Pentingnya Memilih Dokter Bedah Sesuai Gendernya Sebelum Operasi
Pembedahan atau operasi merupakan semua tindakan pengobatan yang menggunakan cara invasif dengan membuka atau menampilkan bagian tubuh yang akan ditangani.[1] Sementara orang sibuk memikirkan sakitnya setelah operasi, beberapa orang justru bingung memilih dokter bedah sesuai gendernya.
Gender Dokter Bedah Menentukan Keberhasilan Operasi
Jika dokter Anda merekomendasikan untuk operasi, memang ada banyak hal yang harus dipikirkan selain biaya, yaitu asuransi yang menanggung tindakan operasi dan jenis kelamin ahli bedah yang akan menangani kasus kesehatan Anda.
Dilansir dari Harvard Health Publishing, sebuah penelitian yang diterbitkan JAMA (The Journal of the American Medical Association) Surgery mengungkapkan fakta menarik bahwa gender dokter bedah Anda bisa mempengaruhi hasil akhir pembedahan.
Penelitian tersebut telah menganalisis sampel dengan jumlah lebih dari 1,3 juta dari orang dewasa dan hampir 3.000 ahli bedah yang melakukan salah satu dari 21 jenis operasi elektif atau darurat di Kanada. Data diambil dari tahun 2007 hingga 2019. Jenis operasi tersebut, antara lain operasi usus buntu, perbaikan lutut dan pinggul, perbaikan aneurisma aorta, dan operasi tulang belakang.
Para peneliti membandingkan seberapa sering hasil yang tidak menguntungkan (komplikasi bedah, masuk kembali ke rumah sakit, atau kematian) dalam 30 hari setelah operasi di antara empat kelompok pasien. Berikut kelompok pasien yang terlibat dalam penelitian.
Kelompok Pasien Penelitian
- Pasien pria yang dioperasi oleh ahli bedah pria jumlahnya 39% dari total semua operasi.
- Pasien wanita dengan ahli bedah pria jumlahnya 50% dari total semua operasi.
- Pasien wanita dengan ahli bedah wanita 7% dari total semua operasi.
- Pasien pria dengan ahli bedah wanita 4% dari total semua operasi.
Hasil dari pengamatan terhadap data di atas tampaknya cukup mengejutkan. Berikut rinciannya.
Hasil Perbandingan Kelompok Penelitian
- Sekitar 15% dari semua pasien mengalami hasil yang tidak menguntungkan.
- Ada risiko komplikasi sebanyak 9% lebih tinggi seperti pendarahan besar, serangan jantung, atau gagal ginjal. Selain itu, ada risiko kematian sebesar 7% lebih tinggi, ketika jenis kelamin ahli bedah dan pasien berbeda, dibandingkan dengan pasien yang jenis kelaminnya sama dengan ahli bedah mereka.
- Sebagian besar peningkatan risiko kegagalan operasi yang dialami wanita, dikaitkan perbedaan jenis kelamin. Dibandingkan dengan wanita yang memiliki ahli bedah wanita, wanita dengan ahli bedah pria memiliki tingkat rawat inap kembali 11% lebih tinggi di rumah sakit, tingkat komplikasi 16% lebih tinggi, dan risiko kematian 32% lebih tinggi.
- Perbedaan yang lebih kecil terlihat untuk pasien laki-laki. Pasien laki-laki memiliki tingkat kematian 13% lebih rendah dan tingkat pengulangan prosedur 6% lebih rendah jika ahli bedah mereka adalah perempuan daripada laki-laki.
Hasil penelitian di atas bisa Anda jadikan acuan sebelum memasuki ruang operasi. Penulis dari studi tersebut juga menyarankan bahwa penelitian serupa di masa mendatang harus membandingkan perbedaan spesifik dalam perawatan, hubungan pasien-ahli bedah, ukuran kepercayaan, dan gaya komunikasi antara empat kelompok pasien.
Penelitian di atas, nyatanya bukan studi pertama yang menyarankan masalah jenis kelamin ahli bedah dalam urusan perawatan medis. Sudah ada penelitian tentang pasien lanjut usia dan pasien dengan serangan jantung yang dirawat di rumah sakit. Setiap studi menemukan bahwa pasien yang ditangani dokter wanita cenderung lebih baik daripada dokter pria. Hasil serupa dilaporkan untuk tinjauan penelitian pada pasien dengan penyakit kardiovaskular.
Dalam penelitian terbaru ini, ada perubahan tambahan, yakni sebagian besar perbedaan hasil terjadi di antara pasien wanita yang dirawat oleh ahli bedah pria. Jadi, ada alasan untuk melihat baik-baik mengapa ini bisa terjadi. Mungkin, itu dipengaruhi perlakuan ahli bedah wanita yang berbeda dengan ahli bedah pria terhadap pasien pria dan wanita.
Meskipun gender sangat penting dalam memilih ahli bedah, jangan lupakan keahlian yang dimiliki para dokter. Anda juga harus memperhatikan keahlian dan pengalaman ahli bedah, apakah sudah sangat sesuai dengan prosedur atau belum. Tidak praktis untuk memilih ahli bedah Anda hanya berdasarkan jenis kelamin, bahkan berdasarkan penelitian terbaru ini.
[1] Rahmayati, El, Zaid Al Asbana, Aprina. 2017. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Lama Perawatan Pasien Pasca Operasi di Ruang Rawat Inap Bedah Rumah Sakit. Jurnal Keperawatan Poltekkes Tanjungkarang, Vol. 13(2): 195-202.


Leave a comment