Neurodiversity, Istilah untuk Menghormati Pengidap ADHD dan ASD

Ilustrasi: pasien ADHD (sumber: medicalnewstoday) Ilustrasi: pasien ADHD (sumber: medicalnewstoday)

Mungkin istilah Neurodiversity atau Neurodiversitas terdengar baru di telinga Anda. Istilah ini digunakan untuk menghormati para penyandang disabilitas, khususnya bagi mereka yang menderita autisme dan ADHD. Neurodiversity menggambarkan gagasan bahwa orang dengan gangguan spektrum autism (ASD) dan Attention-deficit hyperactivity (ADHD) termasuk keberagaman manusia.

Neurodiversity untuk Menghormati Pengidap ADHD dan ASD

Dilansir dari Harvard Health Publishing, kata neurodiversity mengacu pada keragaman semua orang, tetapi sering digunakan dalam konteks ASD, serta kondisi neurologis atau perkembangan lainnya seperti ADHD atau ketidakmampuan belajar. Bisa disebut sebagai beragam, karena dalam konteksnya, tidak ada satu cara berpikir, belajar, dan berperilaku yang benar, dan perbedaan tidak dipandang sebagai kekurangan.

Masih dari sumber yang sama, gerakan neurodiversity pertama kali muncul pada tahun 1990-an, bertujuan untuk meningkatkan penerimaan dan inklusi semua orang sambil merangkul perbedaan neurologis. Melalui platform online, semakin banyak orang autis yang dapat terhubung dan membentuk gerakan advokasi diri. Pada saat yang sama, Judy Singer, seorang sosiolog Australia, menciptakan istilah neurodiversity untuk mempromosikan kesetaraan dan inklusi minoritas neurologis.

Pendukung neurodiversity mendorong bahasa yang inklusif dan tidak menghakimi. Sementara banyak organisasi advokasi disabilitas lebih memilih bahasa orang pertama (seseorang dengan autisme/seseorang dengan down syndrome), beberapa penelitian telah menemukan bahwa mayoritas komunitas autis lebih memilih bahasa identitas-pertama (orang autis).

Baca juga:  PRP Treatment, Terapi Darah untuk Atasi Kebotakan

Daripada membuat asumsi, yang terbaik adalah bertanya langsung tentang bahasa yang disukai seseorang, dan bagaimana mereka ingin disapa. Pengetahuan tentang keragaman saraf dan bahasa yang sopan juga penting bagi dokter, sehingga mereka dapat menangani kesehatan mental dan fisik orang-orang dengan perbedaan perkembangan saraf.

Sementara setiap pengidap ADHD dan ASD memiliki panggilan nyamannya sendiri, dalam menangani pasien seperti ini dokter, juga perlu mengetahui karakteristik serta gejala yang diidap pasien. Khusus untuk ASD, ditemukan orang-orang dengan gangguan mental tersebut terlihat seperti orang normal, sehingga cukup sulit untuk mendiagnosisnya.

Neurodiversity dan ASD

Ilustrasi: anak ASD (sumber: raisingchildren.net)

Ilustrasi: anak ASD (sumber: raisingchildren.net)

ASD merupakan gangguan perkembangan yang kompleks, dan gejalanya sudah mulai tampak pada anak usia di bawah tiga tahun.[1] ASD dikaitkan dengan perbedaan dalam komunikasi, pembelajaran, dan perilaku, meskipun dapat terlihat berbeda dari orang ke orang. Orang dengan ASD mungkin memiliki berbagai kekuatan, kemampuan, kebutuhan, dan tantangan. Misalnya, beberapa orang autis mampu berkomunikasi secara verbal, memiliki IQ normal atau di atas rata-rata, dan hidup mandiri.

Baca juga:  5 Manfaat Lidah Buaya untuk Bibir yang Sehat dan Cantik

Sementara itu, pengidap ASD lain mungkin kesulitan dalam berkomunikasi untuk mengungkapkan perasaannya. Jika ini dibiarkan dan tidak dicari solusinya, bisa memengaruhi keselamatan dan kesejahteraan hidupnya. Beberapa dari mereka bahkan tak jarang merusak barang, marah-marah tidak jelas, dan meracau sembarangan.

Gejala ASD yang dirasa tidak biasa, seperti berteriak dan merusak barang-barang, membuat pengidapnya dikucilkan masyarakat. Tak hanya itu, beberapa perilaku yang tidak sesuai dengan standar manusia normal juga membuat pengidap ASD dipandang sebagai orang dengan penyakit kronis dan dilecehkan.

Pasien ASD yang terlihat baik-baik saja maupun dengan gejala serius, tidak bisa dibiarkan begitu saja dan mereka sangat membutuhkan dukungan moral. Sementara ada banyak para pejuang ASD, tidak semua orang bisa menerima mereka dan untuk itulah istilah neurodiversity muncul dengan banyak lembaga sosial lain yang bergerak di bidangnya. Lembaga-lembaga neurodiversity ini umumnya memiliki misi yang sama, yakni membuat pandangan orang terhadap penyandang ASD dan ADHD menjadi lebih positif.

Dengan pandangan masyarakat yang lebih positif kepada pengidap ASD maupun ADHD, diharapkan bisa mengembalikan rasa eksis pasien tersebut dalam bersosialisasi, sehingga mereka bisa memiliki koneksi yang baik untuk kesembuhannya. Beberapa dokter mengungkapkan, banyak pasien ADHD maupun ASD yang telantar karena malu untuk berkunjung ke psikiater. Mereka tidak ingin dikucilkan jika ketahuan mengidap gejala gangguan mental tersebut.

Baca juga:  Diet Keto & Manfaatnya Bagi Kesehatan

Tak hanya itu, neurodiversity juga akan membuat lingkungan menjadi lebih baik. Mungkin, akan banyak orang yang bisa menerima pengidap ADHD dan ASD serta membantu mereka dalam berkomunikasi dan berperilaku dengan baik. Sudah banyak layanan pendidikan, sosial, dan medis yang mulai bergerak aktif dalam menangani pasien ADHD dan ASD.

Meskipun sudah banyak orang yang terbuka dengan gagasan neurodiversity, masih ada saja orang yang belum memahami konteksnya, khususnya bagi orang tua dari anak ASD. Beberapa orang tua masih menganggap ASD sebagai gangguan yang harus dicegah dan disembuhkan tanpa memperhatikan apa yang dirasakan anak mereka.

[1] Hapsari, Rani Dwi, Asri Mutiara Putri, Dita Fitriani. 2019. Hubungan antara Dukungan Sosial dengan Tingkat Stres Orang Tua dengan Anak Penderita Autisme. Psyche: Jurnal Psikologi Universitas Muhammadiyah Lampung, Vol. 1(2): 74-86.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*