Dampak dan Cara Atasi Bullying pada Anak di Sekolah
Banyak anak mengalami perubahan yang aneh saat di rumah, sebagian besar menjadi pemurung dan tidak ingin pergi ke sekolah. Kebanyakan kasus serupa terjadi akibat bullying atau perundungan yang mereka alami. Sebagai orang tua, Anda tidak perlu terlalu panik terlebih dahulu karena ada banyak cara yang bisa Anda lakukan jika anak Anda menjadi korban bullying di sekolah.
Dampak Bullying pada Anak di Sekolah
Kasus bullying tidak hanya terjadi di Indonesia, bahkan di luar negeri kasus serupa kian meningkat. Dilansir dari WebMD, seorang siswa SD bernama Rhea dari San Francisco mengalami perubahan sikap setelah mengalami penindasan di sekolah. Ibunya, Mia Dand, mengatakan bahwa Rhea menjadi orang yang mudah menangis dan sering berbohong untuk menghindari sekolah. Rhea juga selalu ingin membolos dan tidak ingin pergi ke luar rumah akibat perundungan yang ia alami.
Awalnya, Dand yang belum mengerti kondisi Rhea menyalahkan perceraiannya yang baru saja ia lakukan. Namun, kondisi putrinya semakin bertambah buruk hingga berbulan-bulan lamanya. Bahkan, Dand mendapatkan pengakuan dari guru sekolah mengenai nilai putrinya yang terus merosot.
Hingga akhirnya, ia mengetahui keadaan putrinya setelah bertanya langsung pada Rhea. Dand mengetahui bahwa putrinya dikucilkan oleh sekelompok gadis di sekolahnya. Tidak hanya mengalami pengucilan, bahkan beberapa penindasan secara psikologi juga Rhea dapatkan.
Awalnya, Rhea hanya mendapat sejumlah godaan, seperti diejek. Namun, semua berujung pada bullying dan pengasingan. “Mengejek biasanya terjadi di antara teman-teman atau anak-anak yang berusaha menyesuaikan diri dengan teman sebaya mereka,” kata Patricia Agatston, PhD, presiden International Prevention Association.
“Saling mengejek biasanya juga menjadi salah satu hal yang menyenangkan dan membuat anak satu sama lain menjadi lebih akrab,” timpal David Dupper, PhD, profesor di University of Tennessee. “Namun, jika sudah keterlaluan hingga dikucilkan seperti itu, jelas ini adalah tindakan bullying.”
Pelaku perundungan seperti itu memiliki tujuan untuk melukai korbannya dan memiliki kekuatan serta sarana untuk melakukannya. Kelompok gadis tersebut mungkin lebih populer atau secara fisik lebih kuat, dan Rhea sebagai korban mungkin kesulitan mempertahankan dirinya.
Bullying sendiri merupakan tindakan penggunaan kekuasaan untuk menyakiti seseorang atau sekelompok orang, baik secara verbal, fisik, maupun psikologis. Sehingga, korban bullying merasa tertekan, trauma, dan tak berdaya.[1] Perundingan yang dilakukan oleh kelompok tertentu pada satu orang di lingkungan sekolah dapat menyebabkan banyak hal buruk bagi korban.
Dampak negatif yang dialami korban, yaitu menurunnya nafsu makan, perubahan mood yang cepat, mudah murung, nilai yang menurun, mudah stres, sulit tidur, dan luka di bagian tubuh. Jika Anda melihat adanya dampak negatif akibat bullying pada anak Anda, tentunya Anda perlu mengatasinya. Jika perundungan tetap diteruskan, korban tidak hanya mengalami gangguan psikologis saja, tetapi juga kematian.
Cara Atasi Bullying pada Anak di Sekolah
Dilansir dari theAsianparentindonesia, untuk mengatasi bullying pada anak di sekolah, Anda perlu mencari bantuan sekolah terlebih dahulu. Berbicaralah pada wali kelas anak Anda dan ceritakan kondisi anak Anda saat di sekolah, terkait dengan apa yang ia alami dan rasakan. Dalam hal ini, sebagai wali kelas yang baik, pasti akan membantu Anda untuk mengatasi masalah tersebut.
Permasalahan bullying pada anak-anak tentunya sangat berbahaya, apalagi saat ini tingkat bullying di kalangan anak menggunakan fisik lebih banyak dibanding di kalangan remaja SMP atau SMA.[2] Jika anak Anda sudah mengalami perundungan secara fisik, sebaiknya Anda berbicara kepada pelaku bullying sekaligus orang tuanya.
Temuilah pelaku bullying dan orang tuanya secara langsung dengan membawa bukti fisik perundungan yang dialami anak Anda. Berbicaralah dengan baik-baik dan cobalah untuk bernegosiasi kepada pelaku sekaligus orang tuanya. Jika mereka adalah orang tua yang baik, mereka pasti akan membantu Anda agar anak Anda bebas dari bullying.
Jika cara tersebut tidak berhasil dan orang tua pelaku justru melindungi anak mereka, ada dua pilihan yang bisa Anda lakukan. Pilihan pertama yaitu membawanya ke jalur hukum, Anda bisa menuntut anak mereka. Meskipun begitu, karena pelaku masih di bawah umur, biasanya tidak ada hukuman yang serius kepada pelaku. Sehingga, Anda tidak bisa berharap menuntut balas kepada pelaku.
Sebaiknya, Anda memindahkan anak Anda untuk sekolah di sekolah yang baru dengan suasana dan lingkungan yang nyaman dan tenang. Anda bisa mendiskusikannya dengan anak Anda ketika memilih sekolah yang baru.
[1] Zakiyah, Ela Zain dkk. 2017. Faktor yang Mempengaruhi Remaja dalam Melakukan Bullying. Jurnal Penelitian & PPM Universitas Padjadjaran Bandung, Vol. 4(2): 129-389.
[2] Sugiariyanti. 2019. Perilaku Bullying pada Anak dan Remaja. Jurnal Jurusan Psikologi Fakultas Pendidikan Universitas Negeri Semarang, Vol. 1(2): 1-9.



Leave a comment