Jenis Obat Antibiotik untuk Mengatasi Jerawat yang Meradang
Masalah jerawat bisa menyerang kulit siapa saja, entah itu wanita maupun pria. Selain karena faktor kebersihan, jerawat pun bisa muncul akibat berbagai faktor. Walau bisa sembuh meski membutuhkan waktu, beberapa orang yang menderita jerawat meradang atau yang parah terkadang juga akan diresepkan obat antibiotik tertentu untuk mendukung perawatan wajahnya.
Jerawat disebabkan karena peningkatan aktivitas kelenjar minyak (sebaceous gland) yang memproduksi minyak kulit (sebum) dalam jumlah berlebihan, sehingga menyumbat folikel rambut dan pori-pori kulit. Penyakit kulit ini terjadi karena beberapa hal yang memengaruhinya. Faktor genetik, hormonal, makanan, dan patogen memiliki andil sebagai pemicu munculnya gangguan kulit yang biasa dialami remaja ini.Kondisi hormonal seseorang sangat memengaruhi produksi minyak kulit yang memacu terbentuknya komedo (sumbatan pada pori kulit) atau pembengkakan di permukaan kulit. Peningkatan kadar hormon tersebut banyak terjadi pada usia remaja (15-25 tahun).
Saat komedo atau benjolan di kulit pecah, bagian yang terbuka mudah terinfeksi oleh patogen. Patogen yang menyebabkan jerawat adalah Propionibacterium acnes. Bakteri tersebut bersifat an-aerob dan resisten terhadap beberapa macam antibiotik, terutama antibiotik topikal.
Untuk melawan bakteri penyebab jerawat biasanya pasien harus mengonsumsi antibiotik dan menggunakan obat antijerawat yang digunakan secara topikal. Antibiotik yang biasa digunakan untuk terapi topikal biasanya adalah Erythromycine, Clindamycine, Stivamycine, dan Tetracycline, sedangkan harus diminum berupa Tetracycline dan Oxytetracycline.[1] Sebagai gambaran, berikut ini beberapa jenis obat antibiotik yang biasa diresepkan dokter untuk mengatasi jerawat meradang, seperti dilansir dari Alodokter.
Pilihan Antibiotik untuk Jerawat
Clindamycin
Clindamycin adalah antibiotik yang kerap diresepkan untuk memperlambat dan menghentikan pertumbuhan bakteri pada kulit jerawat. Clindamycin tersedia dalam wujud obat oles (topikal) maupun obat minum (oral).
Erythromycin
Erythromycin dipakai untuk membunuh bakteri penyebab infeksi pada kulit dan mengatasi gangguan kulit jangka panjang.
Doxycycline
Doxycycline adalah obat antibiotik oral golongan tetracycline yang bekerja menghentikan pertumbuhan bakteri penyebab jerawat. Antibiotik ini bisa bekerja secara maksimalapabila diminum dalam kondisi perut kosong, yakni 1 jam sebelum makan atau 2 jam setelah makan bagi Anda yang menderita sakit maag.
Azithromycin
Azithromycin biasanya jadi alternatif Tetracycline dalam mengobati jerawat. Di dalamnya memiliki kandungan anti-bakteri dan anti peradangan yang bisa menekan pertumbuhan bakteri dan mengurangi keparahan infeksi jerawat. Apabila penggunaan Tetracycline belum menunjukkan perubahan yang signifikan pada jerawat yang meradang, Anda biasanya akan diresepkan Azithromycin.
Penggunaan Antibiotik yang Tepat
Meskipun tampak sederhana, mengatasi jerawat tetap memerlukan pengawasan dokter. Mengapa? Obat-obat oles yang diberikan bekerja dengan “merontokkan” sumbatan pada folikel rambut. Salah satu efek samping yang dapat timbul adalah kulit menjadi sensitif terhadap sinar matahari.
Dengan kadar obat yang sangat beragam, penggunaan obat dengan kadar yang terlalu tinggi malah akan menimbulkan iritasi pada kulit. Akrab dengan kata “resistansi antibiotik”? Resistansi antibiotik merupakan kondisi kebalnya bakteri terhadap pemberian antibiotik tertentu. Nah, penggunaan antibiotik oles maupun minum dapat menyebabkan resistensi jika tidak diminum secara tepat jadwal, tepat dosis, dan tepat sasaran. Karena itu, penting sekali mengatasi jerawat dengan pendampingan dokter.[2]
Hal ini juga dipertegas oleh pernyataan staf pengajar Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman, dr Ismiralda Oke Putranti SpKK. “Antibiotik hanya boleh diberikan oleh dokter, karena pemakaian antibiotik yang sembarangan membuat kuman menjadi resisten terhadap antibiotik,” kata dr Oke, seperti dilansir dari Kompas.
Lebih lanjut dr Oke menjelaskan, penggunaan antibiotik tanpa anjuran dokter dapat menyebabkan infeksi yang lebih berat dan bahkan membuat penyakit menjadi kebal dengan obat. Selain itu, antibiotik juga berperan untuk mengontrol kolonisasi kuman. “Jadi tidak boleh (dikonsumsi) dalam jangka waktu panjang dan dosis tinggi. Apalagi kalau dikonsumsi secara diminum, kuman-kuman normal di bagian tubuh yang lain juga bisa mati. Akibatnya fungsi normal tubuh justru akan terganggu,” ungkapnya.
[1] Lingga, L. 2012. Terapi Bawang Putih untuk Kesehatan (hlm 153). Jakarta: Elex Media Komputindo.
[2] Rianda, D. 2017. Beauty Undercover For Muslimah (hlm 42). Jakarta: Elex Media Komputindo.



Leave a comment