Ketahui Tanda Perfeksionisme Menjadi Toksik di Tempat Kerja

Ilustrasi: perfeksionis dalam pekerjaan (sumber: iamexpat.nl) Ilustrasi: perfeksionis dalam pekerjaan (sumber: iamexpat.nl)

Sebagai manusia, tentunya tak luput dari kesalahan, hal ini membuat standar perfeksionisme hanya bisa diterapkan diri sendiri dan tidak bisa untuk orang lain. Standar hidup orang yang berbeda-beda, kadang membuat sifat perfeksionisme seseorang dinilai berlebihan dan berubah menjadi toksik. Hal seperti ini tampaknya sangat umum ditemukan di tempat kerja dengan tanda-tanda yang cukup beragam.

Perfeksionisme Tidak Selalu Baik

Perfeksionisme merupakan sebuah paham kepribadian yang mempunyai karakteristik untuk berjuang dengan standar tinggi dan berlebihan pada kritikan dan evaluasi. Sifat seperti ini juga bisa diartikan sebagai keinginan atau hasrat untuk mencapai kesempurnaan diikuti standar tinggi untuk diri sendiri dan orang lain, serta percaya bahwa orang lain mempunyai harapan kesempurnaan untuk dirinya.[1]

Mengejar perfeksionisme tidak selalu merupakan hal yang buruk. Dilansir dari HuffPost, penelitian telah menemukan, orang-orang yang berpegang pada standar tinggi adalah orang yang teliti dan termotivasi untuk berhasil dalam pekerjaannya. Namun, ada titik kritis ketika perfeksionisme malah menjadi toksik bagi orang lain dan diri sendiri.

“Perfeksionisme adalah bentuk kecemasan,” kata Shannon Garcia, seorang psikoterapis dari States of Wellness Counseling di Illinois. “Perfeksionisme mungkin menjadi sesuatu yang menahan Anda untuk maju dalam karier. Itu bisa terjadi ketika Anda ingin menghindari tugas, karena takut itu tidak akan selesai dengan sempurna atau Anda menghabiskan banyak waktu untuk mencoba membuat sesuatu yang sempurna.”

Baca juga:  Alasan Millenial Harus Aktif Bersosialisasi di Dunia Nyata Ketimbang Bermain Smartphone
Ilustrasi: perfeksionis (sumber: lapthrinx.com)

Ilustrasi: perfeksionis (sumber: lapthrinx.com)

Berikut tanda-tanda Anda beralih ke pola pikir perfeksionis yang toksik, terutama di tempat kerja. Jika salah satu tandanya sudah ada dalam diri Anda, mungkin ini saatnya untuk refleksi diri.

Tanda-Tanda Perfeksionisme Toksik

Tidak Pernah Puas dengan Pencapaian di Tempat Kerja

Seorang perfeksionis selalu menilai hasil pekerjaan mereka dengan angka. Hampir tidak ada orang yang memiliki paham perfeksionisme merasa puas dengan hasil yang didapatkan, apalagi jika hasilnya sama dengan rekan kerjanya, mereka baru puas jika hasilnya di atas rata-rata.

“Dari 0 hingga 99, itu adalah nilai buruk bagi seorang perfeksionisme,” kata Psikolog Perpetua Neo. “Mereka baru puas jika mendapatkan hasil 100.”

Perfeksionis juga cenderung terobsesi dengan kesalahan. Ini menempatkan tekanan yang tidak berkelanjutan pada diri sendiri yang akan membuat Anda kelelahan.

“Kaum perfeksionis juga akan selalu memperhatikan pesaing mereka di tempat kerja. Ini bertujuan untuk melakukan tugas mereka dengan lebih baik daripada pesaingnya. Namun, itu bisa membuat mereka kehabisan tenaga,” kata Angela Clack, psikoterapis asal New Jersey. “Hal ini membuat mereka tidak pernah bisa menikmati momen keberhasilan.”

