Tetap Cantik, Ini Tips Merawat Kulit Saat Perimenopause
Perimenopause adalah masa sebelum wanita mengalami menopause dan ditandai dengan awal terjadinya perubahan endokrin, biologis, serta gejala klinis awal.[1] Selain itu, masa ini ditandai dengan penurunan daya tahan kulit, khususnya kulit wajah. Sehingga, Anda disarankan untuk melakukan perawatan kulit secara khusus saat memasuki masa perimenopause.
Penyebab Gangguan Kulit Saat Perimenopause
Memasuki usia perimenopause, yakni 40 tahunan ke atas, beberapa wanita mulai merasakan perubahan pada kulitnya. Ada yang mengalami kekeringan, freckles, hingga jerawat yang sebelumnya tidak mereka rasakan di usia dewasa atau 20 tahunan. Hal ini terbilang wajar karena itu juga termasuk salah satu tanda atau gejala klinis perimenopause.
Dilansir dari HuffPost, seorang profesor dari Yale University bernama Mary Jane Minkin mengatakan, perubahan yang terjadi pada kulit saat menginjak masa perimenopause bisa disebabkan oleh beberapa faktor dan yang paling umum adalah hormon. Ada beberapa hormon yang mengalami penurunan dan ini bisa menyebabkan gejala klinis seperti jerawat dan flek hitam di kulit.
Minkin melanjutkan, selama siklus menstruasi atau sebelum wanita mengalami perimenopause, kadar hormon estrogen dan progesteron terbilang cukup bervariasi, apalagi jika Anda memiliki siklus menstruasi yang teratur. Kadar estrogen pada awal periode haid adalah 40 hingga 50 picogram per milliliter. Ini juga berlaku pada wanita hamil, karena selama masa ovulasi, ovarium juga akan membuat progesteron.
Sementara itu, saat perempuan menginjak usia perimenopause atau pasca-menopause, kadar estrogen turun menjadi kurang dari 20 picogram per milliliter dan tidak akan bertambah. Hal ini terjadi ketika ovarium berhenti membuat progesteron. Pada masa ini, juga diketahui bahwa kadar estrogen tidak mengalami kenaikan dan penurunan secara teratur, tetapi langsung menurun drastis. Inilah yang menyebabkan berbagai kekacauan di tubuh, termasuk emosi dan gangguan kulit.
Hormon lain yang ikut ambil bagian dalam permasalahan kulit selama perimenopause adalah testosteron. Minkin mengungkapkan, rata-rata ovarium berhenti membuat estrogen pada usia 51 tahun, sedangkan produksi hormon testosteron masih bisa berlanjut hingga usia 60 tahun. Sehingga, meskipun hormon estrogen berkurang, tidak dengan hormon testosteron yang terbentuk dengan kadar normal.
Seorang asisten profesor di NYU Langone Health bernama Laura Carinci mengatakan, ketika estrogen berkurang dan testosteron menjadi lebih menonjol, hal ini bisa menyebabkan pertumbuhan rambut yang tidak diinginkan. Diketahui, testosteron termasuk dalam kelompok androgen dengan sifat maskulin dan pada beberapa orang bisa menyebabkan gangguan folikel rambut pada kulit di area wajah, tangan, dan kaki.
Tingkat estrogen yang semakin berkurang juga bisa membuat kulit menjadi kekeringan. Ini karena estrogen adalah hormon yang berfungsi untuk menjaga kadar kolagen dalam kulit. Semakin sedikit estrogen yang ada, kerutan akan mulai muncul dan kulit menjadi kurang elastis.
Tips Merawat Kulit Saat Perimenopause
- Salah satu cara efektif untuk mengatasi permasalahan kulit saat perimenopause adalah menggunakan estrogen. Ada beberapa permasalahan kulit yang bisa diatasi dengan pemakaian hormon seperti ini, antara lain keriput, kekeringan, dan kurang elastisitas.
- Hal yang perlu diperhatikan untuk mengatasi flek hitam akibat perimenopause adalah mencari bahan pelindung kulit dari paparan sinar matahari. Anda bisa memakai sunblock yang mampu menghalangi UVA dan UVB dengan kandungan seng dan titanium oksida. Diketahui, paparan sinar matahari dapat memperparah gejala perimenopause, khususnya freckles.
- Jika Anda menemukan jerawat batu atau nanah pada permukaan kulit dan jerawat ini mudah meradang, bisa jadi ini adalah tanda-tanda perimenopause. Salah satu cara untuk mengatasi sekaligus merawatnya adalah dengan memakai tabir surya waterbase. Hindari sunscreen berbasis minyak nabati karena akan membuat kulit Anda menjadi kusam dan lebih rentan berjerawat.
- Pastikan semua skincare yang Anda pakai bersifat non-komedogenik, karena sangat membantu untuk menghilangkan komedo di kulit. Komedo adalah salah satu permasalahan kulit yang dapat menyebabkan jerawat semakin parah pada usia perimenopause. Biasanya, produk seperti ini mengandung asam salisilat atau benzoil peroksida.
- Bagi Anda yang mulai mengalami tanda-tanda penuaan, seperti munculnya guratan dan garis-garis halus di wajah, Anda bisa memakai serum wajah anti-aging. Selain itu, diketahui produk dengan kandungan turunan vitamin A seperti retinoid mampu membantu meningkatkan kadar kolagen kulit sehingga bisa meminimalkan gangguan kulit tersebut.
Lakukan cara di atas untuk mengatasi gangguan kulit yang Anda alami selama periode perimenopause. Gejala perubahan kulit tersebut diketahui akan berhenti ketika wanita sudah menginjak masa menopause.
[1] Marethiafani, Fajriana, Siti Moetmainnah P., Merry Tiyas A. 2013. Sindroma Perimenopause pada Akseptor Kontrasepsi Progesterone, Kombinasi, dan Non-hormonal. Jurnal Kedokteran Muhammadiyah Universitas Muhammadiyah Semarang, Vol. 1(2): 26-31.


Leave a comment