COVID, Flu, atau RSV? Inilah Cara Membedakannya

Ilustrasi: menderita gejala flu (sumber: gov.uk)` Ilustrasi: menderita gejala flu (sumber: gov.uk)

COVID, Flu, dan RSV memiliki gejala yang serupa pada kebanyakan orang dewasa yang sehat tetapi dapat berdampak lebih parah pada anak-anak, lansia, dan pasien gangguan daya imun. Dengan gejala yang sama, banyak orang yang bingung dan ini berakibat fatal. Untungnya, ada cara mudah untuk membedakan COVID, Flu, dan RSV.

Ciri Flu atau Influenza

Untuk membedakan Covid, Flu, dan RSV, Anda harus mengenal virus atau penyakit yang paling ringan gejalanya, yakni flu atau influenza. Gejala flu sangat umum, seperti batuk, pilek, dan demam dengan durasi 3-7 hari. Jika gejalanya berat, maksimal bisa sampai 14 hari.

Proses penyembuhan ditandai dengan gejala ringan, berat, ringan, dan hilang. Namun, pada beberapa orang dengan daya tahan tubuh tinggi, biasanya gejalanya tidak sampai berat sudah hilang. Ciri khasnya, tidak ada gejala susulan. Meskipun begitu, flu mudah menular, khususnya bagi anak-anak dan orang dengan kekebalan tubuh rendah.

“Influenza juga dapat menyebabkan muntah dan diare,” kata Dr. Vandana Madhavan, direktur klinis Penyakit Menular Anak di Mass General. “Namun, perlu diingat bahwa ini jauh lebih umum pada anak-anak daripada orang dewasa. Kebanyakan orang dewasa yang terkena flu tidak akan mengalami masalah pencernaan.”

Baca juga:  Beda Gender, Beda Penanganan Kecanduan Narkoba

Selain itu, Fayanju mencatat bahwa flu dapat menurunkan pertahanan alami tubuh dan menyebabkan peradangan yang dapat memicu penyakit lain, terutama serangan jantung dan stroke pada orang dewasa.

Ciri RSV

Berbeda dengan flu yang bisa menyerang siapapun, menurut Dr. Laolu Fayanju, direktur medis regional di Oak Street Health di Ohio, umumnya RSV (Respiratory Syncytial Virus) menginfeksi anak-anak. Hampir semua anak mendapatkan RSV pada usia 2 tahun. Jadi, jika Anda berurusan dengan bayi dan balita yang sakit, kemungkinan besar infeksi mereka adalah RSV, bukan influenza.

“Selain pilek dan demam, RSV ditandai dengan gejala sesak napas,” kata Fayanju dalam HuffPost. “Tak hanya itu, jika anak sering minum air atau merasa haus disertai sesak napas, ini juga perlu diwaspadai bahwa si kecil terjangkit RSV.”

Ilustrasi: pasien rumah sakit (sumber: acc.org)

Ilustrasi: pasien rumah sakit (sumber: acc.org)

Tak hanya anak, orang dewasa juga bisa terkena RSV, tetapi dalam kondisi kronis tertentu, sehingga, jika Anda tidak memiliki riwayat kronis tetapi mengalami gejala yang hampir sama dengan RSV, kemungkinan itu bukan RSV. Selain itu, masalah pencernaan seperti asam lambung dan sembelit tidak dikaitkan dengan RSV. RSV jarang menyebabkan gejala jangka panjang, tetapi penelitian menunjukkan bahwa RSV dapat menyebabkan mengi jangka panjang setelah infeksi.

Baca juga:  Resep Jus Timun yang Sehat & Segar untuk Dinikmati Saat Cuaca Panas

Namun, jika Anda mengetahui bayi Anda terkena RSV, segera bawa ke rumah sakit atau klinik untuk mendapatkan perawatan intensif. Penyakit ini mudah menular di kalangan anak-anak dan bisa menyebabkan SARI (Severe Acute Respiratory Infection) yang berisiko kematian pada bayi.[1]

Ciri COVID

“Kehilangan indera perasa dan penciuman paling umum terjadi selama infeksi COVID-19,” kata Fayanju. “Hilangnya pengecapan dan penciuman adalah salah satu cara untuk membedakan COVID-19 dari flu dan RSV.”

Hilangnya indera perasa dan penciuman akibat infeksi COVID-19 umumnya terjadi di awal infeksi sebagai salah satu tanda pertama virus masuk ke tubuh. Namun, ini tidak terjadi pada banyak orang.

Menurut Klinik Cleveland, beberapa pasien COVID-19 bahkan dinyatakan positif tanpa gejala. COVID-19 juga menyebabkan tingkat peradangan yang lebih tinggi pada tubuh pasca infeksi yang membuat Anda berisiko terkena stroke, serangan jantung, dan lainnya.

“Tidak ada jaminan bahwa Anda akan mengalami anosmia meskipun Anda mengidap COVID-19, tetapi jika Anda mengalaminya, kemungkinan itu adalah tanda virus corona dan bukan flu atau RSV,” kata Madhavan. “Selain itu, hitung berapa hari Anda mengalami gejala penyakit, karena gejala COVID-19 lebih lama daripada flu atau RSV.”

Baca juga:  Obat untuk Mata Ikan, Apa Perbedaan Callusol Kuning dan Hijau?

Tidak seperti flu dan RSV, COVID tampaknya memiliki efek jangka panjang yang bertahan lama. Ini bisa termasuk kabut otak atau kebingungan setelah infeksi sembuh atau hilangnya rasa dan bau yang tidak kembali selama berminggu-minggu. Namun sebuah penelitian baru mengatakan dengan mengonsumsi antivirus Paxlovid, Anda dapat mengurangi risiko yang mengembangkan kondisi tersebut.

“Mengetahui gejalanya yang hampir mirip memang agak sulit membedakan flu, RSV, dan COVID. Saya pikir hal yang perlu ditekankan adalah bahwa ada begitu banyak gejala yang tumpang tindih di antara ketiganya,” kata Madhavan. “Yang paling ironis adalah semua penyakit ini diakibatkan virus pernapasan, untuk itu penting segera ke dokter dan melakukan pemeriksaan menyeluruh jika terkena gejalanya.”

[1] Widoretno, dkk. 2012. Virus-Virus Saluran Pernapasan yang Paling Banyak Ditemukan pada Anak Balita Pasien SARI (Severe Acute Respiratory Infections). Pusat Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan Badan Litbangkes RSUD Tangerang, Vol. 1(2): 93-98.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*