Jangan Abaikan Efek Sampingnya, Ini Pantangan Setelah Makan Jengkol
Jengkol memang terasa nikmat saat diolah dengan aneka bumbu dan rempah khas Indonesia. Apalagi jika dinikmati dengan sepiring nasi hangat. Namun demikian, konsumsi jengkol kabarnya tidak boleh berlebihan dan ada pantangan tertentu agar Anda tidak keracunan setelah makan makanan satu ini.
Tumbuhan jengkol atau lebih dikenal dengan tumbuhan Jering adalah termasuk dalam famili Fabaceae (suku biji-bijian). Tumbuhan ini memiliki nama Latin Pithecellobium jiringa dengan nama sinonimnya yaitu A. Jiringa, Pithecellobium lobatum Benth., dan Archindendron pauciflorum.
Tumbuhan ini merupakan tumbuhan khas di wilayah Asia Tenggara dengan ukuran pohon yang tinggi yaitu ± 20m, tegak bulat berkayu, licin, percabangan simpodial, cokelat kotor .Bentuk majemuk, lonjong, berhadapan, panjang 10 – 20 cm, lebar 5 – 15 cm, tepi rata, ujung runcing, pangkal membulat, pertulangan menyirip, tangkai panjang 0,5 – 1 cm, warna hijau tua.
Struktur majemuk, berbentuk seperti tandan, di ujung dan ketiak daun, tangkai bulat, panjang ± 3cm, berwarna ungu kulitnya, bentuk buah menyerupai kelopak mangkok, benang sari kuning, putik silindris, kuning mahkota lonjong, putih kekuningan. Bulat pipih berwarna coklat kehitaman, berkeping dua dan berakar tunggang. Pohon Jengkol sangat bermanfaat dalam konservasi air di suatu tempat hal ini dikarenakan ukuran pohonnya yang sangat tinggi. Nama jengkol di daerah sebagai berikut: Riau: Joghing, Gayo: jering, Batak: joring, Minangkabau: jarieng, Lampung: jaring, Bali: Blandingan, Sulawesi Utara: Lubi, Jawa: jingkol.[1]
Jengkol (Pithecellobium jiringa (Jack) Prain.) adalah salah satu tanaman hortikultura yang digunakan sebagai bahan pangan masyarakat Indonesia. Manfaat lainnya, jengkol dapat dijadikan tanaman obat, kompos, dan pestisida nabati. Salah satu penyakit yang dipercaya dapat dicegah dengan mengonsumsi jengkol adalah diabetes mellitus. Bagian cangkang, biji dan kulit batang jengkol memiliki kandungan zat antidiabetes. Tanaman jengkol yang populer sebagai bahan pangan ternyata juga memiliki berbagai potensi yang dapat diperluas kegunaannya.[2]
Buah jengkol mengandung karbohidrat, protein, vitamin A, vitamin B, fosfor, kalsium, alkaloid, minyak atsiri, steroid, glikosida, tannin, dan saponin. Biji jengkol merupakan bagian tanaman yang paling banyak dimanfaatkan sebagai bahan makanan dan obat. Kulit buah tanaman jengkol mengandung alkaloida, flavonoida, saponin, tanin, glikosida dan steroid atau triterpenoid.[3]
Senyawa kimia yang khas dalam tanaman jengkol adalah asam jengkolat. Senyawa ini merupakan asam amino alifatik yang mengandung sulfur dan bersifat toksik. Selain asam jengkolat di dalam tanaman jengkol terdapat glikosida, protein, karbohidrat, kalsium, fosfor, vitamin A dan B1, minyak atsiri, saponin, alkaloid, terpenoid, flavonoid, serta tannin yang berpotensi sebagai insektisida, larvasida dan zat toksik terhadap wereng coklat. Ekstrak etanol kulit jengkol juga dapat dimanfaatkan sebagai antibakteri terhadap Streptococcus mutans dan Eschericia coli.[4]
Pantangan Setelah Makan Jengkol
Seperti yang telah dipaparkan sebelumnya, jengkol pada dasarnya mengandung zat toksik yang dinamakan asam jengkolat. Musim hujan merupakan puncak masyarakat mengeluh tentang keracunan jengkol yang sudah dikenal sebagai sakit jengkolan. Mulut, hawa napas, dan kencing berbau jengkol yang khas menyengat. Keluhan awal adalah sakit perut, mual sampai muntah, disertai nyeri pinggang dan kencing yang berwarna merah. Keluhan kencing dapat lebih mengemuka dengan keluhan berkurangnya kencing dan bahkan bila sudah berat sampai tidak dapat kencing beberapa hari. Penyebab keracunan jengkol adalah asam jengkol.[5]
Menurut dr Okki Ramadian SpPD, ahli penyakit dalam dari RS Mitra Keluarga, jengkol bisa berpotensi menyebabkan gagal ginjal jika dikonsumsi secara berlebihan. “Jadi, jengkol itu prinsipnya bagus. Dia masuk dalam golongan sayuran, dia juga anti radikal bebas. Tapi konsumsi yang berlebihan bisa membuat gagal ginjal juga,” kata dr Okki, seperti dilansir dari Grid.
Selain itu, dokter Okki juga memperingatkan bahwa ada pantangan yang harus dihindari setelah mengonsumsi jengkol supaya ginjal kita tetap terjaga. “Enggak boleh minum yang mengandung diuretik atau yang bikin gampang buang air kecil, seperti teh, kopi, dan soda. Jadi, harus air putih supaya bisa disekresikan dengan baik,” tandasnya.
[1] Surya, A. 2017. Aktivitas Antioksidan Ekstrak Kulit Jengkol (Pithecellobium jiringa) Dengan Tiga Pelarut Yang Berbeda Kepolaran. Jurnal Rekayasa Sistem Industri. 3(1): 88-96.
[2] Maxiselly, Y dkk. 2016. Pola Penyebaran Tanaman Jengkol (Pithecellobium jiringa (Jack) Prain.)
di Jawa Barat Bagian Selatan Berdasarkan Karakter Morfologi. Jurnal Kultivasi. 15(1): 8-13.
[3] Rizal, M dkk. 2016. Uji Aktivitas Antidiare Ekstrak Etanol 70% Kulit Buah Jengkol (Archidendron pauciflorum (Benth.) I.C.Nielsen)Terhadap Mencit Jantan Yang Diinduksi Oleum Ricini. Jurnal Ilmiah Manuntun. 2(2): 131-136.
[4]Sinaga, I dkk. 2018. Uji Toksisitas (LC50 – 24 Jam) Ekstrak Kulit Jengkol (Pithecellobium jiringa) Terhadap Larva Udang Artemia salina Leach. Jurnal Biosains. 4(2): 96-101.
[5] Djamhuri, A. 2009. Racun dalam Makanan. Surabaya: Airlangga University Press, hlm 19.


Leave a comment