Faktor yang Memperparah Kecanduan Alkohol dan Obat-obatan

Ilustrasi: kecanduan (unsplash: Anthony Tran)

Pepatah umum mengatakan, kecanduan tidak membeda-bedakan dan bisa memengaruhi siapa saja, mulai dari dokter, penambang batu bara, hingga para eksekutif. Objek yang dijadikan candu ini beragam, mulai dari obat resep dokter, obat-obatan terlarang, dan yang paling umum adalah alkohol. Untuk menyembuhkan kecanduan terbilang tidak mudah, apalagi jika seseorang sudah bersentuhan dengan faktor yang memperparah kecanduannya.

Kecanduan Bisa Dialami Siapa Saja

Dilansir dari Harvard Health Publishing, seorang dokter bernama Peter Grinspoon membagikan ceritanya mengenai kecanduan obat penghilang rasa nyeri saat berusia 14 tahun. Obat tersebut didapatkan dengan resep dokter dan dampak kecanduan obat seperti ini tidak baik untuk kesejahteraan dan kebahagiaan hidupnya. Melihat kondisinya saat itu, Grinspoon menjelaskan bahwa kecanduan yang dialaminya tidak peduli dengan gelar, ras, usia, jenis kelamin, agama, status sosial, dan kondisi kesehatan.

Masih dari sumber yang sama, di sisi lain, kecanduan bisa menjadi sebuah topik yang diskriminatif bagi beberapa orang dan tentunya dengan cara yang tidak adil. Hal ini sudah lama diamati oleh para klinisi kesehatan Social Determinants of Health (SDoH). Menurut SDoH, banyak orang yang kecanduan mengalami kesulitan dan merasa takut untuk pulih dari kecanduannya. Tak hanya itu, kecanduan secara tidak langsung dapat mendefinisikan kondisi ketika orang lahir, tempat hidup, pekerjaan, dan usia.

Baca juga:  Rekomendasi Produk Sleeping Mask yang Bagus untuk Berbagai Jenis Kulit

Efek mendalam yang dialami orang-orang yang sedang berjuang dengan kecanduannya dibuktikan SDoH melalui penelitian. Dalam studi yang dilakukan Drug and Alcohol Dependence pada tahun 2019, di 17 negara pada tahun 2002–2014, terdapat kasus overdosis opioid terkonsentrasi di daerah yang kurang beruntung secara ekonomi. Ini ditunjukkan dengan tingkat kemiskinan dan pengangguran lebih tinggi, pendidikan yang lebih rendah, dan pendapatan rumah tangga masih berada pada rata-rata.

Kemiskinan Memperparah Kecanduan

Penelitian lain telah menemukan bahwa kemiskinan menjadi faktor risiko overdosis opioid, pengangguran menjadi faktor risiko overdosis heroin yang fatal, dan tingkat pendidikan yang rendah menjadi faktor risiko overdosis obat resep. Diketahui pula, tunawisma telah terbukti terkait dengan overdosis, terutama di kalangan lansia.

Ilustrasi: kecanduan obat-obatan (sumber: honestdocs)

Ilustrasi: kecanduan obat-obatan (sumber: honestdocs)

Studi SDoH mencerminkan apa yang Grinspoon lihat secara klinis. Di klinik dalam kota tempat pria ini bekerja sebagai dokter perawatan primer, seorang pasien dapat stabil selama bertahun-tahun dengan buprenorfin atau metadon (obat-obatan untuk mengatasi keinginan mengidam dan membantu pemulihan). Awalnya, hal ini baik-baik saja hingga pasien mengalami masalah kehilangan tempat tinggal karena bukan kesalahan mereka sendiri. Hal ini membuat orang tersebut kehilangan akses sosial dan kesejahteraan hidup.

Baca juga:  Gejala, Penyebab dan Cara Menghilangkan Keriput Wajah

Masalah tersebut membuat pasien menjadi stres. Respon manusia terhadap stres berbeda-beda dan jika tidak bisa mengatasinya, maka stres bisa menjadi salah satu faktor penyebab kecanduan.[1] Padahal, pasien ini sudah mengalami kecanduan obat resep, sehingga stres bisa dikaitkan dengan risiko parahnya kecanduan yang sudah dialami. Hal ini yang membuatnya rentan dan sulit untuk lepas dari rasa candunya.

Stigma Masyarakat Juga Berperan

Selain kemiskinan yang dikombinasikan dengan stres, stigma sangat berperan dalam kecanduan. Stigma didefinisikan sebagai tanda aib yang berkaitan dengan kondisi seseorang di mata masyarakat. Seperti yang kita ketahui, stigma masyarakat mengenai orang yang kecanduan sangat buruk. Fakta bahwa masyarakat sudah sejak lama menganggap pengguna narkoba dan pemabuk sama seperti seorang kriminal.

Untungnya, saat ini hukum sudah ikut campur dalam permasalahan tersebut untuk menentukan solusi yang tepat bagi para pecandu alkohol dan obat-obatan. Tak hanya itu, baru-baru ini telah berkembang pemahaman bahwa tidak semua orang yang mabuk dan kecanduan obat-obatan itu seorang kriminal. Sudah semakin banyak orang yang memahami bahwa kecanduan pada beberapa tingkat tertentu termasuk penyakit otak dan bukan kegagalan moral individu.

Baca juga:  Minum Folavit Saat Haid, Apakah Aman?

Namun, tak semua orang bisa menerima kenyataan yang ada, sehingga stigma negatif terhadap para pecandu masih eksis. Hal ini yang menjadi penghalang bagi beberapa orang untuk sembuh dari kecanduannya. Para pecandu seperti ini tentunya akan merasa bersalah, menderita, dan malu berhadapan dengan masyarakat. Stigma juga bisa menjadi salah satu faktor yang membuat rasa candu penderita semakin tinggi, karena mereka juga akan merasa enggan untuk berhadapan dengan pihak medis.

[1] Pranitika, Medya, Rulita Hendriyani, Moh. Iqbal Mabruri. 2014. Hubungan Emotion Focused Coping dengan Game Online Addiction pada Remaja di Game Centre Bagian Semarang Barat dan Selatan. Intuisi Jurnal Ilmiah Psikologi Universitas Negeri Semarang, Vol. 6(1): 24-27.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*