Aspirin Bisa Atasi Preeklampsia pada Ibu Hamil?

Ilustrasi: preeklampsia pada ibu hamil (sumber: nabtahealth.com) Ilustrasi: preeklampsia pada ibu hamil (sumber: nabtahealth.com)

Salah satu komplikasi umum yang terjadi pada ibu hamil adalah preeklampsia. Gangguan kehamilan ini jika tidak segera ditangani bisa menyebabkan tekanan darah tinggi dan kelebihan protein dalam urine. Nah untuk mengatasi serta mencegahnya, biasanya dokter akan meresepkan aspirin.

Bahaya Preeklampsia pada Ibu Hamil

Preeklampsia merupakan hipertensi pada usia kehamilan 20 minggu atau setelah persalinan dengan tekanan darah lebih dari 140/90 mmHg yang dilakukan pengukuran dua kali selang empat jam disertai dengan proteinuria 300 mg protein dalam urine selama 24 jam.[1] Gangguan kehamilan ini bisa bermula pada masa antenatal, intrapartum, atau postpartum.

Terbagi menjadi preeklampsia ringan dan berat, penyakit ini termasuk dalam triad of mortality (selain pendarahan dan infeksi). Untuk mendeteksi preeklampsia, dapat dilihat dari gejala umum yang muncul, seperti kenaikan berat badan diikuti edema kaki atau tangan, kenaikan tekanan darah, dan proteinuria.

Dilansir dari Harvard Health Publishing, preeklampsia bisa menyebabkan kelainan ginjal, masalah pembekuan darah, sakit kepala, stroke, dan kematian pada janin. Karena, preeklampsia menyebabkan nutrisi dan oksigen sulit diserap janin yang sedang tumbuh. Tak hanya itu, gangguan kehamilan ini adalah salah satu faktor yang memengaruhi risiko lahir prematur dan berat badan lahir bayi rendah.

Baca juga:  Punya Rambut Lepek? Ini Deretan Shampo untuk Kulit Kepala Berminyak yang Bisa Dicoba

Meskipun preeklampsia termasuk gangguan umum, tidak semua wanita hamil mengalaminya. Ada beberapa faktor khusus yang membuat perempuan memiliki risiko yang tinggi terhadap preeklampsia.

Faktor Pemicu Preeklampsia pada Ibu Hamil

  • Jumlah janin dalam kandungan lebih dari satu, seperti hamil kembar dan hamil kembar tiga.
  • Ibu hamil menderita diabetes.
  • Hamil di usia 35 tahun ke atas.
  • Mengalami obesitas saat hamil dengan indeks massa tubuh lebih dari 30.
  • Memiliki tekanan darah tinggi sebelum hamil.
  • Memiliki penyakit ginjal atau gangguan autoimun saat hamil.

Secara keseluruhan, preeklamsia memengaruhi sekitar satu dari 25 kehamilan di Amerika Serikat. Ini menyumbang hampir satu dari setiap lima kelahiran prematur yang diinduksi secara medis. Sementara itu, di Indonesia ada sekitar 800 perempuan meninggal akibat kehamilan dan persalinan, dengan 80% di antaranya didiagnosis mengalami preeklampsia. Jumlah kematian wanita hamil akibat preeklampsia tidak bisa disepelekan, sehingga perlu adanya solusi yang tepat untuk mengatasinya.

Ilustrasi: periksa kehamilan (sumber: wfmz.com)

Ilustrasi: periksa kehamilan (sumber: wfmz.com)

Aspirin untuk Preeklampsia pada Ibu Hamil

Menurut US Preventive Services Task Force (USPSTF), aspirin dosis rendah yang diberikan setiap hari kepada perempuan hamil mampu membantu mencegah gangguan kehamilan tersebut. Dalam pernyataan tahun 2021, USPSTF merekomendasikan agar dokter meresepkan aspirin dosis rendah harian (81 mg) untuk wanita hamil yang berisiko tinggi terhadap preeklamsia. Aspirin harus mulai diberikan kepada ibu hamil saat akhir trimester pertama (12 minggu kehamilan) dan dilanjutkan sampai kelahiran.

Baca juga:  Diklaim Aman, Laser Hair Removal Ternyata Memiliki Efek Samping

Rekomendasi tersebut berdasarkan penelitian dari tinjauan peran aspirin dalam mencegah preeklampsia serta dengan rumusan masalah, apakah aspirin dapat mengurangi komplikasi pada ibu hamil, janin, dan bayi yang baru lahir atau tidak. Tak hanya itu, studi juga dilakukan untuk mengetahui keamanan aspirin dosis rendah pada kehamilan.

Sebanyak 34 uji klinis yang dilakukan secara acak telah membandingkan efek pemberian aspirin dosis rendah dan plasebo (pil gula). Sebagian besar peserta uji coba ini adalah wanita yang masih muda dan aspirin dosis rendah diklaim berhasil mengurangi risiko preeklampsia, kelahiran prematur (kelahiran sebelum 37 minggu kehamilan), dan kematian janin.

Tinjauan tersebut juga mempertimbangkan apakah penggunaan aspirin menyebabkan lebih banyak masalah pendarahan. Ketika membandingkan kelompok aspirin dan kelompok plasebo, tidak ada perbedaan yang terjadi pada masalah pendarahan, seperti pendarahan ibu setelah melahirkan, pendarahan otak janin, dan pelepasan plasenta dari dinding rahim terlalu dini.

Baca juga:  Apa Saja Efek KB Suntik 3 Bulan bagi Ibu Menyusui?

Meskipun memiliki sejumlah manfaat, tidak semua ibu hamil harus mengonsumsi aspirin selama kehamilan. Dokter kandungan Anda mungkin akan merekomendasikannya jika Anda pernah mengalami preeklampsia sebelumnya, sudah memiliki tekanan darah tinggi atau diabetes, mengandung janin kembar, dan memiliki penyakit ginjal atau autoimun.

Selain itu, jika Anda merasa membutuhkan dosis yang lebih tinggi dan sedang dalam keadaan hamil, maka Anda harus berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter. Perhatikan pula aturan konsumsi obat dan beritahu dokter apakah Anda sedang mengonsumsi obat-obatan lain atau sedang terapi tertentu selama masa kehamilan sebelum mendapatkan resep aspirin. Hal ini akan membantu dokter untuk mengetahui tingkat keamanan kehamilan Anda jika Anda membutuhkan aspirin.

[1] Lombo, Giovanna E., Freddy W. Wagey, Linda S. Mamengko. 2017. Karakteristik Ibu Hamil dengan Preeklampsia di RSUP Prof Dr. R. D. Kandou Manado. JKK Universitas Sam Ratulangi Manado, Vol. 1(3): 9-15.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*