Punya Banyak Pasangan Seksual? Awas Kanker Mengintai
Kesadaran diri terhadap bahayanya seks bebas di kalangan remaja dan dewasa hingga kini masih minim. Apalagi di Indonesia, pembahasan mengenai seks dinilai tabu. Banyaknya remaja yang tidak terlalu paham mengenai pendidikan seks menjadi pemicu kebiasaan melakukan seks dengan banyak orang. Sebuah studi baru-baru ini menyebutkan bahwa punya banyak pasangan seksual mungkin dapat meningkatkan risiko terhadap penyakit kanker.
Seks Bebas Tingkatkan Risiko Penyakit Mental dan PMS
Seks bebas sendiri merupakan hubungan yang dilakukan oleh laki-laki dan perempuan tanpa ikatan perkawinan. Perilaku seks bebas yang cenderung tanpa adanya batasan, menjadi salah satu pemicu tingginya tingkat perceraian di Indonesia akibat perselingkuhan. Sehingga, seks bebas juga dapat diartikan sebagai bentuk perilaku menyimpang yang dilakukan oleh laki-laki dan perempuan.
Secara normal, hubungan seks dilakukan hanya dengan orang yang dicintai, dengan prinsip tidak bergonta-ganti pasangan. Lain halnya dengan seks bebas yang cenderung bergonta-ganti pasangan. Tentunya hal ini tidak baik secara normal maupun kesehatan.
Dalam sebuah penelitian, perilaku seks bebas dapat menyebabkan berbagai macam gangguan maupun penyakit pada organ reproduksi dan mental. Risikonya terhadap kesehatan fisik, seks bebas dapat menyebabkan kehamilan di luar nikah, aborsi, hingga penyakit seksual yang dapat menular (ulkus mole, klamidia, trikomoniasis, skabies, sifilis, kutil, dan HIV).
Sementara itu, secara psikologis, seks bebas dapat membuat orang mudah emosi, berperilaku tidak wajar, mudah stres, dan depresi. Apalagi bagi wanita yang lebih berisiko terhadap kehamilan yang tidak diinginkan (KTD), risiko infertilitas karena aborsi, dan penyakit menular seksual.[1]
Kondisi kesehatan akan bertambah buruk, dalam artian risiko terkena penyakit atau gangguan mental akan semakin tinggi, jika perilaku seks bebas dilakukan dengan banyak orang. Bisa dibilang, semakin banyak jumlah pasangan seksual, maka semakin besar pula risikonya. Selain dapat menyebabkan penyakit kronis yang menular, bergonta-ganti pasangan dalam berhubungan seks juga dapat menyebabkan penyakit kanker atau penyakit kronis tidak menular lainnya.
Hubungan Antara Jumlah Pasangan Seksual dan Kanker
Dilansir dari Harvard Health Publishing, sebuah studi telah menyelidiki hubungan antara jumlah pasangan seksual dan tingkat risiko terhadap penyakit kanker. Analisis yang diterbitkan BMJ Sexual & Reproductive Health tersebut diikuti oleh peserta dengan jumlah sekitar 2.500 orang pria dan 3.200 orang wanita, dengan usia rata-rata 50 tahun hingga 64 tahun.
Setiap peserta disurvei tentang jumlah total pasangan seksual yang mereka miliki selama mereka hidup. Informasi terkait banyaknya pasangan seksual pada setiap orang dibandingkan dengan kondisi kesehatan mereka, termasuk risiko terhadap penyakit kanker, jantung, dan stroke.
Dari perbandingan antara jumlah pasangan seksual dengan kondisi medisnya, dilaporkan bahwa pria yang memiliki pasangan seksual lebih dari 10 orang dan melakukan aktivitas seksual dengan jumlah hampir 70% dari usianya, memiliki risiko tinggi terhadap penyakit kanker. Sementara itu, untuk wanita yang memiliki 10 pasangan seksual atau lebih dan melakukan aktivitas seksual dengan jumlah hampir 90% dari usianya, lebih berisiko terhadap kanker.
Dilihat dari penelitian di atas, memang bergonta-ganti pasangan dapat menyebabkan kanker jika itu lebih dari 10 pasangan. Namun, saat ini jarang ditemukan orang melakukan hubungan seksual dengan 10 pasangan sekaligus selama hidupnya. Sehingga, dapat disimpulkan juga bahwa bergonta-ganti pasangan lebih berisiko terhadap gangguan mental dan PMS dibanding kanker.
Selain itu, orang yang memiliki jumlah partner banyak untuk aktivitas seksual, cenderung memiliki kebiasaan buruk, seperti merokok, minum alkohol, dan jarang berolahraga. Kebiasan-kebiasaan buruk itu sendiri yang membuat orang menjadi lebih berisiko terhadap penyakit kanker.
Misalnya, jika seorang pria atau wanita memiliki kebiasaan merokok yang cukup parah, tentu akan berisiko terkena kanker. Merokok sendiri dapat menyebabkan berbagai macam kanker, seperti kanker tenggorokan, kanker hati, kanker mulut, kanker payudara, dan kanker paru-paru. Sementara, kebiasaan minum alkohol atau mabuk-mabukan dapat meningkatkan risiko kanker hati dan ginjal.
Melihat banyaknya risiko yang diakibatkan oleh perilaku seks bebas di atas, sebaiknya Anda menjauhinya. Ada banyak cara yang bisa Anda lakukan untuk tidak melakukan seks bebas atau bergonta-ganti pasangan. Selain itu, ada banyak hal pula yang bisa Anda lakukan untuk bebas dari rokok dan alkohol.
Bagaimana Cara Menghindari Seks Bebas?
Ada banyak hal yang bisa Anda lakukan untuk melakukan seks bebas, terutama jika Anda masih remaja. Dalam usia remaja, pastikan Anda memiliki pengetahuan luas mengenai sex education. Bacalah berbagai macam jurnal atau buku ilmiah dan psikologi mengenai seks bebas. Ini akan membantu Anda untuk menjauhi hal tersebut, dan semakin paham dengan akibatnya.
Selain itu, Anda juga bisa melakukan banyak hobi atau kegiatan yang Anda sukai. Dengan melakukan hal-hal yang menyenangkan, tentunya tidak akan ada pikiran mengenai mencoba melakukan seks bebas dengan pasangan atau orang lain. Melakukan hobi juga akan membantu Anda lepas dari rasa stres dan depresi.
Rajin berolahraga juga dapat menjadi alternatif lain yang bisa Anda lakukan untuk menghindari seks bebas. Olahraga akan membantu meningkatkan daya imun tubuh dan membuat pikiran menjadi lebih logis. Sehingga, Anda tidak akan berpikir ke arah seks bebas atau hal negatif lainnya. Olahraga secara teratur juga akan membuat tubuh Anda menjadi lebih rileks dan tidak kaku.
Kunci penting lainnya untuk menghindari seks bebas, cobalah untuk setia pada satu orang. Apalagi bagi Anda yang sudah memiliki istri maupun suami, sehingga tidak ada risiko dan masalah perceraian. Selain itu, perselingkuhan juga merupakan salah satu tindakan yang kurang baik untuk kehidupan anak-anak Anda.
[1] Rahadi, Dewi Sartika & Sofwan Indarjo. 2017. Perilaku Seks Bebas pada Anggota Club Motor X Kota Semarang Tahun 2017. Journal of Health Education, Vol. 2(2): 115-121.



Leave a comment