Apa yang Terjadi pada Otak Wanita saat Perimenopause?
Perimenopause merupakan sebuah masa transisi dari siklus menstruasi normal menuju menopause dengan gejala psikologis dan fisik.[1] Gejala tersebut tampaknya berhubungan dengan kinerja otak. Otak wanita saat perimenopause diketahui memiliki cara kerja yang berbeda dengan wanita yang masih produktif, karena dipengaruhi hormon yang tidak stabil.
Kadar Hormon Pengaruhi Kinerja Otak Wanita
Gejala psikologis pada wanita yang memasuki masa premenopause, di antaranya depresi, post power syndrome, emptiness syndrome, dan loneliness.[2] Gejala psikologi seperti ini biasanya tidak berlangsung lama, apalagi jika segera diatasi. Namun, ada beberapa wanita yang mengalami gejala tersebut hingga masa menopause tiba atau malah hingga masa menopause berakhir.
Sementara itu, gejala fisik yang umum pada ibu yang mengalami perimenopause, di antaranya hipertensi, peningkatan berat badan, myalgia (badan terasa pegal-pegal), rematisme tidak spesifik, gangguan kulit, arthritis, dan gangguan berpikir.[3] Semua gejala fisik tersebut bisa diatasi dengan mudah, tetapi tidak untuk gangguan berpikir.
Dilansir dari Harvard Health Publishing, diperkirakan pada tahun 2050, sebanyak 13,8 juta orang di AS kemungkinan akan menderita alzheimer dan dua pertiganya adalah wanita. Tergolong sebagai bentuk penurunan kemampuan kognitif, perempuan tidak hanya terancam alzheimer, tetapi juga penurunan daya konsentrasi.
Penurunan fungsi atau kinerja otak pada wanita adalah hal yang umum, selain karena usia juga karena penuaan reproduksi selama masa perimenopause yang umumnya dialami perempuan di awal usia paruh baya. Pada masa tersebut, perempuan akan mengalami penipisan hormon ovarium, seperti estradiol (bentuk utama estrogen) dari waktu ke waktu. Perlu diketahui, estradiol merupakan hormon yang sangat diperlukan otak untuk berfungsi dengan baik.
Menurut tim penelitian Harvard, kadar estradiol secara langsung berhubungan dengan perubahan kinerja memori dari sirkuit otak yang mengatur fungsi memori. Adanya masa perimenopause yang memengaruhi kadar estradiol menunjukkan bahwa wanita dan pria mengalami proses penuaan yang berbeda, terutama ketika memasuki usia paruh baya. Pada usia tersebut, pria tidak mengalami penuaan reproduksi yang menyebabkan penurunan fungsi kognitif.
Sayangnya, penuaan kognitif pada wanita akibat perimenopause jarang dianggap sebagai masalah kesehatan wanita. Padahal, ini sangat penting karena mengetahui penurunan kinerja otak yang bisa terjadi di usia paruh baya berkaitan dengan pemahaman menopause pada otak, sehingga orang bisa mengembangkan strategi untuk mencegah hilangnya ingatan pada wanita.
Rata-rata, wanita memiliki cara berpikir lebih baik daripada pria dalam ukuran memori verbal sejak pasca-pubertas. Keuntungan yang didapatkan perempuan ini berkurang saat mereka mulai memasuki masa perimenopause. Konon, banyak wanita yang mengalami kabut otak dan pikun atau sering lupa selama memasuki masa transisi menopause ini dan tidak ada wanita yang tidak mengalami menopause. Secara umum, perempuan akan mengalami menopause pada akhir usia 40-an hingga awal 60-an, artinya perimenopause bisa berlangsung pada akhir usia 30-an hingga awal 50-an.
Selama 15 tahun terakhir, semakin banyak penelitian yang memetakan cara-cara rumit ketika menopause memengaruhi otak dan apa yang membantu mempertahankan ingatan yang utuh. Misalnya, menopause dapat memengaruhi bagaimana sel-sel otak dihasilkan, terhubung satu sama lain, dan mati. Proses ini memengaruhi daerah otak yang penting untuk memori. Perimenopause juga menurunkan kadar glukosa di otak, yakni bahan bakar utama yang digunakan sel-sel otak saat bekerja, sehingga tak heran jika semakin bertambahnya usia wanita, semakin lambat pula cara berpikirnya.
Pengobatan Penurunan Kinerja Otak saat Perimenopause
Diketahui, ada cara untuk mengobati penurunan kognitif akibat perimenopause, yakni dengan penggantian hormon (HR). Namun, terapi hormon ini tidak bisa diberikan saat wanita menopause dan hanya diberikan pada saat mereka mulai menginjak masa premenopause (kira-kira 4 hingga 8 tahun sebelum menopause). Tak hanya itu, pengobatan ini bisa diberikan kepada wanita yang berisiko mengalami menopause dini.
Diperkirakan, inisiasi HR memiliki efek positif pada efektivitas otak dan fungsi memori jika diberikan secara langsung pada pasien yang mengalami perimenopause. Sebaliknya, jika inisiasi HR diberikan secara terlambat pada wanita yang sudah menopause, kemungkinan bisa menimbulkan efek buruk pada otak (meningkatkan risiko gangguan alzheimer).
Karena punya risiko yang besar, para ahli lebih menyarankan wanita untuk memelihara kesehatan otaknya sejak dini. Dengan pola hidup yang sehat, diketahui mampu menurunkan risiko alzheimer dan mencegah brain fog selama perimenopause. Selain itu, aktivitas fisik, kontak sosial, dan diet sehat sangat memengaruhi fungsi memori perempuan di masa mendatang.
[1] Koeryaman, Mira Trisyani & Ermiati. 2018. Adaptasi Gejala Perimenopause dan Pemenuhan Kebutuhan Seksual Wanita Usia 50-60 Tahun. MEDISAINS: Jurnal Ilmiah Ilmu-ilmu Kesehatan Universitas Padjadjaran, Vol. 16(1): 21-30.
[2] Ibid.
[3] Ibid.



Leave a comment