Pandemi Ternyata Picu Kecemasan Pasca-Persalinan (Postpartum Anxiety)
Pandemi tidak hanya menurunkan tingkat kesejahteraan hidup manusia secara ekonomi dan kesehatan, tetapi juga psikologis. Umumnya, dampak negatif pandemi secara psikologis lebih rentan terhadap wanita yang baru melahirkan dan ini bisa memicu serta meningkatkan gejala kecemasan pasca-persalinan atau postpartum anxiety.[1]
Pandemi Pemicu Kecemasan Pasca-Persalinan
Dilansir dari Vogue, sekitar 9% wanita mengalami kecemasan pasca-persalinan dan 13% perempuan mengalami depresi pasca-persalinan. Mungkin, jumlah ini tidaklah banyak bagi orang awam. Namun, sebuah penelitian yang dilakukan Harvard mengonfirmasi bahwa itu adalah angka yang tinggi. Tingkat kecemasan, depresi, dan postpartum anxiety di antara wanita hamil melonjak saat adanya pandemi.
Seorang psikiater sekaligus pendiri The Motherhood Center, Dr. Catherine Birndorf, mengatakan, kecemasan pasca-persalinan adalah hal yang wajar saat pandemi. Postpartum anxiety sangat berkaitan dengan pengelolaan emosi dan suasana hati ibu setelah melahirkan dan seperti yang kita ketahui, wanita yang memasuki masa nifas memiliki emosi yang sangat tidak stabil dan pandemi menjadi pemicu dari permasalahan mental tersebut.
Sebelum adanya pandemi, postpartum anxiety bisa ditangani dengan mudah dan jumlah pasien yang datang untuk berkonsultasi dengan Berndorf tidak sebanyak saat pandemi. Pandemi tidak hanya menjadi penyebab, tetapi juga faktor yang meningkatkan gangguan mental menjadi lebih buruk.
Saat pandemi, pemerintah mengimbau masyarakat untuk melakukan social distancing dan inilah yang membuat orang tidak bisa bersosialisasi dengan baik. Banyak ibu yang membutuhkan bantuan sosial untuk bergulat dengan postpartum anxiety. Namun, saat kebijakan social distancing berlaku, mereka tampaknya kurang mendapatkan perhatian sosial dengan baik.
Sebelum pandemi, mungkin wanita bisa menghindari gejala postpartum anxiety dengan berkunjung ke sanak saudara, berbelanja pakaian bayi, dan mengunjungi komunitas ibu hamil. Namun, saat pandemi, mau tak mau mereka harus mengisolasi diri dan hanya bisa berada di rumah dan mengurus bayinya.
Dampak Kecemasan Pasca-Persalinan pada Wanita
Seorang ibu yang melahirkan di masa pandemi, Emily Barash, mengatakan, dirinya termasuk pengidap postpartum anxiety yang kesulitan mengatasi gejalanya saat pandemi. Kecemasan pasca-persalinan yang diidap wanita ini berawal dari pemikirannya yang obsesif terhadap anak yang baru saja ia lahirkan. Pemikiran tersebut menurutnya terasa eksistensial dan berkembang menjadi gejala postpartum anxiety.
Gejala postpartum anxiety membuat Barash kesulitan untuk mengenali anaknya. Keraguan untuk menggendong seringkali muncul saat bayi mungil di hadapannya tersenyum. Wanita ini juga selalu cemas, panik, dan bingung dalam merawat anaknya. Barash tidak tahu apa yang harus dilakukan ketika buah hatinya menangis dan kadang suara tangisan itu malah membuatnya sakit kepala.
Postpartum anxiety tidak hanya berdampak pada psikis, tetapi juga fisik. Rambut Barash yang tadinya tebal dan indah, mulai rontok dan menipis sejak mengalami gangguan mental ini. Akhirnya, wanita ini menjadi lebih obsesif terhadap bayinya dan khawatir dengan rambutnya yang bisa mencekik dan melilit tangan anaknya. Masih ada banyak hal yang dicemaskan perempuan ini, seperti suhu kamar, jadwal tidur, dan jadwal makan anaknya.
Di tengah kekhawatiran yang memuncak, akhirnya wanita tersebut memasang monitor di box tidur anaknya. Namun, wanita ini masih meragukan tingkat keakuratan alat tersebut, sehingga ia kerap bangun setiap jamnya hanya untuk memeriksa keadaan anaknya. Kejadian ini terjadi berulang kali dan mengganggu kualitas serta kuantitas tidurnya.
Cara Mengatasi Kecemasan Pasca-Persalinan
Tak hanya mengidap gangguan tidur, konon wanita dengan gejala kecemasan pasca-persalinan menunjukkan gejala depresi, seperti mood swing yang terlalu cepat, tidak mau makan atau lebih banyak makan, sering merasa cemas tanpa sebab, dan selalu berpikiran negatif.[2] Hal ini tidak hanya membahayakan kesehatan jiwa, tetapi juga jasmani ibu, apalagi mereka masih harus menyusui dan merawat bayinya.
Dilansir dari theAsianparent, pengobatan pada pasien postpartum anxiety berbeda-beda dan tergantung dari gejalanya. Secara umum, pengidap gangguan mental ini bisa melakukan psikoterapi menggunakan obat-obatan dan mendapatkan dukungan moral dari suaminya. Psikoterapi bertujuan agar pasien bisa membicarakan hal yang dirasakan dan dipikirkan tanpa memperhatikan objek yang dicemaskan. Ini akan membantu mereka dalam menyelesaikan setiap masalah yang dihadapi. Terkadang, psikoterapi tidak hanya dilakukan pasien sendirian, tetapi didampingi dengan pasangan atau anggota keluarga lainnya.
[1] Tambaru, Rusmawati. 2020. Pengaruh Kecemasan Pandemi Covid-19 terhadap Pengeluaran Asi Ibu Post Partum di Bidan Praktik Mandiri Hj. Rusmawati di Muara Badak (Skripsi). Politeknik Kesehatan Kalimantan Timur Jurusan Kebidanan Prodi Sarjana Terapan Kebidanan.
[2] Ibid.


Leave a comment