Kenali Quarantine 15, Kenaikan Berat Badan Saat Pandemi Covid-19

Ilustrasi: timbang badan (sumber: ucihealth.org) Ilustrasi: timbang badan (sumber: ucihealth.org)

Pandemi coronavirus tak hanya berdampak pada perekonomian, tetapi juga masalah kesehatan dan gizi masyarakat. Selain menyebabkan stunting pada bayi baru lahir, ternyata pandemi coronavirus juga berdampak pada tingkat overweight dan obesitas yang makin meningkat.[1] Kenaikan berat badan selama pandemi ini biasa disebut dengan quarantine 15. Namun, tidak semua orang akan mengalaminya. Lalu, apa faktor penyebab quarantine 15?

Stres Menyebabkan Quarantine 15

Dilansir dari Kompas.com, quarantine 15 adalah istilah yang merujuk pada kenaikan berat badan sebanyak 15 pon atau 6,8 kg selama pandemi Covid-19. Namun, apakah benar bahwa selama pandemi dan menjalani masa karantina seseorang bisa mengalami kenaikan berat badan sebanyak itu? Hal ini membuat sejumlah peneliti penasaran dan ingin membuktikannya.

Dilansir dari Harvard Health Publishing, sejumlah ahli melakukan penelitian dengan memeriksa data pasien melalui catatan kesehatan elektronik. Secara khusus, mereka menganalisis perubahan berat badan pada 15 juta pasien. Ternyata, 39% pasien mengalami kenaikan berat badan selama pandemi, dengan kenaikan berat badan yang didefinisikan di atas fluktuasi normal 2,5 pon. Sekitar 27% naik kurang dari 12,5 pon dan sekitar 10% naik lebih dari 12,5 pon, dengan 2% naik lebih dari 27,5 pon.

Baca juga:  Pixy Two Way Cake Cover Smooth Natural Peach, Bedak Padat Murah untuk Kulit Kuning Langsat

Diketahui, kenaikan berat badan yang terjadi pada sebagian besar pasien disebabkan stres. Memang, pandemi adalah salah satu faktor penyebab umum stres. Stres dapat meningkatkan kortisol, yakni hormon steroid golongan glukokortikoid yang diproduksi sel untuk meningkatkan asupan makanan hyper palatable (makanan tinggi garam dan lemak). Seperti yang kita ketahui, makanan tinggi garam dan lemak adalah pemicu utama kenaikan berat badan. Stres juga dikaitkan dengan peningkatan kadar lemak di perut, yang dapat berisiko penyakit jantung dan diabetes tipe 2.

Ada juga penelitian yang membuktikan bahwa ketika stres dalam waktu yang lama, khususnya saat pandemi, maka tubuh akan mengalami metabolisme makanan lebih lambat daripada biasanya. Stres yang tidak sehat pada tubuh akan menambah kadar kortisol yang dapat mengurangi massa otot tanpa lemak, dan ini bisa berdampak pada tingkat metabolisme Anda. Semakin sedikit massa otot tanpa lemak yang Anda miliki, semakin rendah tingkat metabolisme Anda dan semakin sedikit kalori yang Anda bakar saat istirahat. Hal ini yang membuat makanan tidak bisa dicerna dengan baik dan lemak akan menimbun dalam tubuh.

Ilustrasi: makan makanan berlemak (sumber: gvh.org)

Ilustrasi: makan makanan berlemak (sumber: gvh.org)

Tidak Semua Mengalami Quarantine 15

Respon terhadap stres pada tiap orang berbeda-beda. Meskipun sebagian besar menyikapinya dengan makan sebanyak-banyaknya akibat kortisol yang tinggi, beberapa orang justru memilih untuk tidak makan. Orang-orang seperti ini mampu mengabaikan isyarat lapar akibat kortisol, sehingga efeknya malah mengalami penurunan berat badan selama pandemi coronavirus.

Baca juga:  Bisa Dibalur & Diminum, Ini Sederet Manfaat Kopi Balur yang Perlu Diketahui

Hal tersebut juga telah dibuktikan dari analisis catatan kesehatan elektronik pasien. Terungkap bahwa 35% pasien kehilangan berat badan selama pandemi dan alasannya beragam. Ada kemungkinan saat stres mereka tidak bisa diam, lebih banyak berdiri, dan tidak mau makan. Dengan demikian, massa otot akan normal atau bertambah, tetapi tak ada lemak berlebih yang harus dibakar, sehingga terjadilah penurunan berat badan secara drastis.

Sementara itu, pada pasien yang mengalami quarantine 15, kebanyakan lebih suka makan, sering duduk, dan lebih sedikit bergerak. Orang seperti ini akan mudah kehilangan massa otot dan bertambah gemuk. Tentunya ini karena lemak semakin menimbun dan tidak ada usaha yang membantu mempercepat proses pembakarannya.

Ada juga alasan penurunan berat badan yang dinilai lebih sehat. Hal ini mungkin karena orang lebih memprioritaskan kesehatan mereka dan memiliki kontrol lebih besar atas asupan mereka saat stres. Sebagai contoh, beberapa orang memiliki cara untuk melampiaskan stres, misalnya melakukan hobi mereka seperti memasak. Dengan cara ini, mereka bisa memilih bahan-bahan makanan berkualitas dan tentunya yang sehat dan bebas lemak.

Baca juga:  Info Terbaru Nutrijell untuk Diet, Benarkah Bisa Bikin Langsing?

Sebuah studi menunjukkan bahwa memasak untuk diri sendiri dan tidak membeli makanan di restoran bisa membantu menurunkan berat badan. Studi University of Minnesota melacak kebiasaan makan dan kesehatan 3.031 orang selama 15 tahun. Hasilnya, mereka yang makan makanan di restoran selama dua kali lebih dalam seminggu berisiko menambah berat badan sebanyak 10 pon. Dalam studi lain dari universitas yang sama, wanita yang pergi ke luar untuk makan cepat saji satu kali dalam porsi ekstra per minggu selama tiga tahun, mendapatkan tambahan berat badan sebanyak 1,6 pon.

Dengan adanya penelitian-penelitian ini, diharapkan Anda bisa mencegah quarantine 15 dengan memperhatikan diet Anda sehari-hari. Selain itu, Anda bisa menggunakan waktu Anda untuk berolahraga dan istirahat yang cukup. Selain bisa mencegah kenaikan berat badan, cara ini bisa mengurangi stres Anda selama pandemi Covid-19.

[1] Arif, Sirojuddin, dkk. 2020. Tinjauan Strategis Kesehatan Pangan dan Gizi di Indonesia. Jakarta: Smeru Research Institute.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*