Imunisasi Dasar Gratis dari Pemerintah Beserta Jadwal Pemberiannya

Ilustrasi: imunisasi bayi (sumber: theconversation) Ilustrasi: imunisasi bayi (sumber: theconversation)

Di Indonesia terdapat program imunisasi yang disusun oleh pemerintah melalui Departemen Kesehatan-Program Pengembangan Imunisasi (PPI-Depkes) dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) yang menyusun Satgas Imunisasi PP IDAI.[1] Imunisasi dasar dari pemerintah tersebut bersifat gratis dan mudah diakses oleh masyarakat luas.

Sebelumnya, pemerintah melalui PPI-Depkes menentukan jenis imunisasi yang wajib diberikan, yakni meliputi BCG, DPT, Polio, Campak, dan Hepatitis B. Kelima jenis imunisasi ini diwajibkan dan menjadi program pemerintah, karena angka kematian, cacat, dan sakit akibat penyakit-penyakit ini masih tinggi dan imunisasi ini memberikan perlindungan yang lama. Kelima jenis imunisasi ini diberikan secara gratis oleh pemerintah di puskesmas, posyandu, dan rumah sakit pemerintah.

Untuk jenis imunisasi tambahan, seperti MMR, Hib, demam tifoid, cacar air (varicella), hepatitis A, pneumokokus, pemerintah mengizinkan dan menganjurkan sepanjang bermanfaat untuk anak, yang disesuaikan dengan kesehatan masing-masing anak dan apakah imunisasi tersebut diperlukan. Pemberian ini bisa diputuskan oleh dokter dan orang tua. Biasanya jenis imunisasi tambahan diberikan oleh dokter praktik atau rumah sakit dan harganya relatif mahal.[2]

Selain itu, imunisasi dasar diberikan kepada balita peserta BPJS secara gratis dengan penyediaan vaksin oleh pemerintah melalui dinas kesehatan setempat. Berikut ini daftar imunisasi gratis dari pemerintah.

Imunisasi Gratis dari Pemerintah

  • Vaksin Hepatitis B (HB-0) diberikan pada bayi yang baru lahir agar satu paket dengan persalinan. Akan tetapi, layanan ini dikecualikan untuk kasus bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR).
  • Vaksin BCG 1 kali untuk bayi usia 1 bulan.
  • Vaksin Polio sebanyak 4 kali, masing-masing ketika bayi berumur 1 bulan, 2 bulan, 3 bulan, dan 4 bulan.
  • Vaksin DPT/HIB sebanyak 3 kali, masing-masing saat bayi berumur 2 bulan, 3 bulan, dan 4 bulan.
  • Vaksin MRuntuk pengganti campak. Sebelumnya, vaksin campak diberikan pada anak umur 9 bulan. Tetapi, kini pemerintah menggunakan vaksin MR yang merupakan vaksin campak dan rubella. Vaksin MR diberikan untuk anak usia 9 bulan, 18 bulan, dan kelas 1 SD atau sederajat.
Baca juga:  Bagaimana Cara Mendidik Anak Supaya Tidak Egois?

Imunisasi dasar tersebut bisa diperoleh secara gratis di posyandu atau puskesmas terdekat dari rumah.

Ilustrasi: imunisasi bayi (sumber: ucla.edu)

Ilustrasi: imunisasi bayi (sumber: ucla.edu)

Dilansir dari situs resmi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), berikut ini jadwal imunisasi dasar lengkap untuk anak usia 0-18 tahun.

