Pereda Nyeri, Apakah Semua Obat Asetaminofen Aman untuk Ibu Hamil?

Ilustrasi: ibu hamil mengonsumsi obat (sumber: nyulangone.org) Ilustrasi: ibu hamil mengonsumsi obat (sumber: nyulangone.org)

Kehamilan membutuhkan waktu sembilan bulan yang dibagi menjadi tiga periode, yaitu trimester I pada minggu pertama hingga ke-13, trimester II mulai minggu ke-14 hingga ke-26, dan trimester III mulai dari minggu ke-27 hingga ke-38 atau 40 (akhir kehamilan).[1] Nah, selama masa tersebut, wanita sering mengalami nyeri, sehingga dokter akan meresepkan obat pereda nyeri yang mengandung asetaminofen. Namun, sejumlah ibu hamil membeli obat nyeri tersebut di apotek tanpa resep dokter. Apakah ini aman dan bagaimana risikonya?

Bahaya Asetaminofen pada Ibu Hamil

Dilansir dari Harvard Health Publishing, ada banyak produk pereda nyeri yang mengandung asetaminofen, seperti Tylenol yang dianggap aman dikonsumsi selama kehamilan. Tak hanya itu, ratusan obat bebas yang tersedia di toko obat, termasuk obat pilek, batuk, dan flu yang mengandung asetaminofen diklaim aman untuk ibu hamil. Tak heran jika sekitar 65% wanita di AS melaporkan telah mengonsumsinya selama kehamilan untuk meredakan nyeri di kepala, dada, dan punggung.

Namun baru-baru ini, sekelompok dokter dan ilmuwan mengeluarkan pernyataan konsensus di Nature Review Endocrinology yang mendesak peningkatan kehati-hatian seputar penggunaan acetaminophen pada wanita hamil. Pasalnya, ada bukti bahwa obat-obatan tersebut bisa meninggalkan efek samping pada otak, sistem reproduksi, saluran kemih, dan perkembangan alat kelamin janin. Hal ini juga yang membuat perkembangan janin terganggu.

Baca juga:  Update Rekomendasi Merk Sabun Penghilang Noda Bekas Jerawat

Meskipun begitu, bukti tersebut didapatkan dari studi yang dilakukan pada hewan dan observasional manusia, sehingga penelitian ini tidak dapat membuktikan bahwa asetaminofen adalah penyebab sebenarnya dari semua masalah di atas.

Yang pasti, asetaminofen memiliki risiko tinggi terhadap gangguan endokrin. Acetaminophen dikenal sebagai pengganggu endokrin yang menghasilkan hormon dan bahan kimia di tubuh. Jika endokrin terganggu, tidak hanya fungsi organ tubuh yang kurang optimal, tetapi juga pertumbuhan dan perkembangan.

Menurut pernyataan konsensus, beberapa penelitian menunjukkan bahwa paparan acetaminophen selama kehamilan, apalagi dosis tinggi atau sering digunakan, berpotensi meningkatkan risiko pubertas dini pada anak perempuan. Tak hanya itu, juga bisa menyebabkan masalah kesuburan pria, hipospadia, gangguan defisit perhatian, dan penurunan IQ.

Ilustrasi: pil obat (sumber: moffitt.org)

Ilustrasi: pil obat (sumber: moffitt.org)

Aturan Asetaminofen untuk Ibu Hamil

Berpotensi memiliki efek samping yang cukup membahayakan janin selama kehamilan, beberapa ahli setuju bahwa penting untuk mempertimbangkan potensi risiko saat mengonsumsi obat bebas atau resep selama kehamilan. Bisa dibilang, Anda tidak perlu panik saat mengonsumsi obat yang mengandung asetaminofen.

Baca juga:  Kisaran Biaya & Keuntungan Pakai Jasa Maklon Herbal, Bisa Bikin Brand Sendiri Tanpa Repot!

Seorang kepala divisi kesehatan wanita dari Brigham and Women’s Hospital, Dr. Kathryn M. Rexrode, mengatakan, risiko efek samping bagi seorang individu terhadap obat nyeri relatif rendah. Kemungkinannya cukup bagus jika Anda mengonsumsi asetaminofen selama kehamilan dengan dosis yang tepat dan sesuai anjuran dokter. Dengan cara ini, bayi Anda akan sehat dan tidak mengalami efek buruk apa pun.

Anda juga wajib berkonsultasi dengan dokter kandungan mengenai berbagai jenis obat yang akan Anda gunakan, termasuk pereda nyeri yang mengandung acetaminophen. Ini sangat penting, terutama jika Anda harus menggunakannya dalam waktu yang lama. Untuk masalah kehamilan yang serius atau jika Anda memiliki alergi terhadap kandungan obat, dokter biasanya akan meresepkan obat lain yang lebih aman dengan indikasi yang sama seperti acetaminophen.

Untuk berjaga-jaga, pastikan juga Anda meminimalkan penggunaan obat tersebut. Jika Anda merasa nyeri bisa ditahan, sebaiknya tidak meminta resep obat acetaminophen. Sementara itu, jika Anda memang memerlukan obat tersebut selama kehamilan, jangan mengonsumsinya dalam jangka waktu yang lama dan menambah dosis tanpa berkonsultasi dengan dokter.

Baca juga:  Khusus Atasi Jerawat Parah, Ini Rekomendasi Sabun yang Mengandung Benzoil Peroksida

Rexrode menjelaskan bahwa obat pereda nyeri yang mengandung acetaminophen lebih aman untuk ibu hamil jika digunakan dalam dosis rendah, tidak sering, dan dalam jangka waktu yang singkat. Selain itu, wanita hamil disarankan mengonsumsi obat ini jika mengalami demam tinggi yang dapat membahayakan janin. Ini adalah salah satu contoh kasus ketika Anda harus dan membutuhkan obat tersebut.

Dilansir dari hellosehat, ada jenis obat pereda nyeri yang diklaim lebih aman untuk ibu hamil, yakni parasetamol. Parasetamol tidak hanya bisa meredakan nyeri ringan, seperti sakit kepala, gigi, dan sendi, tetapi juga demam. Namun, pada kondisi tertentu, ibu hamil tidak disarankan untuk mengonsumsi paracetamol dalam dosis normal dan tinggi. Diketahui, dosis maksimal konsumsi parasetamol untuk ibu hamil adalah 4000 mg dalam sehari.

[1] Dewi, Rai Mas Feby Kumala, dkk. 2020. Pengetahuan dan Penggunaan Obat Analgesik dan Antipiretik pada Ibu Hamil. Jurnal Farmasi Komunitas Universitas Airlangga, Vol. 7(1): 8-16.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*