Hamil 10 Minggu Keluar Darah, Apa Penyebabnya?
Mengalami pendarahan saat usia kandungan masih muda, tentu bakal membuat sebagian wanita merasa cemas. Pendarahan atau flek seperti ini biasanya akan muncul saat usia kehamilan 10 minggu. Ini adalah hal yang wajar jika pendarahan tidak terlalu banyak. Namun, akan berbahaya jika darah yang keluar tidak wajar dan tidak berhenti selama beberapa menit atau jam.
Penyebab Pendarahan Saat Hamil
Dilansir dari Alodokter, sekitar 20% ibu hamil akan mengalami pendarahan di awal kehamilan. Meskipun begitu, sangat penting untuk mengetahui perbedaan antara pendarahan normal dan yang harus segera mendapat pertolongan medis. Kurangnya informasi mengenai penyakit pada masa kehamilan, rasa malu dan tertutup untuk berkonsultasi secara langsung mengenai kondisi kehamilan, terutama jika dokter obstetri dan ginekologi adalah pria, membuat banyak wanita kurang bisa membedakan penyakit pada kehamilan,[1] terutama penyakit atau kondisi kehamilan yang ditandai dengan flek dan pendarahan.
Penyebab umum terjadinya pendarahan saat hamil muda adalah proses pelekatan sel telur yang telah dibuahi pada dinding rahim dan dikenal sebagai pendarahan implantasi. Hal ini memiliki gejala berupa bercak darah atau biasa disebut dengan pendarahan ringan selama beberapa jam atau hari, tetapi tidak selama menstruasi. Selain itu, intensitas darah yang keluar pada kondisi ini tidak seperti menstruasi yang membutuhkan pembalut.
Apabila bercak darah tidak berhenti, ini bisa menjadi tanda bahwa ada gangguan pada kehamilan Anda. Dilansir dari theasianparent.com, pendarahan yang tak berhenti bisa menjadi tanda kehamilan ektopik atau kehamilan di luar rahim. Biasanya dokter akan menyarankan operasi lubang kunci atau laparoskopi. Melalui prosedur tersebut, dokter akan mengangkat jaringan ektopik dan bagian tuba falopi tempat jaringan ektopik menempel.
Bercak darah saat kehamilan menginjak usia 10 minggu juga bisa disebabkan oleh perubahan pada tubuh, terutama hormon. Hormon pada wanita hamil memiliki peranan sangat penting untuk menjaga kelangsungan hidup janin dalam rahim. Wanita yang hamil akan memiliki hormon hamil atau disebut human chorionic gonadotropin hormone (hCG). Hormon tersebut bisa menyebabkan iritasi pada serviks di awal kehamilan, sehingga muncul bercak darah.
Selain itu, pendarahan pada trimester kedua atau ketiga juga bisa disebabkan oleh berbagai macam faktor, antara lain plasenta previa atau persalinan jangka pendek, berhubungan intim di awal kehamilan, dan infeksi.[2] Pendarahan yang berlebihan dan mirip dengan menstruasi bisa dikaitkan dengan gejala keguguran.
Untuk mengetahui penyebab pendarahan secara rinci dan valid, Anda diharuskan memeriksakan diri ke dokter kandungan. Dokter akan memeriksa kondisi kehamilan Anda dengan cara tes urine dan pemeriksaan USG abdomen (perut) atau transvaginal.
Bagi Anda yang mengalami pendarahan saat usia kehamilan 10 bulan, Anda bisa mencoba beberapa tips berikut untuk mengatasinya. Selain itu, Anda juga bisa melakukan hal berikut sebagai pertolongan pertama sebelum berkunjung ke dokter.
Tips Atasi Pendarahan Saat Hamil
- Berbaring dan tidak berjalan atau berdiri dalam waktu yang lama. Berdiri dan berjalan dalam waktu yang lama bisa membuat Anda merasa mudah lelah dan mengalami kram atau kesemutan pada bagian kaki. Selain itu, hindari duduk terlalu lama dengan posisi kaki menggantung. Ini bisa membuat kaki Anda menjadi bengkak.
- Perbanyak istirahat, jika perlu cuti hamil selama bekerja. Selama usia kandungan masih muda, Anda harus memperhatikan kondisi kesehatan tubuh Anda. Bekerja dengan fisik atau pikiran yang terlalu berlebihan, bisa berisiko kontraksi, pendarahan berlebihan, dan keguguran.
- Tidak berhubungan seks selama pendarahan berlangsung. Ini bisa menyebabkan iritasi dan infeksi pada saluran rahim. Selain itu, bisa meningkatkan risiko kontraksi dan keguguran.
- Pakai pembalut untuk mempermudah mengetahui banyaknya darah yang keluar dan hindari penggunaan tampon atau cup menstruasi. Cermati juga pendarahan yang keluar, apakah Anda mengalami kram atau tidak dan perhatikan warna darah yang keluar sebagai salah satu bahan untuk dikonsultasikan ke dokter.
Itulah beberapa tips mengatasi pendarahan saat trimester kedua atau ketiga. Selain itu, Anda juga dianjurkan untuk tidak menggunakan bahan pembersih vagina selama pendarahan dan hamil. Ini bisa membuat pH di di sekitar lubang rahim berubah dan menekan produktivitas bakteri jahat, sehingga berisiko iritasi dan pendarahan semakin parah. Kenali juga gejala darurat berupa kontraksi selama masa kehamilan atau terjadinya kram perut di bagian bawah, sehingga Anda bisa segera pergi kedokter untuk memastikan bahwa itu bukan sekadar kontraksi kehamilan.
[1] Minardi, Joko & Suyatno. 2016. Sistem Pakar untuk Diagnosa Penyakit Kehamilan Menggunakan Metode Dempster-Shafer dan Decision Tree. Jurnal SIMETRIS Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara, Vol. 7(1): 83-98.
[2] Sunarsih, Priska Susanaria. 2015. Hubungan Usia dan Paritas Ibu Hamil dengan Kejadian Pendarahan Antepartum di RSUD Abdoel Moeloek Bandar Lampung Tahun 2013. Jurnal Kebidanan Universitas Malahayati Bandar Lampung, Vol. 1(1): 13-17.



Leave a comment