Bisa Bikin Gatal di Dubur, Begini Cara Menghilangkan Cacing Kremi pada Anak
Cacing kremi (azyuriasis) berukuran kecil, sekitar 0,625 mm. Umumnya cacing ini menyerang anak-anak, tetapi orang dewasa pun bisa terjangkit. Telur-telur cacing ini menyebabkan rasa gatal di sekitar poros usus (dubur).[1] Untuk menghilangkan cacing kremi pada anak, bisa dilakukan dengan beberapa cara.
Berbeda dengan jenis cacing lainnya, cacing kremi ditularkan di lingkungan rumah. Kalau ada satu anggota keluarga yang mengidap cacing kremi, umumnya semua anggota keluarga ikut tertular. Cacing kremi bertelur pada malam hari saat penderita tertidur. Mereka bertelur di sekitarliang dubur dan menimbulkan rasa gatal.
Garukan pada liang dubur akan menggugurkan telur cacing dari tempat melekatnya dan membuatnya berserakan di area sekitar. Telur yang berserakan ini jika terpegang akan mencemari jemari tangan orang yang bersangkutan. Bila anak tidak membasuh tangan sebelum memegang makanan atau jika anak dibiarkan memiliki kebiasaan menggigiti kuku jemari tangan, maka cacing kremiakan menjangkiti seluruh anggota keluarga.[2]
Dilansir dari SehatQ, telur cacing kremi dapat ditemukan di tangan dan permukaan yang terkontaminasi, misalnya seprai, handuk, pakaian, perlengkapan mandi, mainan, peralatan makan, makanan, atau kotak pasir. Setelah tertelan atau terhirup, telur kremi masuk ke sistem pencernaan dan menetas di usus kecil. Lalu, larva cacing kremi masuk ke usus besar yang menjadi tempat bagi mereka untuk hidup sebagai parasit.
Sekitar 1-2 bulan kemudian, cacing kremi betina dewasa keluar dari usus besar dan meletakkan ribuan telur di lipatan kulit yang mengelilingi anus sehingga memicu rasa gatal pada area itu. Ketika anak menggaruk area yang gatal, telur cacing kremi dapat berpindah ke jari tangan dan berada di bawah kuku. Cacing kremi bisa bertahan sampai 13 minggu di usus manusia. Siklus tersebut bisa terus terjadi dan mengakibatkan infeksi apabila tidak segera ditangani dengan baik. Setidaknya ada beberapa faktor yang menyebabkan anak mudah tertular cacing kremi.
Faktor Penyebab Anak Tertular Cacing Kremi
- Tidak menjaga kebersihan tubuh dengan baik.
- Kebiasaan menggigiti kuku atau mengisap jari.
- Tinggal di lingkungan yang kumuh padat penduduk.
- Tertular dari anggota keluarga yang terkena cacing kremi.
- Jarang mencuci tangan.
Anak yang sudah terlanjur kremian atau tertular cacing kremi biasanya akan menunjukkan beberapa gejala meski kadang ada juga yang tidak menimbulkan gejala. Berikut beberapa ciri anak terkena cacing kremi yang perlu Anda identifikasi dan waspadai.
Ciri &Gejala Cacing Kremi pada Anak
- Anak merasa gatal di sekitar anus.
- Gelisah ketika tidur, karena rasa gatal bertambah parah di malam hari.
- Mengalami ruam atau iritasi di sekitar anus karena digaruk terlalu kencang.
- Nyeri perut dan mual.
- Muncul cacing kremi di area anus atau feses.
- Mengalami diare.
- Bruxism (menggemeretakkan gigi secara tidak sadar).
- Nafsu makan berkurang dan berat badan turun.
- Mengompol atau sakit ketika buang air kecil.
Cara Mengobati & Menghilangkan Cacing Kremi
Untuk menyembuhkan penyakit cacing kremi yang selalu mengganggu dan menimbulkan rasa gatal pada dubur, Anda bisa mencoba cara tradisional dengan bahan alami maupun dengan obat-obatan. Untuk metode tradisional, caranya: dua sampai tiga siung bawang merah digiling atau diparut, ramuan itu tempelkan pada tempat yang gatal (dubur). Dalam waktu singkat, rasa gatal pada dubur akan hilang.Selain itu, sesiung bawang putih dan temu hitam sebesar ibu jari diparut. Setelah ditambah 2 sendok teh madu, peraslah dan saring. Berikan air ramuan ini 2 kali seminggu.[3]
Jika cara-cara tradisional masih kurang membantu, Anda juga bisa mengonsumsi obat cacing kremi yang dijual bebas atau dengan resep. Obat cacing kremi biasanya mengandung Pyrantelpamoate, Albendazole, atau Mebendazole.Namun, bila keluhan gatal masih terus berlanjut, sebaiknya Anda berkonsultasi dengan dokter karena dokter mungkin akan meresepkan obat oles untuk membantu menghilangkan gatal dan cacing kremi pada anak.
[1]Hariana, A. 2008. 812 Resep untuk Mengobati 236 Penyakit. Jakarta: Penebar Swadaya, hlm 64.
[2]Ardinasari, E. 2016. Buku Pintar Mencegah dan Mengobati Penyakit Bayi dan Anak. Muhamad I, editor. Jakarta: Bestari, hlm 88.
[3] GW, Riyanti. 2007. Muslimah Cerdas & Kreatif. Jakarta: QultumMedia, hlm 76.


Leave a comment