Telah Jadi Sahabat Penderita Kecemasan Sosial, Wajib Masker Mulai Dihapus
Bagi para penderita kecemasan sosial, aturan wajib masker menjadi salah satu fasilitas yang menawarkan kenyamanan dan keamanan. Ketika menggunakan masker, mereka bisa mencegah gejala cemas sosial dan merasa nyaman berada di tempat umum. Namun, peraturan tersebut tidak selamanya berlaku dan di beberapa negara juga sudah dihapus. Lalu, bagaimana dengan nasib penderita kecemasan sosial yang harus kehilangan sahabatnya tersebut?
Fungsi Masker untuk Penderita Kecemasan Sosial
Kecemasan sosial merupakan keadaan tidak nyaman dan stres yang dirasakan individu di berbagai situasi sosial dan memiliki gejala umum seperti ketakutan atau cemas terhadap situasi sosial yang memungkinkan seseorang merasa diawasi atau diperhatikan.[1] Hal ini umumnya membuat penderitanya merasa cacat sosial.
Tidak sedikit orang memiliki gangguan kecemasan sosial. Sebagai contoh, Priyam Mahajan, wanita berusia 20 tahun dari India telah berjuang melawan gangguan kecemasan sosial sepanjang hidupnya. Di depan umum, wanita itu sangat kesulitan melakukan kontak mata dengan orang asing, dan sering memperlihatkan wajah yang tegang atau menggigit bibirnya saat berdiskusi dengan orang di sekitarnya.
“Ketika separuh wajah saya tertutup masker, itu membantu saya hampir tidak terlihat sepenuhnya,” katanya kepada jurnalis HuffPost. “Saya bisa santai dan nyaman berada di luar dengan merasa menjadi anonim.”
Sekarang, setelah negara bagian di India mulai mencabut mandat wajib masker, Mahajan mengatakan merasa sedikit kesulitan mengatasi kecemasannya tanpa masker.
“Sekarang, saya harus kehilangan sedikit rasa nyaman dan aman saat melepas masker dan berada dalam acara tertentu yang melibatkan banyak orang,” kata Mahajan. “Kecemasan sosial yang muncul membuat saya terganggu, apalagi saat saya tidak memakai masker di tempat yang ramai, terutama di dalam bus.”
Seth, seorang pekerja perawatan kesehatan berusia 27 tahun di Massachusetts yang memiliki kecemasan dan autisme, juga menemukan kenyamanan saat menggunakan masker. Tidak ada yang bisa melihat wajahnya dan salah mengartikan apa yang dia rasakan. Studi menunjukkan, banyak orang neurotipikal merasa sulit untuk membaca dan menafsirkan ekspresi wajah dan gerakan tubuh orang autis.
“Wajah saya tidak ekspresif untuk menunjukkan suasana hati saya dan ini kerap membuat orang bingung,” kata Seth. “Dengan masker, itu bukan masalah besar, karena orang tidak perlu membaca ekspresi saya dan itu mengalihkan perhatian mereka ke yang lainnya.”
David Moscovitch, seorang psikolog di University of Waterloo dan seorang peneliti terkemuka dalam pengobatan kecemasan orang dewasa, telah mempelajari efek pemakaian masker di antara mereka yang memiliki kecemasan sosial. Masker membantu mereka untuk mengontrol gejala kecemasan sosial.
“Di daerah di mana mayoritas orang tidak lagi memakai masker, orang yang cemas secara sosial menghadapi keputusan yang sulit,” kata Moscovitch. “Jika penderita kecemasan sosial melepaskan maskernya, ia tidak bisa mengontrol gejalanya. Namun, jika ia tetap memakai maskernya, justru akan mendapatkan perhatian lebih dari orang sekitar, yang juga berisiko memunculkan gejalanya.”
Melepas masker di tempat umum menjadi salah satu hal yang sulit bagi penderita kecemasan sosial. Namun, itu harus dilakukan supaya mereka terbiasa dengan kehidupan yang normal. Lalu, bagaimana caranya?
Cara Atasi Gejala Kecemasan Sosial tanpa Masker
- Pikirkan alasan Anda suka menggunakan masker. Saat menghadapi kecemasan sosial, Anda harus yakin dengan penampilan Anda. Jika Anda mengetahui alasan yang pasti mengenakan masker, Anda bisa mengatasi masalah tanpa menggunakan masker.
- Mulai lepas masker Anda secara perlahan. Tidak harus terburu-buru membiasakan diri tampil tanpa masker. Secara bertahap, coba gunakan masker selama 4 jam per hari, lalu 3 jam per hari, dan tingkatkan hingga sehari tanpa masker.
- Mulai dari tempat paling sepi. Anda bisa mencoba berlatih tidak memakai masker untuk mengontrol gejala kecemasan sosial di tempat paling sepi atau tidak banyak orang. Jika Anda sudah mulai merasa nyaman dan percaya diri, Anda bisa mulai pergi ke tempat umum yang ramai.
- Melakukan perawatan medis. Jika Anda sudah tidak bisa menahan untuk tidak memakai masker karena gejala kecemasan sosial parah, jangan ragu untuk mengunjungi psikolog dan psikiater. Terapi kognitif termasuk salah satu perawatan mental yang diklaim cukup ampuh mengatasi kecemasan sosial dan hanya bisa dilakukan dengan pendampingan para profesional.
Lakukan hal di atas untuk membiasakan diri Anda di luar rumah tanpa rasa cemas. Selain itu, masker hanya penting digunakan saat Anda sakit, berada di area yang berisiko tertular penyakit, dan saat berkendara. Itu bertujuan agar kesehatan Anda terjaga, bukan untuk membuat Anda merasa nyaman bersosialisasi.
[1] Morin, Claudia R. W. & Wahyu Rahardjo. 2021. Kecemasan Sosial, Kecenderungan Alexithymia dan Adiksi Internet pada Mahasiswa. Jurnal Psikolog Universitas Gunadarma, Vol. 14(1): 11-24.


Leave a comment