Perbedaan Masker Bedah dan Masker Respirator
Untuk mencegah penyebaran penyakit menular, banyak orang yang memutuskan memakai masker wajah, apalagi ketika coronavirus mulai menyerang akhir-akhir ini. Bisa dibilang, masker adalah salah satu barang yang diincar banyak orang. Masker sendiri memiliki beragam macam, seperti masker bedah dan masker respirator.
Dari sekian banyak masker yang dijual, paling umum orang memang membeli masker bedah dan masker respirator. Pasalnya, kedua jenis masker tersebut diklaim ampuh untuk menghambat penularan dan penyebaran virus, termasuk dari pasien corona, dan melindungi mereka yang masih sehat.
Beda Masker Respirator dan Masker Bedah
Dilansir dari allure, masker bedah atau masker prosedur tidak hanya digunakan oleh masyarakat umum, tetapi juga para pegawai rumah sakit. Para dokter dan suster biasa menggunakan masker saat bekerja, hal ini karena risiko penularan virus lebih tinggi di area medis, seperti klinik, rumah sakit, puskesmas, dan tempat pelayanan kesehatan lainnya.
Masker bedah sendiri pada dasarnya tidak memiliki kemampuan untuk menutup hidung dan mulut dengan sempurna. Hal ini karena masih ada sedikit celah di keempat sisi masker tersebut, apalagi saat Anda berbicara atau menggerakkan mulut, maka keempat celah tersebut akan lebih terbuka lebar.
Tujuan menggunakan masker prosedur adalah untuk menyaring udara yang keluar dari mulut atau hidung pemakai. Perlu Anda ketahui pula, masker bedah tidak ada bedanya dengan masker kertas yang digunakan oleh orang-orang yang bekerja di industri pengamplasan, dengan tujuan untuk menyaring partikel besar berupa debu amplas atau bubuk kayu.[1]
Berbeda dengan masker bedah, masker respirator dirancang lebih kokoh, dan masker ini dilengkapi respirator sebagai penyaring, yang mencegah partikel berukuran kecil masuk ke sistem pernapasan. Dua jenis masker respirator yang paling umum dijumpai di masyarakat, adalah masker N-95 dan masker N-99. Jika kedua masker tersebut digunakan dengan benar, maka masing-masing masker dapat mencegah sekitar 95% dan 99% partikel kecil dalam udara yang masuk ke mulut atau hidung seseorang.
Perbedaan lainnya antara masker bedah dan masker respirator, yaitu terletak pada jenis penyakit atau virus yang dapat dicegah penularannya. Secara umum, masker respirator dapat melindungi diri dari berbagai macam jenis patogen. Dokter Irfan Hafiz dari Northwestern mengatakan, masker bedah melindungi penggunanya dari penyakit yang penyebarannya melalui lendir, seperti influenza dan infeksi pernapasan umum lainnya. Masker respirator N-95 dan N-99 dapat melindungi dari penyakit yang dapat disebarkan melalui udara, seperti campak, cacar air, dan TBC.
Kesimpulannya, bisa dikatakan bahwa dibanding masker bedah, masker respirator memiliki tingkat perlindungan yang lebih tinggi. Meskipun begitu, tidak semua orang wajib memakai masker respirator. Masker respirator bisa digunakan jika pasien mengalami penyakit yang cukup parah.
Kapan Masker Bedah dan Respirator Digunakan?
Masker bedah dapat digunakan sehari-hari, jika Anda sedang sakit atau berada di tempat dengan banyak orang dan tempat tersebut memiliki risiko tinggi terhadap penyebaran virus. Meskipun dapat dipakai sehari-hari sebagai pelindung terhadap penyebaran virus, sebaiknya Anda juga tidak terlalu sering menggunakannya.
Menggunakan masker bedah di tempat yang bersih dan tidak berisiko virus akan percuma. Ini juga akan merugikan banyak orang yang membutuhkan masker di tempat lain. Selain itu, menggunakan masker bedah di waktu yang kurang tepat hanya akan membuat pemborosan, mengingat masker bedah hanya bisa dipakai dalam sekali waktu.
Sementara itu, masker respirator tidak bisa digunakan sehari-hari. Masker ini hanya dapat dipakai oleh orang yang memiliki penyakit kronis dan dapat menular lewat udara. Selain itu, masker respirator sangat penting digunakan jika ada wabah virus berbahaya yang menyebar, seperti virus COVID-19. Masker tersebut bisa dipakai di area atau di titik utama penyebaran virus.



Leave a comment