Pertimbangkan Hal Ini Sebelum Menerima Donasi Embrio

Ilustrasi: konsultasi dokter (sumber: volusonclub.net)

Infertilitas adalah tidak mampu untuk hamil sesudah 12 bulan atau lebih tanpa menggunakan kontrasepsi dan bersifat primer.[1] Untuk mengatasinya, umumnya pasangan akan melakukan metode IVF (In Vitro Fertilization). Tidak sedikit pasangan yang berhasil dalam program bayi tabung tersebut, bahkan di antaranya mampu mendapatkan banyak embrio yang akhirnya memilih untuk mengikuti program donasi embrio. Nah, bagi Anda yang ingin menerima donasi embrio, pertimbangkan secara matang sebelum mengadopsinya supaya tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan.

Dilansir dari Harvard Health Publishing, siapa saja bisa menjadi penerima embrio. Memang acara donasi embrio kerap menarik perhatian pasangan yang sedang dalam masa program hamil dan ingin segera memiliki momongan. Namun, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan jika Anda ingin mengadopsi embrio orang lain seperti berikut.

Hal Penting Sebelum Menerima Embrio

  • Pola Hidup Harus Sehat. Bagi Anda yang ingin mengadopsi embrio, sangat penting untuk mempertimbangkan pola atau gaya hidup Anda. Sebagai calon ibu yang siap melakukan transfer embrio, Anda tidak dianjurkan mengonsumsi obat-obatan, minum minuman beralkohol, dan makan tidak teratur selama enam bulan sebelum transfer embrio hingga masa persalinan tiba.
  • Waktu Tunggu Transfer Embrio. Beberapa orang mungkin tidak sabar ingin mendapatkan momongan, tetapi Anda harus mempertimbangkan jika ingin menjadi penerima embrio. Dibutuhkan waktu yang cukup lama, yakni 6-12 bulan setelah mendaftarkan diri menjadi penerima embrio untuk mendapatkan embrio yang cocok dengan kondisi Anda.
  • Biaya Adopsi Embrio. Harga atau biaya adalah hal terpenting jika Anda ingin menerima embrio. Diketahui, biaya mendonasikan embrio lebih murah daripada mengadopsinya. Selain itu, jika Anda ingin mengadopsi embrio melalui agen atau organisasi, maka dibutuhkan biaya lebih besar karena embrio harus dipindahkan dari klinik satu ke yang lain, tergantung dari rujukan organisasi atau agen yang Anda temui.
  • Pilih Agen Terpercaya. Sudah ada banyak lembaga medis yang berkaitan dengan program donasi embrio. Namun, sebaiknya Anda memilih agen yang terpercaya. Anda bisa melihat profil dan review setiap jasa donasi embrio melalui website resmi setiap agen. Selain itu, konsultasikan dengan obgyn pilihan Anda untuk memvalidasi kualitas penyedia jasa donasi embrio.
  • Latar Belakang Embrio. Salah satu alasan banyak orang yang ingin mendapatkan embrio dari orang lain adalah ingin memiliki anak yang unggul. Untuk itu, Anda perlu menyelidiki latar belakang embrio, termasuk background orang tua dan keluarganya. Sebagai tips, pilihlah embrio dari keluarga yang sehat dan bebas dari masalah psikologi.
  • Kualitas Embrio. Sangat penting untuk mengetahui kualitas embrio yang akan ditransfer ke rahim Anda. Konsultasikan dengan pihak penyedia embrio dan pastikan calon anak pilihan Anda adalah embrio yang kuat dan tidak mengalami cacat DNA.
Ilustrasi: transfer embrio (sumber: kptv.com)

Ilustrasi: transfer embrio (sumber: kptv.com)

Setelah menimbang hal di atas dan Anda benar-benar siap menerima embrio, Anda bisa merencanakan jadwal untuk proses transfer. Embrio yang dimasukkan ke dalam rahim adalah embrio yang sudah dibekukan. Dilansir dari Alodokter, calon orang tua yang akan menjalani transfer embrio beku harus melalui beberapa tahapan tes, seperti berikut.

Baca juga:  Rekomendasi Vitamin dan Susu untuk Program Hamil

Tes Transfer Embrio Beku

  • Tes Cadangan Ovarium. Ini adalah tes wajib yang dilakukan wanita untuk mengetahui kualitas dan jumlah sel telur yang bisa dihasilkan oleh calon ibu. Bisa dibilang, ini adalah serangkaian tes kesuburan. Dokter akan memeriksa hormon FSH estrogen dan AMH dari sampel darah.
  • USG Rahim. Sangat penting untuk mengetahui kondisi rahim, sehingga dokter mengetahui apakah rahim sudah siap mengandung embrio atau belum. Caranya adalah menggunakan USG. Ini akan mempermudah dokter mengetahui kondisi ovarium secara visual.
  • Tes Analisis Sperma. Tidak hanya calon ibu yang mengikuti tes, tetapi juga ayah. Tes ini berfungsi untuk mengetahui apakah embrio yang dipilih nantinya bisa berasal dari sperma calon ayah atau hanya menggunakan sel telur ibu dengan sel sperma orang lain.
  • Pemeriksaan Rahim Lanjutan. Kondisi rahim yang dirasa sudah cukup baik masih akan diperiksa lagi menggunakan alat sonohisterografi. Ini adalah alat untuk mengetahui kondisi rahim lebih spesifik.
  • Pemeriksaan Penyakit Menular. Calon orang tua yang ingin mengadopsi embrio harus bebas dari penyakit menular. Dikhawatirkan, penyakit menular bisa menginfeksi embrio yang baru ditransfer, sehingga mengalami kegagalan dalam proses persalinan.
Baca juga:  Wanita Penderita Diabetes Berisiko Tinggi Terserang Gagal Jantung

Bagi Anda yang sudah melewati semua tahap pemeriksaan dan lolos, Anda bisa langsung menjalani proses transfer embrio. Tentunya, setiap orang akan mendapatkan jadwalnya masing-masing, sesuai dengan persetujuan antara penerima embrio, dokter, dan agen penyedia embrio.

[1] Dewi, Ni Wayan Ariati Trisna, Anom Suardika, Ryan Saktika Mulyana. 2019. Faktor penyebab infertilitas pasien program IVF (In Vitro Fertilization) di Klinik Graha Tunjung Rsup Sanglah. Intisari Medis, Vol. 10(3): 741-745.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*