Bijak Bermain Medsos, TikTok Termasuk Penyebab Sosiogenik

Ilustrasi: pengguna aplikasi media sosial Ilustrasi: pengguna aplikasi media sosial

Mendadak banyak ditemukan kasus aneh yang terjadi di kalangan remaja dan dewasa, seperti orang yang tertawa selama berhari-hari dan seorang pelajar yang tiba-tiba lumpuh tanpa sebab. Tak hanya terjadi pada satu individu, kasus tersebut ternyata bisa terjadi secara massal. Salah satu faktor yang diklaim menjadi penyebab kasus aneh ini adalah sosiogenik yang dipicu dari penggunaan sosial media, termasuk TikTok.

Apa Itu Sosiogenik?

Dikutip dari Harvard Health Publishing, sosiogenik massal memiliki banyak sebutan, mulai dari histeria massal, histeria epidemik, dan penyakit psikogenik massal. Sebenarnya, gangguan psikologi seperti ini sudah ada selama bertahun-tahun, tetapi kasusnya meningkat sejak platform sosial media bermunculan dan salah satu yang paling dicurigai adalah TikTok.

Jika sosiogenik tidak segera diatasi, ini bisa membahayakan kesehatan mental penderitanya. Pasalnya, sosiogenik merupakan faktor yang terbukti sebagai pemicu gangguan mental skizofrenia dan umumnya diidap remaja usia kurang dari 25 tahun.[1]

Namun, tidak semua orang yang bermain TikTok akan mengidap sosiogenik. Ciri khusus pada individu yang terkena sosiogenik adalah mengembangkan gejala yang tidak dapat dijelaskan secara medis dan seringkali aneh. Dalam beberapa kasus, mereka yang terkena dampak sosiogenik memiliki kepercayaan bahwa mereka telah terinfeksi atau terpapar sesuatu yang berbahaya, padahal mereka tidak tahu apa itu. Ini mirip seperti racun dan penyakit menular, sehingga tak heran jika ada yang namanya sosiogenik massal.

Baca juga:  Bagaimana Cara Berbicara dengan Orang yang Kecanduan Gadget?

Dampak atau penderitaan yang disebabkan sosiogenik cukup nyata dan mendalam tanpa adanya penyebab yang jelas. Jika orang yang memiliki gejala sosiogenik dites menggunakan parameter khusus, maka hasilnya akan normal. Namun, bukan berarti penderita sosiogenik sedang mencari perhatian dan melakukan hal aneh dengan sengaja.

Ilustrasi: pengguna aplikasi media sosial
Ilustrasi: pengguna aplikasi media sosial

Penderita sosiogenik juga tidak bisa dicap sebagai hipokondria, gila, atau mengidap histeria. Selain itu, gejala umum pada sosiogenik sangat unik, seperti berikut.

Gejala Sosiogenik

Salah satu gejala sosiogenik adalah melakukan berbagai hal yang aneh, tetapi mirip dengan gejala penyakit, seperti sesak napas, sakit kepala, dan mual. Sementara itu, gejala pada sosiogenik massal terbilang lebih ekstrem, di antaranya kejang, vokalisasi tidak disengaja, dan kelumpuhan.

Dalam kasus sosiogenik massal, diketahui terjadi jika pasien berada di lingkup yang familier, misalnya berada di antara orang-orang yang dikenal (di sekolah atau tempat kerja). Sangat jarang ada sosiogenik massal terjadi di tempat yang individunya tidak saling mengenal, seperti mall.

Baca juga:  Kebiasaan Sepele Ini Ternyata Bisa Membuat Mudah Lelah

Untuk membedakan apakah seseorang terkena gejala sosiogenik atau tidak adalah melihat gejalanya. Gejala yang dialami penderita sosiogenik diklaim bersifat sementara, tidak berbahaya, dan dapat pulih dengan cepat. Selain itu, gejala yang terjadi secara tiba-tiba dan cepat.

TikTok Bisa Memicu Sosiogenik

Kasus sosiogenik massal pertama kali muncul dengan heboh saat pengguna media sosial, khususnya TikTok meningkat dan bertepatan dengan pandemi. Ahli saraf mulai melihat jumlah pasien yang meningkat dari golongan remaja putri dengan gejala vokalisasi tidak biasa dan tidak sengaja diimbangi gerakan tak biasa yang umum disebut tics dan sebagai gejala utama sindrom tourette.

Para peneliti menjabarkan fenomena ini dalam whiteboard journal sebagai “pandemi paralel dari anak-anak muda berusia 12 hingga 25 tahun yang menunjukkan onset cepat dari perilaku motorik dan vokal yang kompleks”.

Setelah mengesampingkan penjelasan lain, tics pada remaja ini tampaknya terkait dengan banyak waktu yang dihabiskan untuk menonton video TikTok dari orang-orang yang melaporkan memiliki sindrom tourette dan gangguan gerakan lainnya. Bahkan, sempat beredar video penyanyi terkenal, Billie Eilish yang juga mengidap sindrom tourette yang viral di TikTok.

Ilustrasi: aplikasi TikTok (sumber: voanews)
Ilustrasi: aplikasi TikTok (sumber: voanews)

Diposting oleh influencer media sosial, video ini memiliki miliaran viewers di TikTok, meskipun begitu video serupa tersedia di YouTube dan situs lainnya. Lalu, bagaimana cara mengatasinya?

Baca juga:  5 Wanita Cantik Indonesia Bukan Artis Tapi Jadi Idola. Siapa Mereka?

Cara Mengatasi Sosiogenik

  • Mengurangi waktu bermedia sosial, khususnya TikTok.
  • Menghapus video yang berkaitan dengan sindrom tourette dan gejala tics.
  • Tidak satu ruangan dengan orang yang memiliki gejala sosiogenik.
  • Meditasi dan mengolah emosi dengan baik.

Jika cara di atas masih belum bisa menghilangkan gejala sosiogenik, maka pasien harus berkonsultasi dengan psikiater. Bisa jadi, itu berkaitan dengan penyakit atau gangguan mental lain, seperti skizofrenia, bipolar, dan depresi.


[1] Prihananto, Dhian Ika, Suharyo Hadisaputro, Mateus Sakundarno Adi. 2018. Faktor Somatogenik, Psikogenik, Sosiogenik yang Merupakan Faktor Risiko Kejadian Skizofrenia Usia < 25 Tahun (Studi di Kecamatan Kepil Kabupaten Wonosobo). Jurnal Epidemiologi Kesehatan Komunitas, Vol. 3(2): 68-79.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*