Berisiko Bunuh Diri, Kenali Tanda Depresi Situasional
Depresi merupakan gangguan mental yang dapat menjadi kronis dan berulang, serta mengganggu kemampuan individu dalam menjalankan kegiatan sehari-hari.[1] Di tingkat yang paling parah, gangguan mental ini bisa menyebabkan bunuh diri. Depresi sendiri memiliki banyak macam dan salah satu yang patut diwaspadai adalah depresi situasional, karena tanda-tandanya bisa muncul kapan saja dan tidak memandang usia.
Depresi situasional bukanlah depresi yang umum dan diderita banyak orang. Gejalanya hanya muncul dalam keadaan tertentu dan dalam waktu yang singkat, berbeda dengan depresi secara umum yang berlangsung lama dan dapat berulang.
Dilansir dari HuffPost, seorang psikolog bernama Greg Kushnick dari New York mengatakan, depresi situasional adalah pengalaman depresi yang dipicu oleh peristiwa traumatis atau perubahan dalam hidup seseorang, antara lain kehilangan pekerjaan, kematian seseorang, dan lingkungan kerja yang tidak stabil. Kushnick juga menjelaskan, depresi situasional ini biasanya dianggap sebagai reaksi normal terhadap perubahan besar dalam hidup atau bisa dikatakan sebagai trauma, termasuk reaksi depresif terhadap pandemi Covid-19. Lalu, apa saja tanda-tanda depresi ini?
Mood Berubah
Depresi situasional cenderung melibatkan suasana hati yang rendah dan perasaan sedih, bersalah, atau putus asa. Bisa dikatakan, ketika Anda mengalami depresi situasional, Anda akan mudah sedih dan kesulitan untuk merasakan kesenangan atau kegembiraan seperti orang normal. Perubahan mood seperti ini adalah tanda paling mendasar yang perlu Anda pahami untuk mengetahui apakah Anda mengalami depresi situasional atau tidak.
“Jika Anda kurang yakin dengan perubahan mood yang Anda rasakan, Anda bisa bertanya kepada seseorang yang mengenal Anda dengan baik,” ungkap Kushnick. “Orang yang mengenal Anda dengan baik, akan mudah mengenali adanya perubahan suasana hati yang terjadi pada diri Anda.”
Biasanya, perubahan suasana hati akibat depresi situasional berlangsung secara cepat. Sebagai contoh, Anda akan merasa sedih secara tiba-tiba, padahal sebelumnya Anda sedang senang atau memiliki perasaan yang baik-baik saja.
Kushnick menyarankan Anda untuk tidak terlalu memikirkan hal-hal yang bersifat negatif. Terkadang tidak menghiraukan sesuatu atau bersikap cuek akan membuat Anda merasa tenang dan jauh dari gejala depresi, terutama depresi situasional. Selain itu, hal-hal yang bersifat negatif adalah akar dari segala gangguan kejiwaan, termasuk depresi situasional.
Kebiasaan Berubah
Tanda lain yang akan muncul jika Anda mengalami depresi situasional adalah kebiasaan yang berubah, termasuk kebiasaan makan, tidur, bersosial, dan lainnya. Biasanya, kebiasaan tersebut akan cenderung berubah menjadi hal yang negatif. Sebagai contoh, biasanya Anda makan tepat waktu, tetapi karena mengalami depresi situasional, Anda lebih suka makan sekali sehari, itu pun di jam yang tidak dianjurkan untuk makan.
Seorang asisten profesor klinis psikiatri di New York bernama Sue Varma juga memberikan contoh perubahan kebiasaan akibat depresi situasional, seperti binge eating. Selain itu, bisa saja pasien melakukan tindakan yang impulsif yang merugikan dirinya sendiri.
Gejala Muncul di Waktu Tertentu
Gejala depresi situasional akan terlihat dalam waktu tiga bulan setelah adanya penyebab tertentu dalam hidup Anda. Penyebab ini bisa berupa peristiwa buruk yang paling menyedihkan dalam hidup Anda. Biasanya gejala tersebut datang secara tiba-tiba dalam bentuk emosi yang meledak-ledak dalam waktu singkat.
Emosi yang muncul adalah respon Anda terhadap peristiwa traumatis atau perubahan hidup, dan tingkat reaksinya biasanya melebihi apa yang Anda khawatirkan. Bisa saja Anda tiba-tiba menangis sesenggukan, berteriak seperti orang gila dan memaki-maki orang di sekitar Anda, pingsan, dan kejang-kejang.
Gangguan Fungsi Otak
Tanda depresi situasional yang paling diwaspadai adalah gangguan fungsi otak. Ketika gejala depresi mulai muncul, biasanya pasien mengalami gangguan berpikir dan sulit fokus. Ini membuat pikiran mereka menjadi sulit dikendalikan, sehingga tak heran banyak pasien yang terjerumus ke hal-hal yang berbahaya dan negatif.
Selain itu, dalam keadaan kambuh, pasien juga sulit mengenali dirinya dan orang yang ada di sekitarnya. Apabila hal ini terjadi, mau tidak mau Anda harus membawanya ke rumah sakit. Tidak ada cara lain untuk menenangkan orang yang depresi dengan gangguan fungsi otak selain menyuntiknya dengan obat penenang. Gangguan fungsi otak juga bisa mengakibatkan pasien sulit menggerakkan bagian tubuh lainnya. Pada beberapa orang, mereka akan diam saja, mematung, dan berkeringat dingin.
[1] Dianovinina, Ktut. 2018. Depresi pada Remaja: Gejala dan Permasalahannya. Jurnal Psikogenesis Universitas Surabaya, Vol. 6(1): 69-78.



Leave a comment