Penyebab dan Cara Mencegah KDRT

Ilustrasi: peristiwa KDRT (sumber: bridgemi.com) Ilustrasi: peristiwa KDRT (sumber: bridgemi.com)

Angka kasus KDRT makin hari makin tinggi, apalagi di saat orang lebih memilih sibuk dengan urusannya sendiri. Banyaknya orang yang kurang peduli dengan korban KDRT dan penyebab lainnya, membuat jumlah pelaku kasus kekerasan dalam rumah tangga semakin meningkat. Apalagi kebanyakan korbannya adalah wanita yang lemah. Lalu, bagaimana cara mencegahnya?

Kekerasan dalam rumah tangga atau KDRT menurut Undang-Undang PKDRT No. 23 Tahun 2004 adalah setiap perbuatan terhadap seseorang, terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga, termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.

Data tahunan Indonesia dari Komnas Perlindungan Perempuan mencatat bahwa tindak kekerasan pada perempuan, terutama kekerasan di ranah domestik, mengalami peningkatan setiap tahunnya.[1] Penyebab KDRT sendiri sangat beragam dan cenderung melibatkan pihak laki-laki.

Penyebab KDRT

Dilansir dari Harvard Health Publishing, KDRT dapat terjadi karena kebiasaan seorang wanita yang selalu di rumah. Bagi ibu rumah tangga yang kurang bergaul dan hanya bisa di rumah, membuat pelaku KDRT mudah untuk mengancam mereka. Selain itu, jika para wanita hanya berdiam di rumah, mereka akan kesulitan mencari pertolongan saat menjadi korban KDRT.

Baca juga:  HADIRKAN RANGKAIAN PERAWATAN KULIT WAJAH, BERAPA HARGA PRODUK TULL JYE?
Ilustrasi: korban KDRT

Ilustrasi: korban KDRT6

Kebanyakan suami yang melakukan KDRT biasanya tidak memperbolehkan istrinya untuk keluar rumah. Ini menjadi masalah yang pelik bagi warga sekitar serta pihak keamanan untuk memberi pertolongan, Selain itu, biasanya korban KDRT akan diancam dan dibungkam mulutnya agar tidak berbicara pada publik.

Penyebab lainnya yaitu sifat pasangan yang temperamental. Terkadang orang menjadi sulit mengontrol emosinya saat usia pernikahan masih baru. Mereka akan disibukkan dengan berbagai macam permasalahan rumah tangga, belum lagi jika mereka diharuskan memiliki momongan secepatnya.

Bagi pasangan muda yang belum siap menerima konsekuensi dari pernikahan, membuat mereka bingung menghadapi semuanya. Sehingga, kebanyakan akan lebih suka melampiaskannya ke pasangannya sendiri. Untuk kasus ringan, biasanya mereka akan cekcok, namun untuk masalah berat, akan terjadi KDRT.

Kebanyakan pasangan muda yang baru menikah dan kurang persiapan, biasanya juga mengalami depresi, apalagi bagi wanita. Tak jarang, wanita yang depresi juga bisa menyakiti suaminya sendiri. Ini pun termasuk bagian dari KDRT yang perlu diselesaikan. Selain itu, depresi pada pasangan dapat berisiko pada perceraian.

Baca juga:  Berapa Lama Depresi Post Partum Berlangsung?

Dari sekian banyak penyebab KDRT, yang paling utama adalah masalah finansial. Kebanyakan orang menjadikan uang sebagai sumber kebahagiaan, apalagi setelah menikah. Namun, tidak semua orang memiliki kondisi perekonomian yang bagus setelah menikah. Tak jarang para istri akan menuntut suaminya. Ini membuat para suami pusing, apalagi jika istrinya selalu berbicara kasar dengan nada tinggi.

Kemarahan seperti inilah yang membuat pria menjadi kasar dan memilih untuk membungkam mulut istri mereka dengan pukulan atau tamparan. KDRT karena finansial juga salah satu permasalahan yang paling sulit dihadapi. Kebanyakan keluarga dengan KDRT akibat permasalahan ekonomi cenderung berakhir dengan perceraian.

Cara Mencegah KDRT

Ilustrasi: cara cegah KDRT (sumber: nbcnews.com)

Ilustrasi: cara cegah KDRT (sumber: nbcnews.com)

Tidak mudah mencegah KDRT, apalagi jika kondisi keluarga sedang tidak nyaman. Untuk itu, Anda perlu mengembalikan kondisi rumah tangga agar lebih hangat. Jika Anda memiliki masalah dengan suami atau anak, Anda bisa mendiskusikannya secara transparan dengan mereka. Ajak mereka untuk berbicara empat mata dengan nada yang halus dan dengan-kata-kata yang sederhana. Ini akan membantu mencairkan suasana yang semula dingin dan tidak enak, menjadi lebih nyaman.

Baca juga:  Alasan Orang Jepang Menikah Tanpa Seks dan Suka Melajang

Selain itu, ajarkan anak-anak serta pasangan Anda untuk saling peduli satu sama lain. Tingkatkan rasa empati dan simpati setiap orang dalam keluarga. Sehingga, rasa sayang antara sesama akan semakin meningkat dan mereka tidak akan memiliki niat untuk mencelakai atau menyakiti satu sama lain.

Setiap keluarga yang saling peduli biasanya memiliki risiko KDRT rendah dibanding keluarga yang dingin dan tidak terlalu peduli. Anda bisa menanamkan rasa simpati dan empati dengan melakukan hal-hal kecil, seperti membantu anak merapikan tempat tidurnya, membantu suami atau istri bersih-bersih rumah, dan masih banyak lagi.

Jika KDRT sudah terlanjur terjadi di rumah tangga Anda, yang harus Anda lakukan adalah berusaha kabur sebisa mungkin. Jangan sungkan atau malu untuk meminta pertolongan saudara, tetangga, bahkan pihak yang berwajib. Semua yang Anda lakukan adalah demi kebaikan Anda dan rumah tangga Anda.

[1] Ramadani, Mery & Fitri Yuliani. 2015. Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) Sebagai Salah Satu Isu Kesehatan Masyarakat Secara Global. Jurnal Kesehatan Masyarakat Andalas, Vol. 9(2): 80-87.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*