cabe merah besar, dan barang putih. Iris bawang merah.
- Panaskan minyak goreng di wajan, lalu goreng terlebih dahulu bawang merah hingga wangi dan berubah warna. Masukkan bumbu halus serta lengkuas, daun jeruk, daun salam, dan sereh. Aduk sampai bumbu halus matang dan wangi, kemudian masukkan siput laut dan jahe yang sudah direbus. Aduk sampai rata.
- Tuang air rebusan siput (sekitar 500 ml), masukkan tomat dan potongan daun bawang. Aduk sampai air sedikit menyusut.
- Bumbui dengan garam, kaldu bubuk, dan kecap manis. Aduk sampai rata, koreksi rasa. Apabila rasanya sudah pas, angkat dan sajikan dengan nasi hangat.
Selain diolah dalam wujud sudah dikeluarkan dari cangkang, ada juga yang mengolah siput laut dalam wujud utuh atau dipotong sedikit bagian ekornya, dan ditumis bersama bumbu-bumbu. Kemudian, setelah matang siput laut bisa dinikmati dengan cara diisap dari bagian “mulut” siputnya. Bagaimana? Cukup mudah bukan cara memasak siput laut? Siput laut biasanya ada di pasar-pasar tradisional tertentu atau bahkan di tempat pelelangan ikan.
[1] Yanti, S. 2017. Potensi dan Pola Pemanfaatan Siput Gonggong di Perairan Pesisir Desa Pangkil Tanjungkeramat Kecamatan Teluk Bintan Kabupaten Bintan Provinsi Kepulauan Riau [Skripsi]. Tanjungpinang (ID): Universitas Maritim Raja Ali Haji.
[2]Khadafi, R. 2008. Atlas Kuliner Nusantara Makanan Spektakuler 33 Provinsi. Raditya D, editor. Jakarta: Bukune, hlm 10.


Leave a comment