Punya Banyak Kegunaan, Minyak Samin Terbuat dari Apa?
Minyak samin atau yang juga dikenal dengan sebutan ghee, hampir bisa ditemukan di setiap masakan khas Timur Tengah. Penggunaan minyak samin dalam aneka masakan diyakini dapat membuat masakan terasa lebih gurih dan tentunya lezat. Lantas, sebenarnya minyak samin terbuat dari apa?
Minyak samin adalah minyak yang dihasilkan dari lemak hewani, seperti domba, sapi, dan unta. Konon minyak samin terbaik adalah yang terbuat dari lemak punuk unta. Minyak samin biasa digunakan dalam masakan khas Asia Selatan dan Timur Tengah. Di pasaran, minyak samin yang terkenal adalah minyak samin cap Onta. Relatif mudah didapatkan, termasuk di pasar tradisional.[1]
Dilansir dari Wikipedia, di India sana, minyak samin dibedakan dengan sebutan ghee dan vanaspati(margarin). Sementara itu, di Indonesia ghee dan vanaspati disamakan dengan sebutan minyak samin saja, walaupun sebenarnya ghee dan vanaspati berbeda. Minyak samin terdiri dari 2 jenis, yaitu minyak samin hewani atau ghee dan minyak samin nabati atau margarin.
Minyak samin dipakai sebagai minyak goreng dalam berbagai resep masakan Asia Selatan (India dan masakan Pakistan), masakan Asia Tenggara, dan masakan Timur Tengah. Di Saudi Arabia minyak samin yang umum digunakan adalah minyak samin hewani. Perbedaan minyak samin nabati dan hewani terletak pada aroma. Minyak samin nabati sebenarnya adalah margarin, dan bukan minyak samin, sedangkan minyak samin tradisional adalah minyak samin hewani yang memiliki aroma gurih seperti halnya mentega(butter).
Di jazirah Arab jenis minyak samin hewani merupakan yang paling umum dipergunakan untuk memasak. Sedangkan di Indonesia, minyak samin juga banyak dipakai untuk membuat aneka hidangan seperti martabak asin, nasi kebuli, sop kambing, martabak India, hingga hidangansotoBetawi.
Minyak samin hewani yang asli dibuat dari lemak yang dimasak dalam panci dengan api kecil sampai semua kandungan airnya menguap dan protein mengendap. Bagian yang cair dan jernih perlahan diambil dengan menyisakan bekuan protein susu di bagian dasar. Berbeda dari mentega, minyak samin lebih tahan lama disimpan tanpa harus dimasukkan dalam kulkas atau lemari es. Asalkan, minyak samin dimasukkan ke wadah atau kemasan kedap udara supaya terbebas dari uap air dan mencegah oksidasi.
Minyak samin disebut-sebut mengandung sejumlah nutrisi penting seperti vitamin A, vitamin C, vitamin D, vitamin E, vitamin K, omega-3, asam lemak esensial seperti asam butyric dan asam linoleic.Agar lebih jelas, ini informasi lengkap mengenai kandungan nutrisi dalam setiap satu sendok teh minyak samin, seperti dilansir dari WebMD.
Kandungan Nutrisi Minyak Samin
- Kalori: 42
- Protein: 0 gram
- Lemak: 5 gram
- Karbohidrat: 0 gram
- Serat: 0 gram
- Gula: 0 gram
Mengonsumsi minyak samin pun kabarnya memberikan manfaat yang baik untuk kesehatan. Berikut informasi lengkapnya.
Manfaat Minyak Samin
- Vitamin Otak. Menurut ahli gizi NehaChandna, minyak samin baik untuk saraf dan otak karena mengandung kadar asam lemak omega 6 tinggi dan asam lemak omega 3. Minyak samin juga disebut-sebut dapat menurunkan risiko demensia dan Alzheimer. Mengonsumsi minyak samin secara rutin juga diklaim dapat membantu memperbaiki fungsi otak.
- Mencegah risiko kanker. Walau mengandung lemak jenuh, saat dipanaskan rupanya minyak samin diklaim menghasilkan antioksidan yang dapat mencegah risiko kanker.
- Membantu pencernaan. Beberapa ahli gizi mengatakan jika makanan tertentu yang ditambahkan dengan minyak samin dapat membantu proses pencernaan lebih baik.
- Mengurangi obesitas. Minyak samin merupakan sumber penting asam linoleat terkonjugasi atau CLA. Studi menunjukkan bahwa CLA bisa membantu memerangi obesitas.
- Pelembap alami. Minyak samin rupanya dapat dimanfaatkan sebagai pelembab alami untuk mengatasi bibir pecah-pecah. Caranya dapat langsung dioleskan ke bibir sebelum tidur dan penggunaannya bisa dilakukan secara berulang.
Meskipun diklaim memiliki berbagai khasiat, konsumsi minyak samin tetap saja tak boleh berlebihan apalagi jika Anda termasuk penderita penyakit jantung, kolesterol, darah tinggi, diabetes, dan sebagainya.
[1] Tim Dapur Esensi. 2008. Camilan Era Kolonial. Jakarta: Penerbit ErlanggaMahameru, hlm 9.


Leave a comment