Akibat dari perfeksionisme yang menjadi toksik ini adalah burnout dan stres kronis di tempat kerja. Ini dapat merusak kesehatan Anda dalam jangka panjang. Tak hanya itu, perfeksionisme seperti ini bisa dikaitkan dengan kelelahan tanpa akhir, sakit kepala, insomnia, gejala depresi, dan hasil kesehatan yang buruk lainnya.

Baca juga:  NYX Wonder Stick (Contour & Highlight) Review Indonesia

Terlalu Khawatir Jika Rekan Kerja dan Diri Sendiri Tidak Sempurna

“Untuk meta-analisis yang diterbitkan dalam Journal of Applied Psychology, peneliti dari Miami University, University of Florida, dan Georgia Tech menganalisis 95 penelitian sebelumnya dan menemukan bahwa ada dua jenis perfeksionis,” kata Profesor Laurens Steed. “Perfeksionis yang mencari keunggulan yang menuntut standar yang terlalu tinggi untuk diri mereka sendiri. Lalu, yang menghindari kegagalan dengan ditandai dengan perhatian obsesif dan keengganan untuk gagal mencapai standar kinerja yang sangat tinggi.”

Ilustrasi: karyawan perfeksionis (sumber: BBC)

Ilustrasi: karyawan perfeksionis (sumber: BBC)

Dengan kata lain, jika Anda mengalami kehancuran karena pemikiran untuk tidak menyelesaikan tugas sesuai standar Anda, itu pertanda Anda bisa menjadi perfeksionis yang menghindari kegagalan. Studi Steed menemukan bahwa kelelahan, stres, dan kecemasan lebih erat kaitannya dengan perfeksionisme menghindari kegagalan, sementara perfeksionisme mencari keunggulan lebih terkait dengan manfaat seperti motivasi dan keterlibatan sosial.

Tak Peduli dengan Tenggat Waktu Pekerjaan Demi Hasil Sempurna

“Anda selalu menyempurnakan tugas kerja berulang-ulang, tanpa peduli dengan tenggat waktu pekerjaan,” kata Garcia. “Anda juga akan mengalami kesulitan untuk memulai kerja, karena takut tidak bisa melakukannya dengan sempurna.”

Baca juga:  Gangguan Mood Tingkatkan Risiko Terkena COVID-19

Jika Anda sudah memiliki pemikiran seperti ini, Anda akan terjebak pada kemunduran kinerja. Meskipun perusahaan menuntut pekerjaan Anda diselesaikan dengan sempurna, tidak ada bos yang suka jika pekerjaan yang diberikan pada karyawannya dikumpulkan terlambat.

Garcia menemukan bahwa perfeksionisme seperti ini tidak hanya dapat menyebabkan kelelahan, tetapi juga frustrasi dari atasan dan rekan kerja Anda. Selain itu, bisa menyebabkan stres berkelanjutan yang terbawa dari pekerjaan ke kehidupan rumah tangga Anda.

Tidak Bersosialisasi Karena Khawatir Dianggap Tidak Sempurna

“Perfeksionisme yang toksik bisa membuat penderitanya enggan bersosialisasi, karena takut dinilai tidak sempurna,” kata Neo. “Selain itu, banyak dari mereka yang tidak bisa bersosialisasi akibat standar yang mereka buat sendiri.”

Psikolog telah menemukan bahwa, bersama dengan perfeksionis yang menetapkan standar yang tidak realistis untuk diri mereka sendiri, akan membuat orang di sekitarnya merasa tidak nyaman. Apalagi, jika standar tersebut dipaksakan ke orang lain. Efek sampingnya, ini akan membuat orang lain di sekitarnya menjadi depresi dan menjauh.

[1] Apriani, Irwina Dyah. 2020. Pengaruh Perfeksionisme Siswa dan Pola Asuh Orang Tua terhadap Prestasi Belajar. Psikoborneo Universitas Mulawarman Samarinda, Vol. 8(1): 48-56.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*