Jadwal Imunisasi Anak Umur 0-18 Tahun

  • Vaksin Hepatitis B (HB) monovalen: diberikan pada bayi segera setelah lahir sebelum berumur 24 jam, didahului penyuntikan vitamin K1 minimal 30 menit sebelumnya.
  • Vaksin polio 0 (nol): diberikan segera setelah lahir.
  • Vaksin BCG: diberikan segera setelah lahir atau sesegera mungkin sebelum bayi berumur 1 bulan.
  • Vaksin DPT: dapat diberikan mulai umur 6 minggu berupa vaksin DTwP atau DTaP.
  • Vaksin pneumokokus (PCV): diberikan pada umur 2,4, dan 6 bulan dengan booster pada umur 12 – 15 bulan.
  • Vaksin rotavirus monovalen: diberikan 2 kali, dosis pertama mulai umur 6 minggu, dosis kedua dengan interval minimal 4 minggu harus selesai pada umur 24 minggu.
  • Vaksin rotavirus pentavalen: diberikan 3 kali, dosis pertama 6-12 minggu, dosis kedua dan ketiga dengan interval 4 sampai 10 minggu, harus selesai pada umur 32 minggu.
  • Vaksin influenza: diberikan mulai umur 6 bulan, diulang setiap tahun. Pada umur 6 bulan sampai 8 tahun imunisasi pertama 2 dosis dengan interval minimal 4 minggu. Umur > 9 tahun, imunisasi pertama 1 dosis.
  • Vaksin MR/MMR: pada umur 9 bulan berikan vaksin MR. Bisa sampai umur 12 bulan belum mendapat vaksin MR, dapat diberikan MMR. Umur 18 bulan berikan MR atau MMR. Umur 5-7 tahun berikan MR (dalam program BIAS kelas 1) atau MMR.
  • Vaksin Japanese encephalitis (JE): diberikan mulai umur 9 bulan di daerah endemis atau yang akan bepergian ke daerah endemis.
  • Vaksin varisela: diberikan mulai umur 12-18 bulan. Pada umur 1-12 tahun diberikan 2 dosis dengan interval 6 minggu sampai 3 bulan. Umur 13 tahun atau lebih dengan interval 4 sampai 6 minggu.
  • Vaksin hepatitis A: diberikan 2 dosis mulai umur 1 tahun, dosis ke-2 diberikan 6 bulan sampai 12 bulan kemudian.
  • Vaksin tifoid polisakarida: diberikan mulai umur 2 tahun dan diulang setiap 3 tahun.
  • Vaksin human papilloma virus (HPV): diberikan pada anak perempuan umur 9-14 tahun 2 kali dengan jarak 6-15 bulan (atau pada program BIAS kelas 5 dan 6). Umur 15 tahun atau lebih diberikan 3 kali dengan jadwal 0,16 bulan (vaksin bivalen) atau 0,2,6 bulan (vaksin quadrivalent).
  • Vaksin dengue: diberikan pada anak umur 9-16 tahun dengan seropositive dengue yang dibuktikan adanya riwayat pernah dirawat dengan diagnosis dengue (pemeriksaan antigen NS-1 dan atau uji serologisIgM/IgGantidengue positif) atau dibuktikan dengan pemeriksaan serologi IgG anti dengue positif.
Baca juga:  Bagaimana Cara Mendidik Anak Agar Tidak Rasis?

Dengan bertambahnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, pemberian beberapa jenis vaksin secara bersamaan semakin banyak digunakan dan terus berkembang. Keuntungan pemberian vaksin kombinasi ini untuk mengurangi jumlah suntikan yang diberikan kepada anak, lebih praktis, dan memperluas cakupan imunisasi.

Contoh vaksin kombinasi adalah DPT (kombinasi dari vaksin difteri, pertusis, dan tetanus), MMR (kombinasi vaksin measles/campak, mumps/gondongan, rubella/campak jerman), vaksin kombinasi DaPT-Hib, 5 in 1 (kombinasi vaksin DPT, Polio, Hib), 6 in 1 (kombinasi vaksin DPT, Polio, Hib, Hepatitis B).[3]

[1]Suririnah. 2009. Buku Pintar Merawat Bayi 0-12 Bulan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, hlm 200.

[2]Ibid., hlm 201.

[3]Ibid., hlm 211.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*