Apakah Aman Menyusui Saat Tidak Enak Badan?
ASI Eksklusif adalah pemberian ASI saja pada bayi selama 6 bulan tanpa makanan dan minuman lain.[1] ASI mengandung semua komponen yang dibutuhkan bayi, tetapi ada kontroversi di balik menyusui. Banyak ibu yang bertanya, apakah aman menyusui saat tidak enak badan? Padahal si kecil sangat membutuhkan ASI.
Aman Menyusui Saat Tidak Enak Badan
ASI mengandung semua yang dibutuhkan bayi untuk tetap ternutrisi dan terhidrasi selama enam bulan pertama kehidupannya. Dilansir dari HuffPost, ASI mengandung air, lemak, karbohidrat, protein, imunoglobulin, dan sel punca. Inilah yang membuat ASI sangat bermanfaat bagi tubuh si kecil dan membuat para ibu lebih suka menyusui daripada mengandalkan susu formula.
Sebagai cairan yang keluar dari tubuh ibu, kandungan dan kualitas ASI tidak hanya ditentukan dari asupan makanan ibu, tetapi juga kondisi kesehatannya. Inilah yang membuat orang bertanya-tanya, apakah menyusui ketika kondisi badan tidak fit dapat mempengaruhi kesehatan bayi yang menyusu?
Ternyata, ASI mengandung antibodi yang membantu bayi melawan penyakit, baik itu penyakit yang dirasakan bayi atau penyakit dari ibunya. Meskipun ada beberapa penyakit yang bisa ditularkan ibu melalui pemberian ASI, kondisi tidak enak badan seperti pegal-pegal, pusing, atau nyeri otot tidak menjadi alasan untuk tidak menyusui.
Kosongkan Payudara Meskipun Tidak Enak Badan
Anda tidak bisa berhenti begitu saja saat masa menyusui dalam kondisi sakit. Apapun penyakitnya, selama menyusui, payudara akan terus terisi ASI dan ini yang menjadi perhatian utama para wanita.
“Untuk menjaga kualitas suplai ASI, payudara harus dikosongkan setiap waktu pada masa menyusui,” kata Dr. Ann Kellams, presiden Academy of Breastfeeding Medicine. “Begitu ASI dalam payudara berkurang, tubuh mendapat sinyal untuk mulai memproduksi ASI lagi.”
Jumlah susu yang Anda hasilkan ditentukan permintaan bayi, yaitu seberapa sering payudara Anda dikosongkan maka kualitas produksinya akan stabil hingga masa menyusui selesai. Namun pada beberapa wanita, payudara yang sering dikosongkan bisa membuat jumlah ASI meningkat, seiring banyaknya ASI yang dibutuhkan anak.
Dalam kasus ekstrem, ketika Anda harus dirawat di rumah sakit dan dijauhkan dari bayi untuk menjaga penularan penyakit, pemompaan ASI secara teratur juga diperlukan untuk stok persediaan ASI anak. Umumnya, kasus ini terjadi pada ibu menyusui yang terserang penyakit menular tidak dari ASI, seperti influenza yang umumnya ditularkan melalui napas dan lendir.
ASI Penghasil Antibodi Utama Bayi
Bayi bisa sakit dengan penyakit yang sama seperti ibunya, bukan melalui ASI. Kita semua sudah terbiasa dengan gagasan untuk mengisolasi diri kita sendiri saat sakit untuk melindungi orang lain, tetapi kenyataannya adalah bahwa pada saat Anda merasa sakit, kemungkinan virus atau bakteri penyebab penyakit yang Anda rasakan sudah menginfeksi bayi Anda, baik itu akibat udara atau ketika Anda tidak sengaja bersentuhan dengan anak saat gejala penyakit belum terlalu terasa.
“Ada saatnya penyakit sudah menginfeksi tubuh dan Anda bahkan tidak tahu, jadi pada saat ibu memiliki gejala, bayinya sudah terpapar,” kata Catherine Watson Genna, konsultan laktasi. “Untungnya, sebelum Anda mulai merasa sakit, tubuh Anda tidak hanya membuat antibodi untuk melawan penyakit, tetapi juga menyebarkannya.”
Antibodi akan dialirkan melalui ASI kepada bayi untuk perlindungan tubuhnya. Studi telah menemukan bahwa hal yang sama dan berlaku untuk vaksinasi. Susu orang tua yang telah divaksinasi COVID-19 misalnya, ternyata mengandung antibodi terhadap penyakit tersebut.
Tak hanya itu, menyusui menawarkan kenyamanan bayi Anda dan dapat membantu mereka tetap terhidrasi. Bayi yang rewel dan demam mungkin ingin sering menyusu. Ini adalah cara sederhana untuk menenangkan mereka dan mendorong mereka untuk tidur nyenyak dan istirahat, sehingga penyakit cepat sembuh.
“Bayi yang sakit membutuhkan cairan, nutrisi, dan kenyamanan, selain antibodi,” kata Kellams. “Apalagi jika bayi Anda mengalami muntah atau diare parah. Menyusui sangat sering sudah cukup untuk mencegah mereka dehidrasi.”
Namun, jangan tiba-tiba berhenti menyusui jika dirasa produksi ASI Anda mulai menurun atau ketika masa ASI eksklusif berakhir. Idealnya, menyapih bayi Anda adalah proses bertahap, Anda bisa melakukannya dalam hitungan minggu atau bulan. Ini memungkinkan waktu tubuh Anda untuk mengurangi jumlah susu yang Anda hasilkan.
Jika Anda tiba-tiba berhenti menyusui bayi Anda karena Anda sakit, tubuh Anda pada awalnya akan tetap memproduksi ASI dalam jumlah yang biasa, yang berpotensi menyebabkan payudara bengkak, nyeri, mastitis, dan saluran susu tersumbat. Kasus ini juga berisiko menyebabkan infeksi pada saluran ASI.
[1] Murti, Aprilica Manggalaning. (2020). Pengetahuan Ibu Menyusui Tentang Asi Eksklusif. Jurnal Kesehatan Samodra Ilmu, 7(2), 114-121.


Leave a comment