Istilah Viral di TikTok, Apa Itu Rejection Sensitive Dysphoria?
Viral di TikTok, banyak orang yang menggunakan istilah Rejection Sensitive Dysphoria (RSD) terhadap dirinya sendiri yang terlalu sensitif dengan penolakan keras atau merasa sangat tertekan terhadap dunia luar. Beberapa pembuat konten terkenal TikTok juga menggunakan istilah tersebut untuk membuat video berisi penolakan terhadap kekasihnya.
Rejection Sensitive Dysphoria Hanyalah Istilah Non Klinis
Dilansir dari HuffPost, berkat video-video yang viral dengan tagar RSD membuat sejumlah wanita memilih untuk datang ke psikiater dan menceritakan bahwa dirinya merasa terkena dampak RSD. Menurut sebuah penelitian, RSD bisa menyebabkan gangguan fokus jika tidak segera ditangani.[1]
Sebelum viral di TikTok, Dr. William W. Dodson, seorang psikiater spesialis ADHD (Attention deficit hyperactivity disorder), menciptakan istilah RSD sekitar lima tahun yang lalu, dan sejak saat itu para peneliti telah meneliti fenomena tersebut lebih mendalam. Sementara Dodson mengatakan RSD adalah bagian dari ADHD, Anda tidak perlu memiliki ADHD untuk terkena RSD. Hingga saat ini, di TikTok, konten dengan hashtag RSD sudah memiliki 25 juta viewers.
Meskipun termasuk bagian dari gangguan mental, RSD bukanlah penyakit mental yang terdiagnosis. RSD hanyalah istilah nonklinis yang membantu psikiater untuk menggambarkan gejala dan faktor penyebab penderitaan dan kerugian yang dialami pasien akibat ketakutan ekstrem akan penolakan dan tekanan dari luar.
Gejala Rejection Sensitive Dysphoria
“Ada segudang gejala yang berkaitan dengan ketakutan ekstrem akan penolakan yang muncul sebagai RSD,” jelas Angela Karanja, psikolog dan ahli parenting remaja dari Raising Remarkable Teenagers. “Tanda-tanda RSD, di antaranya mudah merasa malu, bekerja terlalu keras untuk menyenangkan orang lain, memiliki ledakan emosional ketika merasa ditolak, mengalami kecemasan di sekitar keluarga, memiliki harga diri yang rendah, dan sulit menjadi diri sendiri.”
Bagi beberapa orang, mungkin gejala RSD hampir sama seperti gangguan mental, tetapi tidak bagi para psikolog. Selain itu, ada perbedaan efek yang dirasakan penderita RSD dengan orang normal terhadap penolakan, meskipun kita mengetahui bahwa mendapatkan penolakan atas apapun itu adalah hal yang sulit.
“Kebanyakan orang tidak suka merasa tidak disukai dan ditolak,” jelas Rachel Cavallaro, psikolog spesialis gangguan mood, trauma, depresi, dan kecemasan dari Boston. Namun, orang dengan RSD memiliki waktu yang jauh lebih sulit untuk bangkit kembali dari penolakan dan sebagai akibatnya memiliki reaksi emosional yang meledak-ledak,”
Cavallaro juga menambahkan, perbedaan RSD dengan kecemasan sosial adalah reaksi emosional terjadi setelah adanya interaksi. Sementara itu, pada kecemasan sosial, reaksi emosional yang terjadi adalah bentuk dari antisipasi interaksi sosial. Lalu, bagaimana cara mengatasi RSD?
Cara Mengatasi Rejection Sensitive Dysphoria
- Jika Anda merasa mengalami RSD, Karanja merekomendasikan untuk menemui psikolog terlebih dahulu. Profesional dapat menentukan apakah Anda memiliki RSD bersamaan dengan gangguan mental lainnya yang dapat didiagnosis dan membantu Anda mengatasi efek dari fenomena tersebut.
- Cavallaro merekomendasikan Anda untuk mencoba teknik regulasi emosi yang membantu Anda mengelola emosi negatif dan meningkatkan emosi positif. Ini juga membuat Anda mudah memahami emosi sendiri, mengurangi kerentanan dan penderitaan akibat RSD. Bagian utama dari regulasi emosi adalah menenangkan diri. Beberapa contoh aktivitas yang bisa Anda coba adalah aromaterapi, melihat alam, mendengarkan musik, dan minum teh.
- Cavallaro juga menyarankan penderita RSD melakukan latihan pernapasan, seperti menghirup dan menghembuskan napas selama empat detik sambil memperhatikan bagaimana perasaan tubuh Anda. Lakukan juga relaksasi otot progresif, yakni menegangkan dan melepaskan otot tubuh satu waktu. “Faktanya, relaksasi otot progresif membantu melatih tubuh untuk rileks dan mematikan respons untuk melawan,” kata Cavallaro.
- Dilansir dari Life Hacks, penderita RSD yang juga bisa mendapatkan resep alpha agonis guanfacine dan clonidine yang terbukti menjadi pengobatan paling efektif untuk mengontrol gejala RSD. Para ahli merekomendasikan pasien RSD mengonsumsi setengah hingga tujuh miligram guanfacine, dengan sepersepuluh miligram hingga lima persepuluh miligram clonidine.
Khusus untuk resep alpha agonis guanfacine dan clonidine bisa didapatkan di psikiater jika terbukti gejala RSD Anda sangat parah hingga mengganggu aktivitas harian Anda. Resep obat ini diketahui juga umum diberikan kepada pasien yang mengidap ADHD untuk meredakan sekaligus mencegah gejalanya kambuh.
[1] Berenson, Kathy R., dkk. 2010. Rejection Sensitivity and Disruption of Attention by Social Threat Cues. J Res Pers US NAtional Library of Medicine, Vol. 43(6): 1064-1072.


Leave a comment